SATUMEDIA.ID – Aksi penyelamatan tiga orang warga yang terjebak banjir di Kampung Lamajang 2, Desa Citeureup, Kecamatan Dayeuhkolot, Kabupaten Bandung, berlangsung dramatis, Minggu (16/3/2025) sekitar pukul 01.00 WIB dini hari.
Petugas dari BPBD Kabupaten Bandung dibantu relawan, harus berjibaku mengevakuasi ketiga warga tersebut di tengah gelap dan dinginnya malam. Merek harus menceburkan ke genangan air setinggi 1-1,5 meter.
Dari tiga warga itu, satu di antaranya bayi yang baru berusia beberapa bulan. Dua warga lainnya adalah ibu kandung bayi dan nenek dari balita tersebut.
Bayi yang hendak diselamatkan dibawa menggunakan sejenis keranjang hingga bisa terapung di atas genangan banjir. Dari rekaman video, terlihat bayi dalam keadaan tertidur dengan seluruh badannya diselimuti kain.
Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Bandung, Uka Suska Puji Utama mengatakan, lokasi keluarga bayi tersebut berada di dalam gang yang cukup sempit sehingga perahu tak bisa masuk.
“Satu-satunya cara untuk mengevakuasi bayi tersebut, petugas harus menceburkan ke dalam genangan banjir. Alhamdulillah evakuasi berjalan lancar, bayi, ibu, serta neneknya berhasil kami selamatkan,” kata Uka Suska.
Menurutnya, evakuasi warga yang terdampak bencana banjir sudah berdasarkan pada Standard Operating Procedure (SOP), di antaranya mengenakan rompi pelampung, senter dan kelengkapan lainnya. Mengingat keselamatan nyawa manusia adalah yang utama.
Ia mengungkapkan, diketahuinya ada tiga orang terjebak banjir setelah BPBD Kabupaten Bandung mendapat informasi dari warga.
“Kami merespon laporan tersebut dengan menerjunkan beberapa personel BPBD dibantu para relawan tanggap bencana yang sedang siaga di posko tanggap darurat,” ujarnya.
Selain melakukan evakuasi bayi, ibu, dan neneknya, Uka Suska menyebutkan, BPBD Kabupaten Bandung menangani 81 kepala keluarga atau 361 jiwa yang terdampak banjir di Desa Sumbersari, Kecamatan Bojongsoang.
“Saat ini BPBD masih melakukan rekap terdampak banjir. Bahkan di beberapa titik dikabarkan ada yang longsor, selain genangan banjir,” jelas Uka Suska.
Melihat cuaca ekstrem yang masih terjadi, Uka Suska mengimbau kepada masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan. Berdasarkan informasi dari BMKG cuaca ekstrem sampai Mei 2025.
“Kewaspadaan perlu ditingkatkan, terutama bagi warga yang tinggal di daerah rawan bencana, baik itu rawan banjir maupun pergerakan tanah. Mengingat curah hujan masih tinggi yang bisa memicu terjadinya bencana hidrometeorologi,” pungkasnya.*





