Wabah Nyamuk Meluas di Rancapanggung, PT Palawi Risorsis Salurkan Bantuan Mesin Fogging

Hampir setiap Minggu dilaksanakan fogging di Desa Rancapanggung, Kecamatan Cililin, Kabupaten Bandung Barat (KBB). (Dicky Mawardi/Satumedia).**

SATUMEDIA.ID – Wabah nyamuk yang diduga berasal dari hamparan eceng gondok di bantaran Waduk Saguling terus meluas di Desa Rancapanggung, Kecamatan Cililin, Kabupaten Bandung Barat (KBB). Jika sebelumnya hanya menyerang beberapa wilayah, kini hampir seluruh kawasan desa terdampak.

Sekretaris Desa Rancapanggung, Yedi Setiadi, mengatakan penyebaran nyamuk yang semula terkonsentrasi di lima RW kini telah menjangkau seluruh wilayah desa yang terdiri atas 13 RW.

“Awalnya hanya lima RW yang terdampak, dengan kondisi terparah di RW 4, 5, 8, dan 10. Namun sekarang penyebarannya sudah meluas ke seluruh wilayah Desa Rancapanggung,” ujar Yedi usai menerima bantuan mesin fogging dan insektisida dari PT Perhutani Alam Wisata (Palawi Risorsis), Kamis (18/6/2026).

Menurut Yedi, populasi nyamuk yang berkembang di kawasan bantaran Waduk Saguling kini semakin sulit dikendalikan. Bahkan, keberadaannya sudah mencapai area Kantor Desa Rancapanggung dan paling mengganggu aktivitas warga pada sore hingga malam hari.

“Sepanjang sejarah Desa Rancapanggung, baru kali ini terjadi wabah nyamuk seperti sekarang. Sebelumnya tidak pernah ada kejadian seperti ini,” katanya.

Ia menjelaskan, wabah nyamuk yang mulai dirasakan sejak April 2026 justru semakin parah dari waktu ke waktu. Hingga saat ini, lebih dari 2.000 kepala keluarga (KK) dilaporkan terdampak.

Berbagai upaya telah dilakukan untuk menekan penyebaran nyamuk, mulai dari fogging yang dilakukan secara bergantian oleh Dinas Kesehatan KBB, Puskesmas, dan PT Indonesia Power (IP), hingga dukungan dari Baguna PDIP Jawa Barat serta Forum Penyelamat Lingkungan Hidup (FPLH).

Meski demikian, Yedi menilai efek fogging hanya bersifat sementara.”Biasanya hanya beberapa hari wilayah bisa terbebas dari nyamuk. Setelah itu, nyamuk kembali muncul dan menyerang warga,” ujarnya.

Pemerintah desa juga telah mengadakan mesin fogging berukuran kecil untuk mendukung penanganan di lapangan. Namun, keterbatasan alat menjadi kendala dalam menjangkau wilayah yang lebih luas.

“Kami membutuhkan peralatan yang lebih memadai agar pelaksanaan fogging bisa maksimal. Alhamdulillah, sekarang mendapat bantuan dua unit mesin fogging lengkap dengan insektisidanya dari PT Palawi,” kata Yedi.

Penyerahan bantuan mesin fogging dan insektisida dari PT Perhutani Alam Wisata (Palawi Risorsis), Kamis (18/6/2026). (Dicky Mawardi/Satumedia).**

Senior Analis Pengelolaan Destinasi Area Bisnis Wisata Wilayah Barat (ABWWB) Palawi Risorsis, Sunti Rusminiati, menjelaskan bantuan tersebut merupakan bagian dari program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) perusahaan.

“Kami bekerja sama dengan FPLH Jawa Barat memberikan bantuan dua unit mesin fogging yang mampu menjangkau area hingga 20 hektare. Mudah-mudahan bantuan ini dapat membantu menekan penyebaran nyamuk di wilayah terdampak,” ujar Sunti.

Ia menambahkan, bantuan berupa mesin fogging merupakan program TJSL pertama yang diberikan Palawi Risorsis. Sebelumnya, program perusahaan lebih banyak difokuskan pada pelestarian hutan, kesehatan, dan bantuan sosial lainnya.

Sementara itu, Ketua FPLH Jawa Barat, Thio Setiowekti, menilai kondisi yang terjadi di Rancapanggung sudah masuk kategori luar biasa karena penyebarannya terus meluas tanpa penanganan menyeluruh terhadap sumber masalah.

Menurut Thio, ledakan populasi nyamuk tidak terlepas dari semakin masifnya pertumbuhan eceng gondok yang menutupi permukaan Waduk Saguling.

“Beberapa minggu lalu saya masih bisa melihat bentangan air Waduk Saguling di wilayah Rancapanggung. Sekarang hampir seluruh permukaannya tertutup eceng gondok. Kondisi ini memicu ledakan populasi nyamuk. Dulu hanya lima RW yang terdampak, sekarang sudah menyebar ke seluruh desa,” katanya.

Ia mengaku prihatin dengan kondisi yang dihadapi masyarakat karena gangguan nyamuk telah memengaruhi kenyamanan dan aktivitas sehari-hari warga.

Thio berharap pemerintah, BUMN, dan seluruh pemangku kepentingan dapat mengambil langkah yang lebih komprehensif untuk menyelesaikan persoalan tersebut, termasuk menangani pertumbuhan eceng gondok sebagai sumber utama masalah.

Thio berharap kepedulian seperti yang ditunjukkan PT Palawi ini bisa diikuti pihak lain. Penanganan eceng gondok harus dilakukan secara serius, sementara fogging tetap dijalankan untuk mengurangi dampak yang dirasakan masyarakat.

“Saya menyampaikan apresiasi dan mengucapkan terima kasih kepada Direksi PT Perhutani Alam Wisata Risorsis yang peduli terhadap warga Rancapanggung,” pungkasnya.*

 

Pos terkait