SATUMEDIA.ID – Hamparan eceng gondok menutup perairan Waduk Saguling di Kampung Cipelem, Desa Rancapanggung, Kecamatan Cililin, Kabupaten Bandung Barat (KBB) seolah menyimpan “bom waktu”.
Ya, bom waktu berkaitan dengan ledakan populasi nyamuk yang sulit dikendalikan. Upaya fogging atau pengasapan sudah beberapa kali dilakukan namun hanya mampu meredam satu sampai tiga hari. Setelahnya, nyamuk-nyamuk kembali menyebar teror.
Salah seorang warga, Odin Hotimah (63) mengatakan, serangan nyamuk sudah terjadi sejak puasa lalu. Menyerang perkampungan warga dari sekitar pukul 06.00 WIB sampai 07.00 WIB. Kemudian sore dari pukul 16.00 WIB sampai 20.00 WIB.
“Gigitannya sampai harus ke puskesmas. Biasanya kan, digigit nyamuk dibiarin juga sembuh. Tapi kali ini, berbeda efek gigitannya terasa panas dan meninggalkan bekas hitam,” kata Odin warga Kampung Cipelem.
Ia sudah berupaya mengusir nyamuk dengan obat nyamuk bakar. Namun tidak efektif, nyamuknya seolah sudah kebal jadinya tak mempan.
“Kalau di fogging bisa menghilangkan nyamuk selama beberapa hari. Minimal mengurangi pengeluaran buat beli obat nyamuk,” ucapnya.
Bencana ekologi ini mengundang keprihatinan Forum Penyelamat Lingkungan Hidup (FPLH) dan Baguna PDI Perjuangan Jawa Barat. Kedua lembaga ini, bekerja sama melaksanakan kegiatan fogging pada Sabtu (16/5/2026).
“Sebelum melakukan fogging, pada Rabu (13/5/2026) pekan ini, kami terlebih dahulu melakukan asesmen. Apa yang kami saksikan, populasi nyamuk sangat luar biasa. Membuat kami tergerak untuk ikut berperan aktif mencegah terjadinya bencana ekologi. Pada waktu asesmen, hanya tiga RW yang parah selang dua hari, tepatnya hari ini meluas ke delapan RW. Ini menunjukan populasinya terus melonjak,” kata Ketua FPLH Jabar Thio Setiowekti juga Kepala Bidang Mitigasi Baguna PDIP Jabar.
Menurutnya, fogging yang efektif memutus mata rantai nyamuk dewasa harusnya berkesinambungan jangan sampai terputus. Selain itu, baiknya dibarengi dengan pembersihan eceng gondok dari perairan Waduk Saguling.
“Fogging yang kami lakukan bukan yang pertama, Insya Allah ke depan ada aksi lain. Kami mendesak kepada pemerintah daerah untuk menetapkan bencana ekologi ini sebagai kejadian luar biasa (KLB). Sehingga semua sektor bisa terlibat, dan kami juga bisa turut serta di dalamnya,” kata Thio.
Sementara itu, fogging FPLH dan Baguna PDIP Jawa Barat juga melibatkan DKM Al- Furqon, Desa Rancapanggung. Didampingi oleh kader PDIP Kecamatan Cililin ,Agus Rahman. Sasarannya RW 4, 8, 9, dan 10.
“Saya berharap, PT Indonesia Power (IP) segera membersihkan perairan Waduk Saguling dari eceng gondok. Jangan sampai menunggu kejadian buruk dulu, baru mengambil tindakan,” tandasnya.
Di tempat yang sama, Kepala Dusun (Kasus) 3, Desa Rancapanggung, Nauval Irawan mengapresiasi langkah yang diambil FPLH dan Baguna PDI Perjuangan Jawa Barat yang turun tangan membantu mengatasi populasi nyamuk yang sudah mengkhawatirkan.
“Sebelumnya sudah pernah beberapa kali fogging oleh desa bekerja sama dengan Puskesmas Mukapayung. Kami juga sudah mengajukan kembali kepada Dinas Kesehatan (Dinkes) KBB dan IP untuk kembali melakukan fogging,” kata Nauval.
Ia mengungkapkan, serangan nyamuk yang begitu ganas baru pertama kali terjadi di Rancapanggung. Pasalnya, pertumbuhan eceng gondok seperti sekarang setiap tahun selalu terjadi.
“Tapi baru kali ini, eceng gondok yang menutupi Waduk Saguling menjadi sarang nyamuk. Biasanya pula, eceng gondok-eceng gondok tersebut dimanfaatkan petani sebagai pupuk. Tapi sekarang, petani enggak berani mengambil eceng gondok karena langsung digigit nyamuk. Banyak petani yang mengalami bentol-bentol sampai bengkak merah,” tuturnya.*





