Setahun Rusak dan Rawan Roboh, 120 Siswa SDN Girimukti Bandung Barat Terpaksa Belajar Bergiliran

Satu ruangan kelas SDN Girimukti di Kampung Rajamandala, Desa Mandalamukti, Kecamatan Cikalongwetan, Kabupaten Bandung Barat rusak parah.(Istimewa).**

SATUMEDIA.ID – Di tengah semangat belajar, ratusan siswa SDN Girimukti di Kampung Rajamandala, Desa Mandalamukti, Kecamatan Cikalongwetan, Kabupaten Bandung Barat, justru harus menghadapi kenyataan pahit. Satu ruang kelas di sekolah itu rusak berat dan rawan roboh sehingga tidak lagi digunakan untuk kegiatan belajar mengajar.

Akibatnya, sebanyak 120 siswa terpaksa belajar secara bergiliran karena jumlah ruang kelas yang tersedia tidak mencukupi.

Kerusakan ruang kelas tersebut sebenarnya sudah berlangsung cukup lama. Namun hingga kini belum ada perbaikan dari Dinas Pendidikan Kabupaten Bandung Barat. Dari total enam ruang kelas, satu ruang mengalami kerusakan berat dengan sebagian bangunan sudah roboh. Sementara lima ruang lainnya juga mengalami kerusakan, mulai dari plafon berlubang, dinding retak, hingga lantai yang mulai rusak.

Fasilitas sekolah yang masih relatif layak hanya ruang guru dan perpustakaan. Sementara halaman sekolah masih berupa tanah merah yang berdebu saat kemarau dan berubah becek ketika hujan turun.

Persoalan tak berhenti di ruang belajar. Seluruh empat unit toilet (MCK) siswa juga rusak dan tidak dapat digunakan. Akibatnya, siswa yang ingin ke toilet harus menahan diri atau berjalan ke MCK umum di masjid maupun pesantren yang berada di luar lingkungan sekolah. Hanya tersisa satu toilet untuk digunakan 11 guru dan tenaga kependidikan, itupun kondisinya mulai mengalami kerusakan.

Pihak sekolah mengaku telah berulang kali mengajukan proposal rehabilitasi kepada pemerintah daerah. Puluhan proposal telah dikirim, namun belum membuahkan hasil. Perbaikan terakhir dilakukan pada 2018 dan kini ruang yang saat itu direhabilitasi kembali mengalami kerusakan.

Harapan sempat muncul pada 2026 ketika SDN Girimukti masuk dalam daftar calon penerima bantuan rehabilitasi. Namun pada akhirnya sekolah tersebut tidak memperoleh alokasi anggaran, sementara dua sekolah lain tetap mendapat bantuan.

Kondisi ini membuat pihak sekolah dan orang tua siswa semakin khawatir. Selain mengganggu proses belajar mengajar, ruang kelas yang rusak berat berada berdampingan dengan dua ruang kelas lain sehingga dikhawatirkan robohnya bangunan dapat membahayakan keselamatan siswa.

Anggota Komite SDN Girimukti, Sukma Mulyana, mengatakan kondisi ruang kelas yang rusak berat telah berlangsung lebih dari satu tahun.

“Keterbatasan ruang belajar membuat pelaksanaan Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) tidak berjalan optimal karena siswa harus mengikuti kegiatan belajar secara bergiliran,” kata Sukma, Jumat (24/7/2026).

Ia menjelaskan, ruang kelas yang rusak sebelumnya digunakan oleh siswa kelas I dan II. Kini para siswa terpaksa dipindahkan ke ruang lain dengan sistem bergantian. Meskipun kegiatan belajar tidak berlangsung hingga sore hari, proses pembelajaran dinilai tetap tidak maksimal.

Sebagai perwakilan orang tua siswa, Sukma berharap Pemkab Bandung Barat melalui Dinas Pendidikan segera merealisasikan rehabilitasi ruang kelas agar siswa dapat belajar dengan aman dan nyaman.

“Saya hanya bisa mengingatkan agar perbaikan tidak menunggu hingga terjadi insiden yang membahayakan keselamatan warga sekolah,” pungkasnya.*

 

 

Pos terkait