SATUMEDIA.ID – Kasus demam berdarah dengue (DBD) di Kabupaten Bandung Barat (KBB) kembali menunjukkan tren mengkhawatirkan menjelang akhir November 2025. Hingga 21 November 2025, sebanyak 1.501 warga tercatat terinfeksi sejak awal tahun, tiga di antaranya meninggal dunia.
Data Dinas Kesehatan KBB mencatat case fatality rate (CFR) sebesar 0,2 persen dan insidens rate (IR) 88 per 100.000 penduduk, menandakan penyebaran yang masih masif di berbagai wilayah.
“Polanya hampir sama setiap tahun. Ketika memasuki musim hujan, kasus melonjak signifikan. Kewaspadaan dan pencegahan harus makin ditingkatkan,” ujar Plt. Sekretaris Dinas Kesehatan KBB, Nurul Rasihan, Senin (24/11/2025).
Sejak Januari, grafik kasus DBD di Bandung Barat bergerak naik-turun. Awal tahun dibuka dengan 189 kasus, terus berfluktuasi hingga sempat menurun pada April, sebelum kembali meningkat tajam di pertengahan tahun.
Berdasarkan data Dinkes KBB, pada Januari terjadi 189 kasus, Februari 152 kasus, Maret 143 kasus, April 130 kasus, Mei 145 kasus, Juni 123 kasus dan satu meninggal dunia, Juli 169 kasus, Agustus 172 kasus dengan 2 kematian, September149 kasus, dan Oktober 129 kasus.
Menurut Nurul, kenaikan terbesar selalu terjadi pada awal dan pertengahan musim hujan. “Saat curah hujan tinggi, populasi nyamuk Aedes aegypti berkembang lebih cepat,” katanya.
Tiga kecamatan tercatat sebagai wilayah dengan jumlah kasus tertinggi sepanjang 2025. Kecamatan Cililin menempati posisi pertama dengan 235 kasus, disusul Cihampelas dengan 162 kasus, dan Sindangkerta dengan 132 kasus.
Dilihat dari jenis kelamin, penderita laki-laki mendominasi dengan 798 kasus, sementara perempuan tercatat sebanyak 703 kasus.
Secara umur, kelompok produktif masih menjadi yang paling rentan, 15–44 tahun sebanyak 625 kasus, 5–14 tahun 58 kasus,
1–4 tahun sebanyak 174 kasus, >44 tahun 272 kasus, bayi <1 tahun 17 kasus
“Risiko DBD merata di semua kelompok usia, namun kelompok produktif tetap paling banyak terpapar,” ujar Nurul.
Dinas Kesehatan KBB menyatakan telah meningkatkan pemberantasan sarang nyamuk (PSN), fogging fokus, serta edukasi masyarakat di zona rawan.
“Kami melakukan intervensi cepat agar penyebaran tidak semakin meluas,” kata Nurul.
Ia pun menekankan pentingnya mengenali gejala awal seperti demam tinggi mendadak, nyeri sendi, dan tanda perdarahan. “Segera ke fasilitas kesehatan bila menemukan gejala itu. Penanganan cepat bisa mencegah kondisi berat,” ujarnya.
Peningkatan kasus diprediksi masih berlanjut hingga puncak musim hujan pada akhir tahun. Karena itu, masyarakat diminta menggencarkan langkah 3M Plus: menguras tempat air, menutup wadah penyimpanan air, mengubur barang bekas, serta menggunakan pelindung diri dari gigitan nyamuk.
“Kami berharap masyarakat tidak menunggu ada kasus di lingkungannya. Pencegahan harus dilakukan sejak sekarang,” kata Nurul.*





