SATUMEDIA.ID – Bakal calon Wakil Bupati (Bacawabup) Bandung Barat, Gilang Dirga mengibaratkan antara dirinya dengan Didik Agus Triwiyono yang tak lain adalah bakal calon Bupati (Balonbup) seperti ayah dan anak.
Bapaslon yang dikenal dengan sebutan pasangan Dilan ini, sama-sama dilahirkan pada 17 Agustus. Jika Didik dilahirkan pada 17 Agustus 1969, maka Gilang Dirga pada 17 Agustus 1989. Keduanya terpaut usia 20 tahun.
“Saya merasa hubungan dengan pak Didik tak hanya sebatas pasangan calon kepala daerah, lebih dari itu. Saya mengibaratkan hubungan kami layaknya seperti ayah dan anak,” kata Gilang Dirga saat bersilaturahmi dengan tokoh pemekaran yang tergabung dalam Paguyuban Pejuang Peduli Pembangunan Kabupaten Bandung Barat (P4KBB) di Sekretariat P4KBB, Jalan Cibatu Desa Cilame Kecamatan Ngamprah, Rabu (11/9/2024).
Baginya, Didik merupakan guru spiritual, dan pembimbingnya. “Pak Didik orangnya alim (berilmu) dan tentunya lebih saleh dibandingkan saya. Karenanya saya banyak belajar dari beliau,” ujarnya.
Oleh karena itulah, Gilang menegaskan, dirinya tak akan berkhianat dengan menjadi anak yang durhaka ketika dirinya bersama Didik ditakdirkan memimpin Bandung Barat dalam 5 tahun ke depan.
“Ketika pak Didik dan saya ditakdirkan memimpin KBB, kami akan terus menjaga kebersamaan. Hubungan layaknya ayah dan anak akan kami jaga,” tandasnya.
Pernyataan senada disampaikan Didik. Menurutnya harmonisasi menjadi komitmen bersama ketika ditakdirkan memimpin KBB dalam 5 tahun ke depan.
“Banyak pasangan kepala daerah yang setelah terpilih dan memimpin, malah hubungannya menjadi tidak harmonis ,” kata Didik.
Masalah sudah muncul, lanjut Didik, usai dilantik sudah memiliki pikiran untuk memimpin lagi di periode berikutnya zan menganggap wakilnya bakal menjadi pesaing.
“Pikiran sama juga muncul di wakil kepala daerahnya. Godaan seperti itulah yang akhirnya memicu keretakan hubungan kepala daerah dan wakilnya. Semoga kami berdua dijauhkan dari godaan seperti itu,” tandasnya.
Ketua P4KBB, Yakob Anwar Lewi berharap siapapun pasangan bupati dan wakil bupati yang nanti terpilih memimpin KBB agar dapat menjaga kekompakan. Berdasarkan pengalaman selama ini, hubungan antara bupati dan wakil bupati tidak berlangsung lama.
“Ada yang baru setahun, setengah tahun, bahkan malah baru tiga bulan sudah tidak harmonis. Ketidakkompakan antara bupati dengan wakil bupati pada akhirnya yang menjadi korban masyarakat. Karena itulah, dalam silaturahmi tadi kami sampaikan agar hubungan harmonis tak hanya pada saat pilkada tapi saat keduanya memimpin KBB,” kata Yakob.
Ia mengungkapkan, pasangan Dilan menjadi Bapaslon pertama yang bersilaturahmi dengan P4KBB. Kesempatan itu dimanfaatkan para tokoh untuk memberikan masukan.
“Konsep benahi yang diusung pasangan Didik- Dilan sangat ideal untuk KBB, yang saat ini memang tidak sedang baik-baik saja. Kami menyarankan benahi birokrasi, keuangan dan sebagainya. Kami pun minta kepada keduanya untuk konsisten dengan pernyataannya,” tandasnya.
Bendahara P4KBB, Eman Sulaeman menambahkan, dirinya berpesan kepada pasangan Dilan harus sauyunan. Jangan sampai setelah dilantik, muncul di birokrasi kelompok bupati dan kelompok wakil.
“Kami juga berpesan kepada keduanya ketika menjadi kepala daerah harus tumbuh rasa cinta, bogoh ke Bandung Barat. Biasanya, orang yang sudah cinta akan berani berkorban. Tapi sebaliknya, jika didasari hanya semata untuk kekuasaan tidak akan membawa kebaikan buat KBB. Karena pada akhirnya, setelah menjadi pemimpin jadinya hanya menikmati kekuasaannya semata,” kata Eman.*





