SATUMEDIA.ID – Pemerintah Kota Bandung menyiapkan fasilitas pengolahan sampah berkapasitas hingga 300 ton per hari di kawasan Gedebage.
Fasilitas tersebut dikembangkan bersama Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek) serta Badan Pengelola Investasi (BPI) Danantara.
Kerja sama pengembangan fasilitas pengolahan sampah itu ditandai dengan penandatanganan kesepakatan di Balai Kota Bandung, Jumat (21/8/2026).
Wali Kota Bandung Muhammad Farhan mengatakan, pembangunan fasilitas ini menjadi langkah Pemkot Bandung untuk mengurangi ketergantungan terhadap tempat pemrosesan akhir (TPA) milik Pemerintah Provinsi Jawa Barat.
“Kota Bandung itu satu-satunya ibu kota provinsi yang tidak punya TPA. Jadi kami sangat tergantung kepada TPA-TPA yang dibangun oleh provinsi, baik yang di Sarimukti maupun yang sekarang sedang dibangun di Legok Nangka,” ujar Farhan dikutip dari laman Humas Pemkot Bandung, Senin (24/8/2026).
Menurut Farhan, pembangunan TPA Legok Nangka masih membutuhkan waktu. Sementara itu, produksi sampah di Kota Bandung terus berlangsung sehingga diperlukan solusi pengolahan dari sekarang.
“Waktu itu Pak Gubernur memberikan pekerjaan rumah. Sambil menunggu tiga tahun Legok Nangka jadi, kalian bisa bikin apa? Nah, ini salah satu terobosan yang kami lakukan,” katanya.
Ditargetkan Beroperasi Awal 2027
Farhan mengatakan, kawasan Gedebage telah disurvei dan dinilai layak untuk menjadi lokasi fasilitas pengolahan sampah.
Pemkot Bandung menargetkan fasilitas tersebut dapat mulai beroperasi pada akhir 2026 atau awal 2027.
Sejumlah kebutuhan administrasi dan penganggaran juga akan segera disiapkan, termasuk finalisasi perubahan anggaran 2026 dan penyusunan Kebijakan Umum Anggaran (KUA) 2027.
Farhan berharap fasilitas tersebut dapat menjadi bagian dari solusi jangka panjang pengelolaan sampah di Kota Bandung.
Chief Technology Officer BPI Danantara Sigit Puji Santosa mengatakan, fasilitas di Gedebage akan menerapkan sistem pengolahan sampah secara terdesentralisasi.
Artinya, sampah tidak seluruhnya harus dikirim ke TPA, tetapi dapat diolah terlebih dahulu di wilayah masing-masing.
“Ini adalah solusi yang kita sebut desentralisasi. Artinya tidak perlu dibawa ke TPA, tempat penimbunan akhir, tapi kita selesaikan di regional masing-masing,” kata Sigit.
Salah satu hasil pengolahan sampah tersebut berupa Solid Recovered Fuel (SRF). Material ini memiliki nilai kalor tinggi sehingga dapat dimanfaatkan sebagai bahan bakar untuk kebutuhan industri, seperti refinery, pabrik, dan boiler.
Sigit menyebut, konsep tersebut diharapkan mampu mengurangi timbunan sampah sekaligus menghasilkan produk yang memiliki nilai ekonomi.
Teknologi yang digunakan juga akan memperhatikan dampak terhadap lingkungan dan masyarakat sekitar.
“Kita pastikan teknologi yang kita pilih adalah teknologi yang ter-contained dan ter-capture sehingga tidak ada bau yang mengganggu lingkungan sekitarnya,” ujar Sigit.
Untuk fasilitas berkapasitas 300 ton per hari, kebutuhan investasi diperkirakan mencapai Rp 50 miliar hingga Rp 60 miliar. Namun, angka tersebut masih dalam proses penghitungan finansial.
Sigit menyebut fasilitas Gedebage akan menjadi proyek percontohan. Jika berhasil, model tersebut dapat diperluas ke sejumlah sub wilayah kota (SWK) di Bandung dan daerah lainnya.
Perguruan Tinggi Ikut Kembangkan Teknologi
Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Brian Yuliarto mengatakan, perguruan tinggi turut dilibatkan untuk mengembangkan teknologi pengolahan sampah yang sesuai dengan kebutuhan daerah.
“Sesuai arahan Bapak Presiden, dari perguruan-perguruan tinggi melakukan berbagai kajian untuk mendukung percepatan penyelesaian sampah yang ada di berbagai wilayah Indonesia,” kata Brian.
Menurut Brian, pengolahan sampah organik dan nonorganik akan menggunakan pendekatan berbeda. Sampah organik dapat dimanfaatkan melalui pengolahan dengan maggot, sedangkan material tertentu dapat diolah menjadi SRF.
Kajian tersebut juga mempertimbangkan teknologi yang telah diterapkan di sejumlah negara, termasuk Turki.
Brian berharap proyek di Gedebage tidak berhenti sebagai proyek percontohan, tetapi dapat dikembangkan ke setiap SWK di Kota Bandung.
“Kalau ini bisa berhasil, kita berharap setiap SWK juga bisa dilakukan pembangunannya sehingga penyelesaian sampah di Kota Bandung ini harapannya bisa diselesaikan dan akan menjadi percontohan untuk daerah-daerah lain,” ujarnya.
Kolaborasi tersebut diharapkan dapat membentuk sistem pengelolaan sampah yang lebih dekat dengan sumber sampah, mengurangi beban TPA, sekaligus membuka peluang pemanfaatan sampah sebagai sumber energi.*





