SATUMEDIA.ID – Angka prevalensi stunting di Kabupaten Bandung Barat (KBB) masih menjadi pekerjaan rumah serius. Berdasarkan data 2024, prevalensi stunting mencapai 30,8 persen sekaligus menjadi yang tertinggi di Jawa Barat.
Kondisi itu mendorong Pemerintah Kabupaten (Pemkab)Bandung Barat memperluas upaya pencegahan stunting dengan melibatkan masyarakat hingga kalangan remaja.
Salah satu langkah yang dilakukan yakni menggelar pelatihan penyuluh penanganan stunting di Dinas Kesehatan KBB, Jumat (4/9/2026).
Kegiatan tersebut merupakan kolaborasi Pemkab Bandung Barat dengan Paguyuban Pejuang Peduli Pembangunan Kabupaten Bandung Barat (P4KBB) dan Lions Club Bandung Pesona.
Pelatihan itu dihadiri Plt Kepala Dinas Kesehatan KBB Duddy Prabowo, Ketua P4KBB Jacob Anwar Lewi, serta Presiden Lions Club Bandung Pesona Clara Juni Handayani.
Plt Kepala Dinkes KBB Duddy Prabowo mengatakan, tingginya angka stunting tidak bisa ditangani hanya dengan mengandalkan program pemerintah.
Menurut dia, keterlibatan masyarakat menjadi penting agar pencegahan stunting dilakukan sejak sebelum pasangan menikah hingga anak dilahirkan.
“Stunting tidak bisa hanya diselesaikan oleh pemerintah daerah. Semua elemen masyarakat harus ikut bergerak, termasuk P4KBB, Lions Club dan unsur yang ada di lapangan,” ujar Duddy.
Ia mengatakan, pencegahan stunting harus dilakukan sejak dari hulu. Intervensi tidak cukup diberikan ketika anak sudah mengalami masalah pertumbuhan, tetapi harus dimulai sejak masa pranikah, kehamilan, persalinan hingga setelah bayi lahir.
Upaya tersebut, kata Duddy, juga diperkuat melalui keberadaan posyandu dan pembentukan satuan tugas (satgas) penanganan stunting di KBB.
“Intervensinya harus dimulai dari sebelum menikah, kemudian saat hamil, melahirkan sampai setelah melahirkan. Jadi bukan hanya menangani ketika masalahnya sudah terjadi,” katanya.
Selain edukasi, pemerintah juga menjalankan intervensi gizi melalui pemberian makanan tambahan yang mengandung protein, termasuk protein hewani.
Ketua P4KBB Jacob Anwar Lewi mengatakan, sebanyak 35 orang mengikuti pelatihan penyuluh tersebut.Para penyuluh nantinya akan memperluas edukasi mengenai stunting, termasuk ke lingkungan SMA dan pesantren.
Menurut Jacob, kelompok remaja putri perlu menjadi sasaran penting karena sebagian dari mereka memilih menikah setelah menyelesaikan pendidikan.
“Banyak remaja putri setelah lulus sekolah kemudian menikah. Karena itu, mereka perlu memahami bahaya stunting dan pentingnya mempersiapkan kesehatan sebelum menikah,” kata Jacob.
Ia menegaskan, pencegahan stunting seharusnya tidak baru dimulai ketika seorang ibu mengandung. Persiapan kesehatan calon orangtua, menurut dia, perlu dilakukan sejak sebelum pernikahan.
“Kehamilan pertama harus dipersiapkan sejak awal. Pencegahan stunting bahkan sudah dimulai ketika bayi masih berada di dalam kandungan,” ujarnya.
Jacob juga menyoroti risiko pernikahan pada usia terlalu muda. Edukasi mengenai kesiapan menikah menjadi bagian penting agar calon pasangan memahami konsekuensi terhadap kesehatan ibu dan anak.
Presiden Lions Club Bandung Pesona Clara Juni Handayani mengatakan, pihaknya ikut terlibat dalam program tersebut karena melihat penanganan stunting membutuhkan kerja bersama.
Menurut Clara, kolaborasi dengan pemerintah juga menjadi kesempatan untuk mengetahui kebutuhan masyarakat secara langsung.
“Kami ingin membantu masyarakat yang membutuhkan. Dengan terlibat langsung, kami juga bisa lebih memahami apa yang sebenarnya dibutuhkan masyarakat,” kata Clara.
Ia menilai edukasi kepada masyarakat harus diperkuat, termasuk mengenai alasan pasangan tidak dianjurkan menikah terlalu muda dan pentingnya kesiapan sebelum memiliki anak.
“Kami ingin masyarakat lebih memahami kenapa pernikahan di usia terlalu muda berisiko dan bagaimana mempersiapkan diri agar anak yang lahir tidak mengalami stunting,” ujarnya.
Clara mengatakan, tingginya persoalan stunting di KBB membuat Lions Club Bandung Pesona merasa perlu ikut mengambil bagian dalam upaya pencegahan.
“Kami melihat persoalan ini dan merasa terpanggil untuk ikut membantu,” kata dia.*





