SATUMEDIA.ID – Dinas Komunikasi, Informatika, Statistik dan Persandian (Diskominfo) Kabupaten Bandung menilai penguatan literasi digital menjadi kebutuhan mendesak di tengah meningkatnya berbagai ancaman di ruang digital.
Ancaman tersebut tidak hanya berupa penyebaran informasi palsu atau hoaks, tetapi juga praktik judi online (judol) dan pinjaman online (pinjol) ilegal yang dinilai berpotensi menimbulkan dampak sosial dan ekonomi bagi masyarakat.
Kepala Diskominfo Kabupaten Bandung H Teguh Purwayadi mengatakan, masyarakat perlu memiliki kemampuan untuk memilah dan memverifikasi informasi sebelum mempercayai maupun menyebarkannya.
Hal itu disampaikan Teguh dalam kegiatan Pelatihan Literasi Digital dan Jurnalistik Warga bertema “Membangun Informasi Masyarakat yang Cerdas dan Beretika di Kabupaten Bandung” serta program Sadar Digital (Sinergi Adaptif dalam Resiliensi Digital) di Gedung Mohamad Toha, Kompleks Pemerintah Kabupaten Bandung, Soreang, Rabu (16/9/2026).
Kegiatan tersebut diikuti wartawan yang tergabung dalam Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Kabupaten Bandung, Kelompok Informasi Masyarakat (KIM), karang taruna, serta bunda literasi.
Menurut Teguh, persoalan judi online menjadi salah satu tantangan serius yang harus ditangani secara bersama-sama.
Ia menyebut, berdasarkan data yang disampaikannya, aktivitas judi online secara nasional menunjukkan perputaran dana yang sangat besar dan terus mengalami perubahan.
Di Kabupaten Bandung, lanjut dia, sekitar 182.000 pengguna judi online tercatat pada 2024. Data tersebut menjadi perhatian karena dampaknya dapat menjangkau berbagai kelompok masyarakat, termasuk aparatur sipil negara (ASN).
Teguh juga menyampaikan adanya data dari hasil koordinasi dengan Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK) yang menunjukkan banyaknya aktivitas yang masuk b ekosistem digital berisiko.
Namun, menurut dia, keberadaan data tersebut tidak cukup jika tidak diikuti langkah konkret untuk mencegah dampak yang lebih luas.
“Data bukan sekadar angka yang kemudian kita lihat naik atau turun. Yang jauh lebih penting adalah bagaimana data itu diterjemahkan menjadi tindakan untuk melindungi masyarakat dari dampak judi online dan pinjaman online ilegal,” kata Teguh.
Literasi rendah, hoaks mudah menyebar
Selain judi online dan pinjol ilegal, Teguh menyoroti rendahnya kemampuan literasi masyarakat yang dinilai berpengaruh terhadap mudahnya informasi palsu menyebar.
Ia mengatakan, perkembangan teknologi informasi berlangsung sangat cepat, sementara kemampuan masyarakat dalam membaca, memahami, dan memeriksa informasi belum selalu berjalan beriringan.
Kondisi tersebut membuat sebagian masyarakat cenderung menerima informasi secara mentah tanpa melakukan pengecekan terhadap sumber maupun kebenarannya.
“Ketika kemampuan literasi tidak cukup kuat, masyarakat akan lebih mudah menerima informasi tanpa melakukan verifikasi. Kondisi seperti ini yang kemudian membuka ruang semakin luas bagi disinformasi dan hoaks,” ujar Teguh.
Karena itu, Diskominfo Kabupaten Bandung menggandeng PWI dan sejumlah unsur masyarakat untuk membangun ekosistem informasi yang lebih sehat.
Pelatihan tersebut juga melibatkan komunitas perempuan dan unsur sekolah. Menurut Teguh, perempuan memiliki peran penting dalam membangun ketahanan digital di lingkungan keluarga.
Diskominfo Kabupaten Bandung, kata dia, tengah menyiapkan program khusus untuk meningkatkan kemampuan masyarakat menghadapi berbagai risiko di ruang digital dengan pendekatan berbasis komunitas perempuan.
“Pemerintah tidak mungkin menghadapi persoalan digital ini sendirian. Dibutuhkan kerja sama berbagai pihak agar masyarakat memahami risikonya dan mampu menggunakan teknologi secara bijak,” kata Teguh.
Ia berharap pemanfaatan teknologi informasi justru dapat memberikan manfaat bagi masyarakat, bukan menjadi sumber persoalan baru yang berdampak terhadap kehidupan sosial dan ekonomi.
“Teknologi harus kita arahkan agar memberikan manfaat dan memperkuat masyarakat, bukan sebaliknya menimbulkan kerusakan pada tatanan sosial, ekonomi, maupun kehidupan manusia,” pungkasnya.*





