SATUMEDIA.ID – Sektor pariwisata Kabupaten Bandung Barat (KBB) terus menunjukkan kinerja positif dalam tiga tahun terakhir. Kontribusinya terhadap pendapatan asli daerah (PAD) tercatat meningkat signifikan, bahkan menembus Rp119,6 miliar pada 2025.
Kepala Bidang Pariwisata pada Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disparbud) KBB, David Oot, mengungkapkan PAD sektor pariwisata pada 2023 tercatat sebesar Rp96.074.266.025 atau berkontribusi 19 persen terhadap total PAD. Angka tersebut naik pada 2024 menjadi Rp116.407.051.141 dengan kontribusi 20 persen.
“Pada 2025 kembali meningkat menjadi Rp119.614.027.071 dan kontribusinya terhadap PAD mencapai 22 persen,” ujar David saat dihubungi, Rabu (21/1/2026).
David menjelaskan, pendapatan sektor pariwisata tersebut bersumber dari sejumlah komponen pajak barang dan jasa tertentu (PBJT). Untuk PBJT jasa perhotelan, realisasi pendapatan mencapai Rp32.327.273.315 atau 86,21 persen dari target Rp37,5 miliar.
Sementara itu, PBJT makanan dan minuman justru melampaui target. Dari target Rp67 miliar, realisasi pendapatan mencapai Rp68.435.275.238 atau 102,14 persen.
“Alhamdulillah, PBJT makanan dan minuman melampaui target yang ditetapkan,” kata David.
Adapun PBJT jasa kesenian dan hiburan menyumbang PAD sebesar Rp23,9 miliar. Meski demikian, capaian tersebut baru mencapai 78,88 persen dari target yang ditetapkan sebesar Rp18.851.478.518.
“Secara keseluruhan, sektor pariwisata mampu menyumbang PAD sebesar Rp119,6 miliar. Ini capaian positif karena dalam tiga tahun terakhir selalu mengalami kenaikan,” ujarnya.
Menurut David, peningkatan pendapatan pariwisata didorong oleh pembinaan teknis kepariwisataan yang dilakukan Disparbud, serta kolaborasi lintas sektor, khususnya dengan Badan Pendapatan Daerah (Bapenda).
“Kami juga melihat tingkat kepatuhan wajib pajak semakin membaik. Kebangkitan sektor pariwisata pascapandemi juga terlihat dari meningkatnya kunjungan wisatawan, terutama saat libur Natal dan Tahun Baru 2025–2026,” sebutnya.
David menilai, kekuatan pariwisata saat ini tidak hanya bertumpu pada destinasi, tetapi juga pada kreativitas dan kemampuan adaptasi pelaku usaha. Ia menyebut, pengembangan pariwisata kini melibatkan pendekatan hexahelix, yakni kolaborasi antara pemerintah, pengusaha, masyarakat, perguruan tinggi, media, dan jejaring internasional.
Bandung Barat sendiri dinilai memiliki potensi unggulan, khususnya di wilayah utara seperti Lembang, Parongpong, dan Cisarua. Selain panorama alam, udara sejuk dan kekuatan sektor kuliner menjadi daya tarik utama wisatawan.
“Dengan suhu yang sejuk, wisatawan betah. Kekuatan kuliner juga mendorong peningkatan sektor gastronomi, ditambah akses transportasi yang relatif singkat, terlebih dengan keberadaan Kereta Cepat Whoosh,” ucapnya.
Meski optimistis terhadap pertumbuhan ke depan, Disparbud KBB tetap mengingatkan pentingnya mitigasi risiko, terutama terkait isu kebencanaan dan keamanan.
“Kami optimistis pendapatan pariwisata terus meningkat, selama tidak muncul isu-isu yang mengkhawatirkan, baik kebencanaan maupun keamanan,” pungkasnya.*





