Tiga Kejadian Keracunan Kurang dari Sepekan, Wakil Ketua DPRD Desak Pemerintah Hentikan Sementara MBG di KBB

Seorang siswa SMKN 1 Cihampelas, Kabupaten Bandung Barat yang mengalami gejala keracunan usai menyantap makanan program MBG digotong ke mobil ambulans, Rabu (24/9/2025).**

SATUMEDIA.ID – Kurang dari sepekan terjadi tiga  kasus keracunan makanan dari program Makan Bergizi Gratis (MBG)  di Kabupaten Bandung Barat (KBB). Dua kejadian di hari yang sama, Rabu (24/9/2025), yaitu  di Kecamatan Cipongkor, dan Kecamatan Cihampelas.

Diketahui, kejadian keracunan di Cipongkor, hari ini menimpa siswa di sejumlah sekolah, antara lain di SMK Karya Perjuangan, serta Madrasah Ibtidaiyah (MI), Madrasah Tsanawiyah (MTS), dan Madrasah Aliyah (MA) Syarif Hidayatullah.

Kejadian serupa juga menimpa puluhan siswa di SMKN 1 Cihampelas. Siswa yang mengalami gejala keracunan dibawa ke Puskesmas Cihampelas.

“Laporan sementara ada 52 siswa yang mengalami gejala keracunan, 19 orang diantaranya harus mendapat penanganan medis di fasilitas kesehatan,” kata Camat Cihampelas, Agus Rudianto saat dihubungi melalui telepon.

Menyikapi tiga kali kejadian keracunan makanan dari MBG, Wakil Ketua DPRD KBB Dadan Supardan mendesak kepada pemerintah daerah dan pusat agar menghentikan sementara program tersebut di seluruh wilayah KBB.

“Ini sudah tiga kali kejadian dalam waktu berdekatan, menyebabkan ratusan siswa mengalami keracunan. Mencegah kasus ini terus terulang, saya meminta kepada pemerintah pusat dan daerah untuk menghentikan sementara program MBG di KBB,” kata Dadan Supardan.

Menurutnya, kebijakan menghentikan sementara ini sambil menunggu hasil pemeriksaan sampel makanan dan muntahan di Laboratorium Jawa Barat.

“Kita tunggu hasil labnya seperti apa, baik dua kejadian di Cipongkor, maupun di Cihampelas. Apakah penyebabnya sama, atau mungkin ada faktor lain. Kita harus tahu dulu akar permasalahannya, setelah semuanya terjawab dan dilakukan perbaikan barulah program MBG ini kembali dilanjutkan,” kata politisi Partai Golkar ini.

Penghentian sementara program MBG di KBB, lanjut Dadan, demi mencegah kejadian serupa terus terulang. Pasalnya, hal ini menyangkut kesehatan dan nyawa seseorang.

Ia pun menyarankan agar dilakukan perbaikan pada program MBG. Mulai dari dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) sebagai penyedia makanan bagi para siswa.

“Yang perlu dilakukan evaluasi dan pembenahan itu, berkaitan dengan sumber daya manusia (SDM), pola masak, standar kualitas bahan baku, kebersihan dapur, distributor penyedia bahan baku, dan baiknya di setiap SPPG terdapat ahli gizinya. Selain itu, perlu pengawasan ketat dari instansi terkait,” tandasnya.

Dadan juga menyoroti, volume porsi setiap SPPG yang terlalu banyak ikut berpengaruh pada kualitas makanan yang dibuat. Setiap SPPG, rata-rata harus menyiapkan 3.000 sampai 4.000 porsi makanan per hari.

“Terlalu banyak kalau menyiapkan porsi makanan seperti itu. Pada akhirnya mereka (SPPG) sudah harus memasak sejak tengah malam atau dini hari. Ya, pada akhirnya kembali pada menurunnya kualitas dari makanan itu. Banyak yang sudah keburu basi saat didistribusikan ke sekolah,” tukasnya.*

 

Pos terkait