SATUMEDIA.ID – Mitra Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Pangauban, Hendrik Irawan melaporkan kasus kehilangan saldo rekening sebesar Rp1 miliar ke Bareskrim Polri. Peristiwa tersebut diduga kuat merupakan tindak kejahatan siber berupa phishing atau penipuan digital.
Diketahui, kronologis bermula pada Kamis, 31 Oktober 2025, sekitar pukul 18.30 WIB, ketika Kepala SPPG Pangauban, bermaksud melakukan proses approval transaksi melalui aplikasi BNI Direct. Saat mencoba masuk, sistem meminta agar kata sandi diganti.
Sebelum mengganti kata sandi, Cakra berinisiatif menghubungi layanan live chat resmi BNI melalui situs web. Tak lama berselang, ia dihubungi seseorang yang mengaku sebagai Live Agent BNI dan memberikan tautan (link) untuk mengganti password dengan alasan keamanan saldo akan dibekukan jika tidak segera diperbarui.
“Begitu mendapat laporan saldo sebanyak Rp1 miliar amblas, saya segera melaporkan ke Badan Gizi Nasional (BGN). Atas arahan BGN, kasus ini dilaporkan ke Bareskrim. Dalam pengusutan nanti, kemungkinan akan dilimpahkan ke Polda Jabar,” kata mitra atau owner SPPG Pangauban, Hendrik Irawan di kantor SPPG Pangauban, Kampung Cibodas RT 2/RW 8, Desa Pangauban, Kecamatan Batujajar, KBB, Rabu (5/11/2025).
Sejak kasus itu dilaporkan ke Bareskrim Polri, Hendrik mengatakan, dirinya belum dimintai keterangan. Harapannya kasus ini bisa segera terungkap, dan SPPG Pangauban kembali beroperasi.
Akibat kejadian ini, sejak Senin kemarin SPPG Pangauban yang baru 10 hari melayani Makan Bergizi Gratis (MBG) berhenti beroperasi. Hingga kini, pendistribusian MBG kepada 8 sekolah untuk 3.400 siswa dihentikan sementara.
“Kami minta solusi dari BGN hingga bapak Presiden RI, Prabowo Subianto agar SPPG yang baru berjalan 10 hari ini, bisa kembali beroperasi. Supaya program MBG berjalan dan kami bisa mempekerjakan kembali 53 pegawai yang sekarang dirumahkan,” ujarnya.
Pengusaha katering yang sudah 17 tahun menggeluti usahanya ini, menaruh harapan besar kepada BGN untuk mengcover kebutuhan biaya operasional.
Ia menyebut, kebutuhan anggaran untuk mengoperasikan SPPG mencapai sekitar Rp70 juta per hari, dengan rincian Rp35 juta digunakan untuk pembelian bahan baku, sementara sisanya dialokasikan untuk pembayaran upah para pekerja.
“Untuk beroperasi butuh biaya belanja bahan saja Rp35 juta per hari untuk 3.400 porsi. Belum lagi upah pegawai dan sebagainya. Ya, paling aman butuh saldo sekitar Rp60 juta sampai Rp70 juta per hari,” sebutnya.*





