Orbit Bumi Kian Sesak, BRIN Minta Indonesia Ubah Paradigma Pengelolaan Antariksa

Meningkatnya jumlah satelit di orbit rendah Bumi (Low Earth Orbit/LEO) memunculkan tantangan baru bagi keberlanjutan aktivitas antariksa global.(Ilustrasi AI).**

SATUMEDIA.ID – Meningkatnya jumlah satelit di orbit rendah Bumi (Low Earth Orbit/LEO) memunculkan tantangan baru bagi keberlanjutan aktivitas antariksa global. Kondisi tersebut dinilai perlu menjadi perhatian Indonesia, terutama saat pemerintah mulai menyiapkan pembangunan bandar antariksa (spaceport) sebagai bagian dari penguatan industri keantariksaan nasional.

Peneliti Pusat Riset Teknologi Satelit BRIN, Ery Fitrianingsih, mengatakan kepadatan orbit LEO telah berkembang menjadi tantangan nyata yang membutuhkan langkah antisipatif dari seluruh negara, termasuk Indonesia.

Menurut dia, pengelolaan ruang angkasa ke depan tidak lagi cukup hanya mengandalkan kemajuan teknologi satelit, tetapi juga memerlukan perubahan cara pandang dalam aspek desain, regulasi, hingga operasional.

“Kolokium ini bertujuan membangun kesadaran bersama mengenai tantangan kepadatan orbit LEO di masa depan. Seluruh pemangku kepentingan perlu melakukan perubahan paradigma agar aktivitas antariksa tetap aman dan berkelanjutan,” ujar Ery dikutip dari laman BRIN, Selasa (4/8/2026).

Ia menjelaskan, forum tersebut akan membahas berbagai isu strategis, mulai dari penguatan Space Situational Awareness (SSA), pemantauan objek antariksa, pengembangan satelit yang lebih ramah lingkungan, hingga teknologi mitigasi sampah antariksa dan proses deorbit satelit yang aman.

Selain itu, operator satelit juga didorong meningkatkan kepatuhan terhadap standar keselamatan melalui keterbukaan data lintasan satelit secara real time, penerapan manuver penghindaran tabrakan, serta perencanaan akhir masa operasi satelit yang lebih baik.

Ery menambahkan, hasil diskusi diharapkan dapat menjadi masukan bagi pengembangan riset dan kurikulum keantariksaan di perguruan tinggi, sekaligus memperkuat penyusunan regulasi nasional yang selaras dengan tata kelola antariksa internasional.

Kepala Pusat Riset Teknologi Satelit BRIN, Wahyudi Hasbi, menilai pembangunan spaceport nasional harus diiringi komitmen menjaga keberlanjutan ruang angkasa. Menurut dia, orbit LEO merupakan sumber daya yang terbatas sehingga pemanfaatannya harus dilakukan secara bertanggung jawab.

“Jika Indonesia ingin menjadi salah satu pemain dalam industri antariksa global melalui pembangunan spaceport, maka kita juga harus ikut menjaga keberlanjutan orbit Bumi rendah sebagai ruang bersama,” kata Wahyudi.

Sementara itu, Kepala Organisasi Riset Penerbangan dan Antariksa BRIN, Robertus Heru Triharjanto, mengatakan kolokium tersebut diharapkan menjadi momentum memperkuat kolaborasi nasional dalam menghadapi tantangan pengelolaan antariksa.

Ia menegaskan BRIN akan terus memperkuat kemampuan pemantauan objek antariksa sekaligus berperan aktif dalam forum internasional yang membahas tata kelola ruang angkasa berkelanjutan.

“Kolokium ini menjadi langkah awal untuk menyatukan visi seluruh pemangku kepentingan sebelum Indonesia memasuki era pengoperasian spaceport dan pengembangan industri antariksa yang lebih maju,” ujar Robertus.*

Pos terkait