SATUMEDIA.ID – Badan Gizi Nasional (BGN) mencoret 1.653 satuan pendidikan dari daftar penerima Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di seluruh Indonesia.
Ribuan sekolah tersebut dikeluarkan dari daftar penerima karena dinilai sudah mampu membiayai kebutuhan pendidikannya secara mandiri. Sekolah yang dicoret antara lain merupakan satuan pendidikan bertaraf internasional dan tidak bergantung pada Bantuan Operasional Sekolah (BOS).
Kepala BGN Sudaryono mengatakan, pengurangan daftar penerima itu sekaligus menjadi bagian dari strategi memperluas sasaran MBG ke wilayah yang dinilai lebih membutuhkan.
“Kami memprioritaskan satuan pendidikan di wilayah 3T, termasuk daerah terdepan, terluar, dan tertinggal, serta daerah dengan angka stunting yang tinggi dan sangat tinggi,” ujar Sudaryono dikutip dari laman BGN Kamis (16/9/2026).
Menurut Sudaryono, masih terdapat ribuan sekolah yang belum mendapatkan layanan MBG, terutama di kawasan Indonesia timur.
Maluku dan Papua menjadi salah satu sasaran utama. Berdasarkan pendataan BGN, sekitar 15.000 satuan pendidikan di dua wilayah tersebut belum terlayani MBG.
“Di Maluku dan Papua saja ada sekitar 15.000 satuan pendidikan yang belum mendapatkan layanan. Wilayah seperti ini tentu menjadi prioritas,” katanya.
Selain Maluku dan Papua, BGN akan mengarahkan perluasan MBG ke daerah 3T lainnya dan wilayah dengan persoalan stunting yang masih tinggi.
Untuk mengejar target tersebut, BGN akan menambah Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di sejumlah wilayah prioritas.
Namun, pembukaan dapur MBG tidak dilakukan secara serentak. Penambahan SPPG akan dilakukan secara bertahap dengan mempertimbangkan kebutuhan dan kesiapan masing-masing daerah.
“Kami akan segera membuka SPPG di tempat-tempat prioritas secara bertahap dan terukur,” kata Sudaryono.
Ia memastikan perluasan program tidak dilakukan dengan mengabaikan aspek keamanan dan ketepatan sasaran.
BGN, kata dia, akan memastikan setiap dapur SPPG yang dibuka mampu menjalankan layanan secara aman dan efisien.
“Implementasi pembukaan dapur SPPG harus berjalan aman, efisien, dan tepat sasaran,” ujarnya.*





