Satpol PP Lembang  Awasi 16 Desa, Personel Minim Jadi Tantangan Utama

Foto ilustrasi petugas Satpol PP KBB.(Instagram Satpol PP KBB).**

SATUMEDIA.ID – Beban pengawasan ketertiban dan keamanan di wilayah perkotaan Kecamatan Lembang kian berat. Dengan luas wilayah besar, kontur geografis berbukit, serta aktivitas pariwisata yang nyaris tak pernah sepi, personel Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) yang bertugas di kecamatan ini mengaku sering kewalahan.

Kepala Seksi Trantibum Kecamatan Lembang, Ided Junaedi, menyampaikan bahwa jumlah personel yang ada saat ini jauh dari ideal. Dari kebutuhan setidaknya delapan petugas, hanya tiga orang yang tersedia termasuk dirinya.

“Di Kecamatan Lembang saya hanya punya staf dua, tiga sama saya. Jadi masih kurang personel dan perlu penambahan,” ujarnya saat ditemui usai menghadiri simulasi bencana Sesar Lembang di Lapang Sinapeul, Desa Gudangkahuripan, Selasa (11/11/2025).

Lembang terdiri dari 16 desa, menjadikannya salah satu kawasan dengan tugas pengawasan paling kompleks di Bandung Barat. Kawasan wisata seperti pasar, jalur utama, hingga titik-titik keramaian membuat mobilitas petugas makin padat.

Menurut Ided, kondisi ini menyebabkan pihaknya sering terlambat menangani laporan. Petugas harus berpindah dari satu lokasi ke lokasi lainnya dalam waktu singkat, sementara jumlah personel jauh dari memadai.

“Sering kali kami keteteran. Dari satu tempat harus geser lagi ke tempat lain. Bahkan kadang informasi kejadian justru lebih dulu diketahui dari pihak luar,” ujarnya.

Ided menegaskan bahwa setidaknya diperlukan delapan personel agar pengawasan bisa berjalan efektif. Polanya, satu petugas bisa membawahi dua desa, atau seperti konsep Bhabinkamtibmas yang satu desa satu orang.

Dengan demikian, setiap kejadian bisa segera ditindaklanjuti dan laporan cepat mengalir ke kecamatan.

Selain urusan ketertiban umum, Satpol PP Kecamatan Lembang juga mendapat tugas tambahan terkait program Makan Bergizi Gratis (MBG). Pengawasan ekstra diperlukan untuk mengantisipasi kejadian tak terduga seperti keracunan makanan.

“Personel harus standby bergantian. Tugasnya makin bertambah,” kata Ided.

Tak hanya kekurangan personel, sarana pendukung juga terbatas. Ided berharap adanya kendaraan operasional kecil seperti roda tiga dengan bak, yang dapat membantu pengangkutan baliho, spanduk, dan umbul-umbul ilegal yang marak terpasang di kawasan wisata.

“Minimal ada kendaraan seperti motor roda tiga. Jadi kalau mau angkut hasil penertiban lebih gampang,” ujarnya.

Ided mengaku sudah beberapa kali menyampaikan kebutuhan penambahan personel dan sarana ke Satpol PP Kabupaten Bandung Barat. Namun, hingga kini belum ada realisasi.

Kecamatan Lembang dengan mobilitas tinggi dan citra sebagai ikon wisata, menurutnya, membutuhkan dukungan lebih besar agar pengawasan ketertiban dan perlindungan masyarakat bisa berjalan optimal.*

Pos terkait