SATUMEDIA.ID – Kekecewaan setelah Timnas Indonesia gagal melaju ke semifinal Piala AFF 2026 berujung pada serangan terhadap sejumlah pemain di media sosial. Bek Timnas Indonesia, Justin Hubner, bahkan harus menghadapi hujatan dan serangan personal yang turut menyasar keluarganya.
Situasi yang dialami Hubner menjadi perhatian Persatuan Sepak Bola Seluruh Indonesia (PSSI). Federasi meminta suporter tidak menjadikan kegagalan di lapangan sebagai alasan untuk melakukan penghinaan, perundungan, penyebaran data pribadi (doxing), hingga ancaman.
PSSI menilai kekecewaan terhadap hasil pertandingan merupakan hal yang wajar. Namun, emosi tersebut tidak seharusnya berubah menjadi serangan yang membahayakan pemain maupun orang-orang terdekatnya.
Sekretaris Jenderal PSSI Yunus Nusi mengatakan, performa pemain tetap dapat dikritik. Akan tetapi, kritik harus disampaikan secara sportif dan tidak menyentuh ranah pribadi.
“Kami mengakui bahwa hasil di Piala AFF 2026 belum memenuhi harapan. Namun, evaluasi harus dilakukan dengan kepala dingin dan tanggung jawab, bukan melalui kebencian,” ujar Yunus dikutip dari laman PSSI, Jumat (21/8/2026).
“Pemain boleh dikritik secara sportif, tetapi martabat dan keselamatan mereka, termasuk keluarga, harus tetap dihormati. Kekalahan bukan alasan untuk membenarkan kebencian,” lanjutnya.
PSSI sebelumnya juga menyampaikan keprihatinan atas ujaran kebencian dan ancaman yang ditujukan kepada Hubner dan keluarganya. PSSI mengingatkan bahwa pemain dan pelatih merupakan bagian penting dari perjalanan sepak bola Indonesia sehingga tidak seharusnya dihukum secara personal akibat hasil pertandingan.
Kasus yang dialami Hubner sekaligus menjadi pengingat bahwa serangan di media sosial dapat berkembang menjadi persoalan serius. Unggahan bernada kebencian, penyebaran informasi pribadi, hingga ancaman dapat berdampak langsung terhadap keamanan pemain dan keluarganya.
Pesan tersebut sejalan dengan kampanye FIFA bertajuk “Protecting players online around the world” dengan seruan “Stop Hate, Protect Football”. FIFA menekankan pentingnya menciptakan lingkungan sepak bola yang aman, tidak hanya di stadion tetapi juga di ruang digital.
PSSI pun mengajak suporter mengubah kekecewaan menjadi dukungan yang lebih sehat. Kritik tetap diperlukan sebagai bagian dari evaluasi, tetapi harus diarahkan pada permainan, keputusan, dan proses yang dapat diperbaiki.
Para pemain juga segera memiliki kesempatan untuk bangkit melalui kompetisi I.League 2026/2027. Super League dijadwalkan dimulai pada 4 September 2026, disusul Championship pada 11 September 2026.
Yunus berharap dukungan suporter tidak hanya diberikan ketika pemain mengenakan seragam Timnas Indonesia, tetapi juga ketika mereka memperkuat klub masing-masing.
“Saya berharap dukungan kepada pemain tidak berhenti ketika hanya berseragam Timnas. Dukungan juga saat mereka bersama klub masing-masing. Kritik boleh tajam, tetapi tidak boleh menjadi kebencian,” kata Yunus.
“Dukung pemainnya, hormati manusianya, dan jaga sepakbolanya,” ujarnya.*





