Bupati Bandung Dorong Penguatan Ketahanan Pangan Lewat FSVA 2025

Bupati Bandung Dadang Supriatna pada kegiatan Sosialisasi Peta Ketahanan dan Kerentanan Pangan atau Food Security and Vulnerability Atlas (FSVA) Tahun 2025,di Hotel Grand Sunshine, Kecamatan Soreang, Rabu (24/9/2025). (Dok.Diskominfo Kabupaten Bandung).**

SATUMEDIA.ID  – Bupati Bandung Dadang Supriatna menegaskan pentingnya penguatan ketahanan pangan di Kabupaten Bandung melalui pemetaan data yang akurat dan terarah.

Hal itu ia sampaikan saat menghadiri kegiatan Sosialisasi Peta Ketahanan dan Kerentanan Pangan atau Food Security and Vulnerability Atlas (FSVA) Tahun 2025, yang diikuti 210 peserta dari unsur perangkat daerah, kecamatan, hingga desa di Hotel Grand Sunshine, Kecamatan Soreang, Rabu (24/9/2025).

Dalam sambutannya, Bupati Dadang menekankan bahwa masih ada sejumlah titik wilayah di Kabupaten Bandung yang rentan dan membutuhkan intervensi serius berbasis data.

“Saya minta para camat menyiapkan informasi ketahanan pangan yang akurat dan komprehensif. Data ini penting, terutama bagi kepala desa, sebagai dasar menetapkan program maupun intervensi pangan,” tegasnya.

Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa penetapan lokus intervensi akan mengacu pada beberapa indikator utama, seperti rasio konsumsi normatif per kapita terhadap ketersediaan komoditas pangan pokok, seperti padi, jagung, dan ubi. Selain itu, ketersediaan protein hewani, khususnya ikan, juga menjadi salah satu indikator penting.

Bupati juga mendorong Koperasi Desa Merah Putih agar mengambil peran lebih strategis dalam penyediaan bahan pangan pokok di tingkat desa. Menurutnya, peran koperasi, ditopang koordinasi lintas sektor, dapat menjadi kunci dalam menekan angka kemiskinan ekstrem di desa-desa prioritas.

Acara sosialisasi FSVA 2025 yang digagas
Dinas Ketahanan Pangan dan Perikanan (Dispakan) Kabupaten Bandung ini menjadi agenda strategis daerah untuk memastikan ketahanan pangan berjalan beriringan dengan pengentasan kemiskinan, sekaligus memperkuat daya tahan masyarakat terhadap berbagai kerentanan di sektor pangan.

Di tempat yang sama, Kepala Dispakan Kabupaten Bandung, Uka Suska Puji Utama, menegaskan bahwa hasil FSVA 2025 akan menjadi pijakan penting dalam memperkuat kebijakan daerah terkait ketahanan pangan.

Hal itu disampaikan Uka saat kegiatan diseminasi hasil FSVA 2025 yang diikuti 210 peserta dari unsur perangkat daerah, kecamatan, hingga desa.

“FSVA merupakan alat analisis berbasis data spasial dan indikator untuk memetakan tingkat ketahanan serta kerentanan pangan di setiap wilayah, hingga ke tingkat kecamatan dan desa,” kata Uka Suska.

Uka mengungkapkan, hasil analisis FSVA 2025 menunjukkan masih adanya sejumlah kecamatan dan desa yang tergolong rentan terhadap kerawanan pangan. Faktor penyebabnya antara lain kondisi geografis, keterbatasan aksesibilitas, serta tingginya angka kemiskinan.

Namun, ia juga menyoroti adanya tren positif di beberapa wilayah yang mulai memperlihatkan peningkatan ketahanan pangan, berkat intervensi program yang dijalankan secara berkesinambungan.

“Kami berharap FSVA ini bisa menjadi referensi utama dalam perencanaan program lintas sektor serta penentuan lokasi prioritas intervensi, baik melalui skala daerah maupun dukungan provinsi dan pusat,” tambahnya.

Dalam kesempatan tersebut, Uka Suska  juga memaparkan langkah Dispakan dalam mendukung program nasional Makan Bergizi Gratis (MBG). Pihaknya melakukan pengawasan ketat terhadap bahan baku melalui uji keamanan pangan (rapid test), memastikan penerapan sanitasi higienis di gudang pangan segar, serta memberikan sosialisasi dan edukasi keamanan pangan kepada masyarakat.

Terkait kebutuhan protein hewani, Dispakan mencatat kebutuhan ikan di 361 SPPG (Sistem Pelayanan Pemenuhan Gizi) mencapai 81.225 kg per hari. Namun, produksi saat ini baru terpenuhi sebesar 28.960 kg per hari.

“Kami mohon arahan Bapak Bupati untuk menambah 418 kelompok wirausaha baru di sektor perikanan dengan dukungan anggaran sebesar Rp 6,27 miliar,” ujar Uka.

Selain itu, Dispakan juga terlibat dalam intervensi keluarga berisiko stunting di 28 desa lokus stunting, sebagai bagian dari program konvergensi penanggulangan stunting di Kabupaten Bandung.*

Pos terkait