Diabetes Bisa Datang Diam-Diam, Kenali Sinyal Gangguan Metabolisme Sejak Dini

(dari kiri ke kanan): dr. Gagas; dr. Rochsismandoko, Sp.PD, KEMD, FINASIM, FACE; dr. Marshell Tendean, Sp.PD-KEMD, FINASIM; dr. Khomimah, Sp.PD-KEMD, FINASIM; dan Leona A. Karnali, CEO Primaya Hospital Group, berfoto bersama dalam acara Seminar Metabolic Endocrine Primaya Hospital yang diselenggarakan pada Juli 2026.(Doc Primaya Hospital).**

SATUMEDIA.ID – Mudah lelah, stamina menurun, berat badan bertambah, hingga perubahan fungsi seksual kerap dianggap sebagai konsekuensi bertambahnya usia. Padahal, perubahan tersebut tidak selalu bisa dianggap wajar. Kondisi itu dapat menjadi sinyal adanya gangguan hormon atau metabolisme yang perlu mendapat perhatian lebih serius.

Hal tersebut menjadi salah satu pembahasan dalam Seminar Primaya Metabolic Endocrine 2026 bertema “Translating Evidence into Impact: Practical Endocrinology for Real-World Care” yang digelar pada Juli 2026. Dalam kegiatan tersebut, dr. Marshell Tendean, Sp.PD-KEMD, FINASIM dan dr. Khomimah, Sp.PD-KEMD, FINASIM membahas pentingnya mengenali perubahan tubuh sejak dini, termasuk persoalan testosteron pada pria dan diabetes. Pada pria, penurunan testosteron memang dapat terjadi seiring pertambahan usia. Namun, jika keluhan seperti kelelahan, stamina menurun, atau gangguan fungsi seksual berlangsung terus-menerus hingga mengganggu kualitas hidup, kondisi tersebut sebaiknya tidak langsung dianggap sebagai bagian normal dari penuaan.

dr. Marshell Tendean yang berpraktik di UKRIDA Primaya Hospital menjelaskan bahwa kekurangan testosteron atau late-onset hypogonadism (LOH) dapat berkaitan dengan berbagai aspek kesehatan. Kondisi ini diperkirakan dialami sekitar 2,1 persen pria secara umum dan prevalensinya meningkat pada kelompok usia lanjut, terutama mereka yang mengalami obesitas atau metabolic syndrome. “Bertambahnya usia memang membawa berbagai perubahan pada tubuh, termasuk hormon. Namun, ketika perubahan seperti mudah lelah, penurunan stamina, atau gangguan fungsi seksual mulai menetap dan memengaruhi kualitas hidup, kondisi tersebut perlu dilihat lebih jauh,” ujarnya.

Persoalan serupa juga terlihat pada diabetes yang sering berkembang tanpa gejala berarti. Berdasarkan materi Primaya Endocrine 2026, lebih dari 250 juta orang dewasa di dunia belum menyadari bahwa mereka mengalami gangguan metabolisme. Di Indonesia, IDF Diabetes Atlas 2025 menempatkan Indonesia di peringkat kelima dunia untuk prevalensi diabetes usia 20–79 tahun sekaligus peringkat ketiga dalam jumlah kasus yang belum terdiagnosis. dr. Khomimah menegaskan bahwa diabetes tidak cukup ditangani hanya dengan mengejar angka gula darah.

Penanganan perlu dilakukan secara menyeluruh dengan mempertimbangkan kesehatan jantung, ginjal, berat badan, risiko komplikasi, penyakit penyerta, hingga kondisi setiap pasien. Karena itu, masyarakat dianjurkan lebih peka terhadap perubahan tubuh. Mengenali sinyal sejak awal dapat membuka peluang deteksi dan penanganan lebih cepat, sehingga kesehatan organ, produktivitas, dan kualitas hidup dapat tetap terjaga dalam jangka panjang.*

Pos terkait