SATUMEDIA.ID – Ledakan pertumbuhan eceng gondok (Eichhornia crassipes) di Waduk Saguling, yang meliputi wilayah Kecamatan Cihampelas dan Cililin, Kabupaten Bandung Barat (KBB), disebut sebagai yang terparah dalam beberapa tahun terakhir.
Manajer Administrasi UBP Saguling PT PLN Indonesia Power, Huta Rianto, mengatakan fenomena tersebut memang terjadi hampir setiap tahun. Namun, kondisi pada 2026 jauh lebih buruk dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.
“Fenomena eceng gondok di Waduk Saguling memang kerap terjadi setiap tahunnya. Tapi memang tahun ini menjadi yang paling parah,” kata Huta Rianto, Selasa (30/6/2026).
Saat ini, eceng gondok menutupi sekitar 120 hektare perairan Waduk Saguling yang tersebar di 13 titik. Dari luasan tersebut, sekitar 70 hektare berada di wilayah Desa Rancapanggung, Kecamatan Cililin, sehingga menjadi lokasi dengan sebaran gulma air terluas.
Menurut Huta, pesatnya pertumbuhan eceng gondok dipicu oleh sisa pakan ikan dari aktivitas budidaya yang mengendap di dasar waduk. Endapan tersebut menjadi sumber nutrisi yang mempercepat perkembangbiakan tanaman air itu.
“Sisa pakan ikan yang mengendap di dasar waduk itulah yang menjadi nutrisi bagi tumbuhan eceng gondok, sehingga memicu pertumbuhan yang semakin cepat,” ujarnya.
Besarnya luasan eceng gondok membuat proses pembersihan membutuhkan waktu yang tidak singkat. Khusus di Desa Rancapanggung, pembersihan seluruh area diperkirakan memerlukan waktu hingga dua bulan dengan syarat pekerjaan dilakukan setiap hari.
Untuk mempercepat penanganan, PT PLN Indonesia Power mengerahkan dua alat berat, perahu ponton, armada pengangkut, serta melibatkan masyarakat dan sejumlah instansi terkait.
Saat ini, seluruh alat berat difokuskan di Desa Rancapanggung, sementara pembersihan di titik lainnya tetap berjalan secara paralel. PLN Indonesia Power menargetkan sekitar 30 persen eceng gondok di Waduk Saguling dapat terangkat dalam satu bulan ke depan.
“Kegiatan ini dipusatkan di Desa Rancapanggung, namun secara bersamaan juga dilakukan di sejumlah titik lain, meliputi tiga lokasi di Kecamatan Cililin dan empat lokasi di Kecamatan Cihampelas,” kata Huta.
Sementara itu, Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Bandung Barat mengakui penanganan eceng gondok menghadapi tantangan besar, baik dari sisi waktu maupun anggaran. Selain sekitar 70 hektare yang menutupi perairan di kawasan Cililin, gulma tersebut juga menyebar di lebih dari 100 hektare sepanjang aliran Sungai Citarum.
Kepala DLH KBB, Ibrahim Ajie, mengatakan berdasarkan pengalaman di lapangan, pembersihan satu hektare eceng gondok membutuhkan waktu sekitar satu minggu meski telah menggunakan ekskavator lengan panjang dan ponton.
Artinya, jika seluruh area dibersihkan secara bertahap dengan kapasitas yang sama, prosesnya dapat memakan waktu sekitar 70 minggu atau lebih dari satu tahun. Karena itu, penanganan tidak mungkin dilakukan sendiri dan membutuhkan dukungan lintas instansi.
Menurut Ibrahim, upaya pembersihan bermula dari banyaknya keluhan warga yang terganggu oleh meningkatnya populasi nyamuk yang berkembang biak di antara hamparan eceng gondok.
“Menindaklanjuti hal itu, kami segera memfasilitasi pertemuan lintas sektor yang melibatkan Satgas Citarum Harum, Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS), Dinas Pengelolaan Sumber Daya Air (PSDA) Provinsi, serta PT PLN Indonesia Power untuk menyatukan langkah dan kewenangan masing-masing,” kata Ibrahim saat ditemui di lokasi, Senin (29/6/2026).
Meski demikian, Ibrahim menegaskan kewenangan utama dalam pengelolaan waduk berada di BBWS dan Satgas Citarum Harum, sementara dukungan pendanaan yang lebih besar berasal dari PLN Indonesia Power. Dalam hal ini, Pemerintah Kabupaten Bandung Barat berperan sebagai fasilitator sekaligus penghubung antarinstansi agar penanganan eceng gondok dapat dilakukan secara terpadu.
“Kewenangan ini ada di BBWS dan Satgas Citarum Harum. Kami memfasilitasi karena adanya pengaduan masyarakat terkait nyamuk, lalu kami telusuri sumbernya hingga ke eceng gondok. Akhirnya kami kumpulkan semua pihak untuk berkolaborasi,” jelasnya.*





