SATUMEDIA.ID – Persiapan kontingen Kabupaten Bandung Barat (KBB) menuju Pekan Paralimpik Daerah (Peparda) VII Jawa Barat yang akan berlangsung pada 7-20 November 2026 dihadapkan pada berbagai kendala.
Di tengah target prestasi yang dibebankan, para atlet difabel dan pengurus National Paralympic Committee Indonesia (NPCI) KBB masih dibayangi ketidakpastian anggaran hibah dari pemerintah daerah.
Padahal, program latihan untuk menghadapi ajang olahraga terbesar bagi atlet penyandang disabilitas di Jawa Barat itu telah dimulai sejak Januari 2026.
Wakil Sekretaris NPCI KBB, Acep Kurnia, mengatakan hingga pertengahan Juni 2026 pihaknya belum menerima kepastian mengenai besaran dana hibah yang akan dikucurkan pemerintah daerah untuk mendukung persiapan Peparda.
“Kami sudah menjalankan latihan sejak Januari, tetapi sampai sekarang belum mengetahui berapa besar hibah yang akan diterima. Akibatnya, seluruh persiapan berjalan secara swadaya dengan mengandalkan pinjaman dan gotong royong,” kata Acep saat dihubungi, Kamis (18/6/2026).
Kondisi tersebut semakin berat karena NPCI KBB belum memiliki fasilitas latihan sendiri. Sejumlah cabang olahraga terpaksa menyewa tempat latihan di berbagai lokasi, bahkan hingga Kota Bandung.
Cabang atletik, misalnya, berlatih di Stadion Pajajaran Bandung. Sementara cabang judo menyewa tempat latihan di kawasan Jalan Emong, sedangkan atlet bowling harus menggunakan fasilitas di Arena Siliwangi dengan biaya sewa yang dinilai cukup tinggi.
Menurut Acep, kebutuhan operasional yang terus berjalan memaksa pengurus mencari berbagai cara agar program pembinaan atlet tidak terhenti.
“Untuk cabang bowling saja, biaya sewa satu lintasan mencapai Rp 200 ribu per jam. Dalam satu sesi latihan, kami bisa menggunakan enam sampai tujuh lintasan,” ujarnya.
Selain biaya sewa fasilitas, NPCI KBB juga harus menanggung biaya transportasi atlet yang berasal dari sejumlah wilayah seperti Rajamandala, Cililin, hingga Cipongkor menuju lokasi latihan.
Bahkan, kata Acep, Ketua NPCI KBB turut mengeluarkan dana pribadi untuk membantu menutupi kebutuhan operasional yang belum terpenuhi.
“Ketua NPCI sampai harus menggunakan dana pribadi, bahkan menjual kendaraan untuk menutupi kekurangan biaya sementara,” ungkapnya.
Meski dihadapkan pada keterbatasan anggaran, para atlet NPCI KBB tetap mampu menorehkan prestasi di level internasional. Salah satunya atlet para atletik Jaenal Aripin yang berhasil meraih medali emas pada Kejuaraan Paralimpik di Maroko pada April 2026.
Tak lama berselang, Jaenal kembali mempersembahkan medali perak pada kejuaraan di Tunisia pada Mei 2026. Saat itu ia hanya kalah dari atlet asal Portugal yang berstatus juara dunia.
Untuk Peparda VII Jawa Barat, NPCI KBB menargetkan mengirimkan sekitar 80 atlet dari 12 cabang olahraga. Jumlah tersebut masih di bawah total 17 cabang olahraga yang akan dipertandingkan dalam ajang tersebut.
Acep memperkirakan kebutuhan anggaran sejak masa persiapan Januari hingga pelaksanaan Peparda pada November mendatang mencapai sedikitnya Rp 2 miliar.
Anggaran tersebut mencakup biaya transportasi, penyewaan tempat latihan, pengadaan peralatan, seragam kontingen, hingga kebutuhan selama pertandingan berlangsung.
Selain persoalan hibah, NPCI KBB juga masih menunggu kepastian mengenai bonus prestasi bagi atlet berprestasi. Menurut Acep, kepastian tersebut penting untuk menjaga motivasi atlet yang telah berjuang dalam kondisi serba terbatas.
“Kami berharap ada kejelasan terkait hibah maupun bonus prestasi. Ini bukan semata-mata soal materi, tetapi bentuk penghargaan atas perjuangan atlet yang sudah berlatih dan berkorban sejak jauh hari,” katanya.
Ia menambahkan, sejumlah daerah lain di Jawa Barat telah lebih dulu memberikan kepastian terkait dukungan anggaran dan bonus bagi atlet paralimpik.
Sementara itu, batas akhir pendaftaran kontingen Peparda VII Jawa Barat dijadwalkan pada 29-30 Juni 2026. Dengan waktu yang tersisa kurang dari dua pekan, NPCI KBB berharap kepastian anggaran dapat segera diperoleh agar persiapan menuju Peparda berjalan optimal dan target prestasi yang telah ditetapkan dapat tercapai.*



