SATUMEDIA.ID – Menteri Komunikasi dan Digital (Menkomdigi) Meutya Hafid meminta masyarakat tidak mudah percaya dan menyebarkan video aksi demonstrasi yang beredar di media sosial menjelang peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-81 Kemerdekaan RI.
Meutya mengatakan, sejumlah video yang kembali ramai di media sosial ternyata merupakan rekaman lama yang diunggah ulang tanpa mencantumkan waktu dan konteks kejadian.
Ada pula video yang telah diedit atau berasal dari peristiwa di luar negeri, tetapi kemudian diberi narasi seolah-olah terjadi di Indonesia.
“Teman-teman harus melihat videonya. Ada yang betul-betul hoaks karena kejadiannya tidak pernah ada. Ada yang menggunakan gambar lama dengan konteks yang berbeda. Ada pula yang menggabungkan kejadian di negara lain seolah-olah terjadi di Indonesia,” kata Meutya dikutip dari laman Komdigi Jakarta Pusat, Minggu (9/8/2026).
Menurut dia, konten semacam itu dapat membentuk persepsi yang keliru di tengah masyarakat. Terlebih, unggahan tersebut kerap disertai narasi yang seolah-olah menunjukkan adanya aksi demonstrasi besar yang tidak diberitakan media massa.
Bahkan, terdapat klaim bahwa sejumlah konten mengenai demonstrasi sengaja dihapus agar peristiwa tersebut tidak diketahui publik.
Meutya menilai pola penyebaran hoaks di media sosial kini semakin beragam. Informasi palsu tidak selalu dibuat dari awal, tetapi dapat memanfaatkan materi lama yang diberi konteks baru untuk mengubah persepsi masyarakat.
Karena itu, dia meminta masyarakat melakukan pengecekan sebelum mempercayai maupun membagikan informasi yang beredar di media sosial.
Meutya juga meminta media massa memperkuat perannya dalam menyajikan informasi yang akurat, berimbang, dan cepat.
Menurut dia, kecepatan media dalam menyampaikan fakta menjadi salah satu cara untuk mempersempit ruang bagi disinformasi.
“Teman-teman media silakan meliput dan memberitakan yang benar dengan cepat agar tidak memberi ruang kepada disinformasi yang masuk,” ujarnya.
Dia menilai kerja jurnalistik yang mengedepankan verifikasi dan akurasi sangat penting dalam menjaga kualitas informasi publik.
Pemberitaan yang cepat dan tepat, kata Meutya, dapat membantu masyarakat memperoleh informasi berdasarkan fakta sehingga tidak mudah terpengaruh oleh narasi yang sengaja dibuat untuk menimbulkan ketakutan.
“Informasi yang benar adalah tanggung jawab bersama. Media memiliki peran penting untuk memastikan masyarakat mendapatkan fakta, bukan informasi yang sengaja dibuat untuk menimbulkan ketakutan,” kata dia.
Meutya mengingatkan, penyebaran hoaks bukan sekadar persoalan konten di ruang digital. Informasi palsu dapat memengaruhi keputusan dan aktivitas masyarakat dalam kehidupan sehari-hari.
Menurut dia, narasi yang menggambarkan kondisi seolah-olah lebih buruk dari kenyataan dapat membuat masyarakat takut beraktivitas, bekerja, atau bepergian.
“Penyebaran informasi palsu bukan hanya persoalan konten digital. Karena informasi hoaks itu berdampak pada keputusan orang per orang dari hari ke hari. Ada yang jadi takut keluar, ada yang khawatir ketika bekerja,” ujar Meutya.
Dia menilai penyebaran informasi palsu dengan cara tersebut tidak hanya menimbulkan keresahan, tetapi juga dapat mencederai nilai demokrasi dan semangat nasionalisme, terutama menjelang peringatan HUT Kemerdekaan RI.
Untuk itu, Meutya mengajak masyarakat, media, dan seluruh pihak bersama-sama menjaga ruang digital agar tetap sehat.
Dia meminta setiap informasi yang diterima diperiksa terlebih dahulu sebelum disebarluaskan, terutama konten yang tidak mencantumkan waktu, lokasi, dan konteks peristiwa secara jelas.
“Maka saya mengimbau, jangan menyebarkan informasi palsu dengan tujuan membuat ketakutan di tengah masyarakat menggunakan data yang tidak benar,” tegas Meutya.*





