SATUMEDIA.ID – Tingginya angka stunting di Kabupaten Bandung Barat (KBB) kembali menjadi perhatian. Dari 27 kabupaten/kota di Jawa Barat, KBB masih berada di posisi tiga besar daerah dengan sebaran kasus stunting tertinggi.
Salah satu persoalan yang dinilai turut memperburuk kondisi tersebut ialah masih banyaknya masyarakat yang menganggap kental manis sebagai susu untuk memenuhi kebutuhan gizi anak.
Persoalan itu mengemuka dalam pertemuan Pemkab Bandung Barat bersama Yayasan Abhipraya Insan Cendekia Indonesia (YAICI) dan Muslimat NU di Ngamprah, Selasa (21/7/2026). Ketiga pihak sepakat bahwa edukasi mengenai konsumsi pangan bergizi perlu diperkuat guna menekan angka stunting.
Wakil Bupati Bandung Barat Asep Ismail mengatakan, penanganan stunting tidak dapat dilakukan hanya oleh pemerintah, tetapi membutuhkan keterlibatan berbagai pihak, termasuk organisasi masyarakat.
Menurut dia, masih banyak orang tua yang keliru menganggap kental manis sebagai susu sehingga menjadikannya minuman utama bagi anak. Padahal, produk tersebut bukan ditujukan untuk memenuhi kebutuhan gizi harian anak.
“Kesalahpahaman ini harus terus diluruskan. Banyak orang tua, terutama ibu muda, masih menganggap kental manis sama dengan susu, padahal fungsinya berbeda dan tidak bisa dijadikan sumber gizi utama bagi anak,” ujar Asep.
Ketua Bidang Kesehatan PP Muslimat NU Erna Yulia Sofihara mengatakan, organisasinya telah bekerja sama dengan YAICI sejak 2016 untuk mengedukasi masyarakat mengenai penggunaan kental manis yang tepat.
Ia menjelaskan, konsumsi gula berlebihan dapat membuat anak cepat kenyang sehingga enggan mengonsumsi makanan bergizi yang dibutuhkan untuk tumbuh kembangnya. Kondisi tersebut dinilai dapat meningkatkan risiko terjadinya gizi buruk maupun stunting.
“Anak yang terlalu banyak mengonsumsi gula akan lebih cepat merasa kenyang sehingga enggan makan makanan bergizi. Jika kondisi itu terus terjadi, risiko gizi buruk hingga stunting bisa meningkat,” ujar Erna.
Erna menambahkan, edukasi menjadi semakin penting karena prevalensi stunting di Bandung Barat masih berada di atas rata-rata nasional. Padahal, pemerintah sebelumnya menargetkan angka stunting dapat ditekan hingga 14 persen.
Menurut dia, salah satu akar persoalan adalah persepsi yang telah berlangsung lama di masyarakat bahwa kental manis merupakan susu.
Karena itu, Muslimat NU mendorong perubahan penyebutan produk dari “susu kental manis” menjadi “kental manis” agar masyarakat tidak lagi keliru memahami fungsi produk tersebut.
“Kami mendorong penggunaan istilah ‘kental manis’ tanpa embel-embel susu agar masyarakat tidak lagi memiliki persepsi bahwa produk tersebut merupakan susu yang dapat memenuhi kebutuhan gizi anak,” katanya.
Selain itu, mereka juga mengusulkan agar iklan kental manis tidak lagi menampilkan balita seolah-olah mengonsumsinya sebagai minuman pengganti susu.
“Jaringan Muslimat NU yang tersebar hingga tingkat ranting menjadi kekuatan untuk menyampaikan edukasi gizi kepada keluarga. Kami berharap para kader dapat menjadi agen perubahan di tengah masyarakat,” ujar Erna.
Sementara itu, Sekretaris YAICI Satria Yudistira mengatakan, edukasi harus dilakukan secara berkelanjutan karena kesalahan persepsi masyarakat masih cukup tinggi.
“Tingkat kesalahan persepsi masyarakat masih cukup tinggi. Karena itu, edukasi harus dilakukan secara berkelanjutan agar pemahaman yang benar mengenai kental manis dapat diteruskan dari keluarga ke keluarga,” kata Satria.
Berdasarkan survei Universitas Islam Bandung (Unisba), sekitar 67,7 persen masyarakat Indonesia masih menganggap kental manis sebagai susu. Adapun di Jawa Barat, tingkat kesalahan persepsi masih berada di kisaran 24 hingga 25 persen sehingga menjadi salah satu daerah prioritas edukasi.
Satria menjelaskan, anggapan keliru tersebut telah berlangsung selama lebih dari satu abad. Warna, aroma, dan rasa yang menyerupai susu membuat sebagian masyarakat masih menjadikannya sebagai minuman utama anak.
Ia menambahkan, hasil riset YAICI menunjukkan anak yang mengonsumsi kental manis secara tidak tepat memiliki indikasi risiko lebih tinggi mengalami kelebihan berat badan, stunting, maupun gizi buruk. Namun, menurut dia, temuan tersebut masih memerlukan penelitian longitudinal untuk memastikan hubungan sebab akibat.
“Riset kami menunjukkan adanya indikasi bahwa konsumsi kental manis yang tidak tepat berkaitan dengan risiko overweight, gizi buruk, maupun stunting. Namun, hubungan tersebut masih perlu dibuktikan melalui penelitian longitudinal,” ujarnya.
Pelaksana Tugas Kepala Bidang Kesehatan Masyarakat Dinas Kesehatan Kabupaten Bandung Barat, dr. Enung Masruroh, mengatakan kandungan gula pada kental manis mencapai sekitar 40 hingga 60 persen sehingga tidak dapat disamakan dengan susu.
“Kental manis memiliki kandungan gula sekitar 40 hingga 60 persen sehingga tidak bisa disamakan dengan susu. Produk ini sebaiknya hanya digunakan sebagai pelengkap atau penyedap makanan, bukan sebagai minuman utama anak,” kata Enung.
Menurut Enung, apabila dikonsumsi secara berlebihan sebagai pengganti minuman utama, kental manis berpotensi meningkatkan risiko gangguan gizi, obesitas, hingga diabetes pada anak.
Ia juga mengungkapkan bahwa tren obesitas pada anak dan remaja di Bandung Barat menunjukkan peningkatan. Karena itu, edukasi kepada masyarakat terus dilakukan agar kental manis hanya digunakan sebagai pelengkap atau penyedap makanan, bukan sebagai konsumsi harian pengganti susu.
“Kami juga melihat tren obesitas pada anak dan remaja di Bandung Barat mulai meningkat. Karena itu, masyarakat perlu memahami bahwa konsumsi kental manis harus dibatasi dan tidak dijadikan kebutuhan harian,” tuturnya.*





