SATUMEDIA.ID – Kebakaran di Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) Jatiwaringin menjadi alarm bagi pengelolaan sampah di Indonesia yang dinilai masih menyisakan berbagai persoalan. Selain kapasitas TPA yang semakin terbatas, praktik open dumping, rendahnya pemanfaatan teknologi, hingga belum optimalnya pelaksanaan kebijakan menjadi tantangan yang perlu segera dibenahi.
Peneliti Ahli Utama Pusat Riset Teknologi Lingkungan dan Teknologi Bersih Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Wahyu Purwanta, mengatakan penanganan sampah tidak bisa mengandalkan satu jenis teknologi untuk seluruh wilayah. Menurut dia, setiap daerah memiliki karakteristik sampah dan kondisi yang berbeda sehingga membutuhkan pendekatan yang disesuaikan.
“Teknologi pengolahan sampah harus dipilih berdasarkan karakteristik sampah, besarnya timbulan, kondisi wilayah, kesiapan infrastruktur, peluang pemanfaatan hasil olahan, hingga kemampuan daerah dalam mengoperasikan dan membiayainya secara berkelanjutan. Jadi, keberhasilan tidak hanya ditentukan oleh teknologinya, tetapi juga kualitas pengelolaan dan sumber daya manusianya,” kata Wahyu dikutip dari siaran pers BRIN, Sabtu (11/7/2026).
Ia menjelaskan, sampah organik dapat diolah melalui pengomposan, biodigester, maupun anaerobic digestion. Sementara itu, sampah yang masih memiliki nilai ekonomi harus dipilah agar dapat dimanfaatkan kembali melalui proses daur ulang.
Untuk mengurangi risiko kebakaran di TPA, Wahyu menyebut fraksi sampah yang memiliki nilai kalor cukup tinggi dapat dimanfaatkan menjadi refuse-derived fuel (RDF) atau diolah menggunakan teknologi termal maupun waste-to-energy yang memenuhi standar teknis dan lingkungan. Dengan begitu, hanya residu yang benar-benar tidak dapat dimanfaatkan lagi yang dibuang ke TPA.
Selain pengolahan sampah, menurut Wahyu, sistem pencegahan kebakaran juga perlu diperkuat melalui pemanfaatan teknologi. Pemantauan suhu timbunan, kamera dan drone termal, sensor gas, pengelolaan gas landfill, hingga sistem peringatan dini berbasis data cuaca dinilai penting untuk mendeteksi potensi kebakaran lebih cepat.
“Setiap TPA memiliki potensi mengalami kebakaran. Karena itu, pengelola perlu memperkuat pemantauan kondisi timbunan, mengendalikan gas landfill, mendeteksi titik panas lebih dini, serta meningkatkan kewaspadaan selama musim kemarau,” ujarnya.
Wahyu menjelaskan, secara ilmiah kebakaran terjadi ketika terdapat tiga unsur, yakni bahan bakar, oksigen, dan sumber panas. Di TPA, bahan bakar tersedia dalam jumlah besar berupa plastik, kertas, tekstil, kayu, karet, hingga sampah organik yang mengering. Gas metana yang dihasilkan dari timbunan sampah juga dapat memperbesar potensi kebakaran.
Meski demikian, ia mengingatkan bahwa penyebab pasti suatu kebakaran tidak boleh disimpulkan sebelum investigasi selesai dilakukan.
“Pemicu kebakaran bisa berasal dari api terbuka, puntung rokok, pembakaran di sekitar lokasi, abu panas, maupun panas yang muncul dari dalam timbunan sampah. Namun, penyebab spesifik kebakaran, termasuk yang terjadi di TPA Jatiwaringin, harus menunggu hasil penyelidikan yang memadai,” katanya.
Menurut Wahyu, pengelolaan TPA yang lebih baik menjadi langkah utama untuk mencegah kebakaran. Hal itu dapat dilakukan melalui pembatasan area kerja aktif, pemadatan dan penutupan sampah secara berkala, pengelolaan gas landfill, serta pengawasan terhadap berbagai sumber api.
Ia menambahkan, pendekatan berbasis sains juga perlu diterapkan dengan memantau berbagai indikator, seperti suhu permukaan dan bawah permukaan, anomali panas, konsentrasi gas, kelembapan, jumlah hari tanpa hujan, serta arah dan kecepatan angin. Berbagai data tersebut dapat diintegrasikan menjadi sistem peringatan dini untuk mendeteksi titik panas sebelum berkembang menjadi kebakaran besar.
Di sisi lain, Wahyu menilai upaya pencegahan tidak akan efektif apabila jumlah sampah yang masuk ke TPA terus meningkat. Oleh sebab itu, pengurangan sampah sejak dari sumber melalui pemilahan, daur ulang, pengolahan sampah organik, dan pemanfaatan material yang masih bernilai harus menjadi prioritas.
“Dalam jangka panjang, TPA semestinya hanya menerima residu yang benar-benar tidak bisa dimanfaatkan lagi. Semakin sedikit sampah campuran yang ditimbun, semakin kecil pula risiko kebakaran dan dampak lingkungan yang ditimbulkan,” pungkasnya.*





