SATUMEDIA.ID – Badan Gizi Nasional (BGN) menetapkan pembatasan jumlah penerima manfaat program Makan Bergizi Gratis (MBG) di setiap Satuan Pelaksana Pemberi Gizi (SPPG). Kebijakan ini diterapkan guna menjaga kualitas layanan dan memastikan standar gizi tetap terjaga di setiap wilayah.
Kepala BGN Dadan Hindayana menjelaskan, satu SPPG maksimal melayani 2.000 siswa, serta tambahan 500 penerima dari kelompok ibu hamil dan balita. Namun, batas tersebut dapat ditingkatkan hingga 3.000 penerima apabila SPPG memiliki juru masak bersertifikat.
“Kalau tenaga masaknya bersertifikat, kapasitas bisa ditambah karena standar pengolahannya sudah terjamin,” ujar Dadan saat Rapat Konsolidasi SPPG se Kabupaten Bandung Barat di Padalarang, KBB, Sabtu (1/11/2025).
Ia menambahkan, BGN tetap mempertahankan insentif mitra sebesar Rp6 juta per hari, agar pelaku usaha dapat menutup biaya investasi dengan cepat.
“Kita jamin Rp6 juta per hari supaya investasi bisa kembali dalam waktu sekitar 16 bulan,” jelasnya.
Menurut Dadan, penyesuaian sistem insentif akan dilakukan secara bertahap. Tahun depan, BGN akan mulai sertifikasi akreditasi fasilitas SPPG, yang akan menjadi dasar penyesuaian insentif berdasarkan kualitas dan kelayakan bangunan.
Dadan juga menyoroti dampak ekonomi besar dari program MBG. Hingga 2025, BGN telah melibatkan 33.000 kepala SPPG, 14.000 ahli gizi, 14.000 akuntan, serta sekitar 600.000 relawan di seluruh Indonesia.
“Program ini bukan hanya memberi makan sehat kepada anak-anak, tapi juga menggerakkan ekonomi rakyat,” ujarnya.
Ia mengungkapkan, total investasi mitra BGN mencapai angka fantastis. Dengan rata-rata investasi Rp2 miliar per unit, total dana yang beredar untuk pembangunan fasilitas SPPG diperkirakan mencapai Rp58 triliun.
“Yang sudah lolos ada 14 ribu mitra, sementara 15 ribu lainnya masih antre. Jadi totalnya sekitar 29 ribu mitra. Kalau dikalikan rata-rata investasinya, dana yang beredar sangat besar,” bebernya.
Dadan menegaskan, keberhasilan MBG tidak hanya diukur dari peningkatan status gizi anak, tetapi juga dari multiplier effect terhadap petani, peternak, nelayan, dan pelaku ekonomi lokal.
“Dampaknya terasa luas, dan kami berterima kasih atas dukungan pemerintah daerah serta seluruh mitra,” tandasnya.*





