SATUMEDIA.ID – Bupati Bandung Dadang Supriatna menyampaikan belasungkawa atas musibah longsor yang terjadi di Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bandung Barat (KBB), Sabtu (24/1/2026) dini hari. Bencana tersebut dilaporkan menelan banyak korban jiwa.
“Atas nama Pemerintah Kabupaten Bandung, kami turut berduka cita sedalam-dalamnya atas musibah longsor di Kabupaten Bandung Barat. Kami sangat prihatin dengan kejadian ini,” kata Dadang Supriatna usai peringatan Isra Mi’raj Tingkat Kabupaten Bandung 1447 H/2026 M di Masjid Al Fathu, Kompleks Pemkab Bandung, Soreang, Senin (26/1/2026).
Dadang, yang akrab disapa Kang DS, mengatakan pihaknya telah menginstruksikan seluruh aparatur sipil negara (ASN) Kabupaten Bandung untuk menunjukkan kepedulian terhadap korban longsor di KBB. Instruksi tersebut disampaikan dalam rapat koordinasi bulanan Pemkab Bandung.
Menurut Kang DS, peristiwa longsor di Cisarua menjadi peringatan serius, mengingat sebelumnya bencana serupa juga terjadi di Kecamatan Arjasari, Kabupaten Bandung. Bahkan, potensi bencana baru mulai terdeteksi di wilayah lain.
“Saya mendapat laporan dari Camat Ibun, di kawasan Kamojang sudah muncul retakan tanah. Setelah dilakukan assessment, sekitar 30 meter area tersebut harus segera dibangun Tembok Penahan Tebing (TPT),” ujarnya.
Ia menegaskan, rumah dan warung yang berada di sekitar lokasi retakan harus segera dievakuasi demi keselamatan warga. “Ini langkah-langkah yang harus segera dilakukan,” kata Kang DS.
Lebih lanjut, Bupati Bandung menginstruksikan Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Bandung untuk mempercepat upaya mitigasi bencana, khususnya di wilayah rawan.
“Mitigasi ini harus segera dilakukan, disertai edukasi dan sosialisasi kepada masyarakat. Ada sekitar 15 kecamatan rawan bencana di Kabupaten Bandung yang harus menjadi perhatian khusus,” tegasnya.
Kang DS menyebutkan, BPBD Kabupaten Bandung telah melakukan sejumlah assessment serta pelatihan kebencanaan bagi warga. Pelatihan tersebut mencakup kesiapsiagaan menghadapi gempa dan bencana lainnya, termasuk penentuan titik-titik aman bagi masyarakat.
Ia juga menyinggung kondisi di Kecamatan Kutawaringin, Kabupaten Bandung, yang memiliki retakan tanah hampir mencapai 50 sentimeter. Pemerintah daerah, kata dia, telah memantau langsung lokasi tersebut dan meminta warga untuk mengungsi ke tempat yang lebih aman.
“Namun sebagian warga masih bertahan. Saat itu saya meminta warga membuat pernyataan agar tidak menyalahkan pemerintah daerah apabila terjadi sesuatu yang tidak diinginkan,” ujar Kang DS.
Kang DS berharap masyarakat dapat meningkatkan kesadaran dan bekerja sama dengan pemerintah daerah dalam mengantisipasi potensi bencana. Ia meminta warga segera melaporkan dan mematuhi arahan BPBD apabila berada di kawasan rawan.
“Ini semua untuk meminimalisir risiko, apalagi sampai menimbulkan korban jiwa,” katanya.
Dalam rapat koordinasi bersama para camat se-Kabupaten Bandung, Kang DS juga meminta agar seluruh camat bersiaga di wilayah masing-masing dan aktif turun ke lapangan untuk menyampaikan informasi yang utuh dan akurat kepada masyarakat.
“Dengan begitu, seluruh pemangku kepentingan bisa melakukan antisipasi sejak dini,” pungkasnya.*





