SATUMEDIA.ID – Pemerintah mulai mempercepat peralihan dari energi fosil menuju energi terbarukan dengan meluncurkan Program Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) 100 gigawatt peak (GWp).
Pengembangan energi surya tersebut menjadi bagian dari strategi pemerintah untuk mengurangi ketergantungan terhadap bahan bakar fosil, terutama diesel dan gas, dalam memenuhi kebutuhan listrik nasional.
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia mengatakan Indonesia memiliki peluang besar untuk mengembangkan energi surya karena berada di wilayah tropis dengan paparan sinar matahari sepanjang tahun.
Karena itu, pemerintah ingin memanfaatkan potensi tersebut untuk meningkatkan porsi energi terbarukan sekaligus mengurangi penggunaan pembangkit berbahan bakar fosil.
“Indonesia memiliki potensi energi surya yang sangat besar. Kita juga sudah memiliki industri panel surya dan baterai penyimpanan listrik atau BESS di dalam negeri,” kata Bahlil dikutip dari laman Kementerian ESDM, Jumat (28/8/2026).
Menurut dia, keberadaan industri panel surya dan sistem penyimpanan energi di dalam negeri menjadi modal penting untuk membangun kemandirian energi.
“Melalui Program PLTS 100 GWp, kita ingin membangun ketahanan energi dengan kemampuan dan industri yang kita miliki sendiri,” ujarnya.
Peralihan menuju energi surya juga diperkirakan memberikan dampak langsung terhadap penggunaan bahan bakar diesel.
Pemerintah memperkirakan Program PLTS 100 GWp dapat menghemat penggunaan diesel hingga 6 juta kiloliter per tahun secara nasional. Khusus Bali, penghematannya diproyeksikan mencapai 500.000 kiloliter per tahun.
Dari sisi keuangan negara, pemanfaatan energi surya diperkirakan mampu menghasilkan penghematan APBN lebih dari Rp73 triliun per tahun. Penghematan tersebut berasal dari biaya listrik PLTS yang dinilai lebih rendah dibandingkan pembangkit diesel maupun gas.
PLTS Mulai Masuk Wilayah Kepulauan
Pada tahap awal, pemerintah meluncurkan 14 proyek PLTS yang tersebar di enam provinsi dengan total kapasitas sekitar 5,3 GWp.
Proyek tersebut antara lain PLTS Gilimanuk berkapasitas 300 MWp, PLTS Terapung Gajah Mungkur 134 MWp, PLTS Desa Sembur 0,92 MWp, dan PLTS Pulau Rengit 0,078 MWp.
Pengembangan PLTS tidak hanya diarahkan untuk menggantikan pembangkit fosil dalam skala besar, tetapi juga memenuhi kebutuhan listrik masyarakat di wilayah yang selama ini bergantung pada pembangkit diesel.
PLTS Desa Sembur di Kepulauan Riau, misalnya, dimanfaatkan untuk mendukung aktivitas ekonomi nelayan. Listrik dari PLTS digunakan untuk mengoperasikan fasilitas cold storage berkapasitas 5 ton dan mesin pembuat es berkapasitas 4 ton.
Sementara itu, PLTS Pulau Rengit di Bangka Belitung meningkatkan waktu ketersediaan listrik bagi masyarakat dari sekitar 12 jam menjadi 24 jam setiap hari.
Penggunaan energi surya di Pulau Rengit juga menurunkan Biaya Pokok Penyediaan (BPP) listrik sekitar Rp4.400 per kilowatt-hour (kWh), atau 26 persen lebih rendah.
Tak Hanya Ganti Fosil, Ciptakan Jutaan Lapangan Kerja
Pemerintah juga memperkirakan peralihan menuju energi surya akan memberikan dampak ekonomi yang besar.
Program PLTS 100 GWp diproyeksikan menciptakan 5,52 juta lapangan kerja secara akumulatif. Sekitar 3,5 juta lapangan kerja berasal dari industri panel surya dan sistem penyimpanan energi baterai atau BESS, sedangkan 2 juta lainnya berasal dari sektor konstruksi.
Dari sisi lingkungan, program tersebut diperkirakan mampu mengurangi emisi karbon hingga 140,16 juta ton CO2 per tahun.
Nilai ekonomi karbon yang berpotensi dihasilkan dari pengurangan emisi tersebut diperkirakan mencapai Rp6,31 triliun.
Dengan target 100 GWp dalam tiga tahun, pemerintah berharap energi surya dapat menjadi salah satu tulang punggung sistem kelistrikan nasional sekaligus mempercepat pengurangan ketergantungan Indonesia terhadap energi fosil.
Program tersebut tidak hanya mengejar tambahan kapasitas listrik, tetapi juga diarahkan untuk membangun ekosistem energi bersih dari hulu hingga hilir, memperkuat industri dalam negeri, serta memperluas akses listrik bagi masyarakat di berbagai wilayah Indonesia.*




