BGN Libatkan Sekolah dan Posyandu dalam Pengawasan Digital Program MBG

Dashboard Reviu Menu MBG (Organoleptik) semua wilayah pada Sabtu, 23 Mei 2026 Pukul 21.31 WIB.(Dok.BGN).**

SATUMEDIA.ID – Wakil Kepala Badan Gizi Nasional, Sony Sonjaya, menegaskan langkah digitalisasi pengawasan dalam Program Makan Bergizi Gratis (MBG) melalui peluncuran aplikasi Reviu Menu MBG (Organoleptik). Sistem berbasis digital itu disiapkan untuk memperketat kontrol kualitas makanan sekaligus mempercepat deteksi persoalan di lapangan.

Melalui aplikasi tersebut, pengawasan kualitas MBG kini dilakukan secara real time dengan melibatkan langsung penerima manfaat. Guru yang ditunjuk sekolah serta kepala posyandu (Kaposyandu) menjadi pihak yang bertugas memberikan penilaian terhadap makanan yang diterima.

Setiap paket MBG yang tiba dapat langsung dievaluasi melalui sistem digital berdasarkan sejumlah indikator, mulai dari ketepatan waktu distribusi, aroma makanan, rasa, tampilan, hingga variasi menu yang disajikan. Dengan mekanisme itu, proses evaluasi tidak lagi bersifat manual, melainkan terukur dan terdokumentasi secara langsung dalam dashboard nasional.

Sony menyebut digitalisasi pengawasan tersebut menjadi bagian penting dalam membangun sistem kontrol kualitas MBG yang lebih responsif dan transparan.

“Melalui aplikasi ini, penerima manfaat ikut terlibat dalam pengawasan kualitas MBG. Ini menjadi sistem pengawasan bersama agar seluruh mitra semakin serius menjaga mutu makanan,” ujar Sony dalam siaran pers dikutip Senin (25/5/2026).

Data Dashboard Reviu Menu MBG per Sabtu (23/5/2026) pukul 21.31 WIB menunjukkan sistem pengawasan digital tersebut mulai berjalan masif. Sebanyak 1.707 laporan telah masuk dari berbagai daerah di Indonesia.

Dari jumlah tersebut, sebanyak 1.705 laporan atau 99,88 persen menyatakan makanan layak dikonsumsi. Hanya dua laporan yang mencatat makanan tidak layak konsumsi.

Digitalisasi pengawasan juga memperlihatkan tingkat ketepatan distribusi yang tinggi. Sebanyak 1.672 laporan atau 97,95 persen menyebut makanan diterima tepat waktu maupun lebih awal, sementara keterlambatan distribusi tercatat dalam 35 laporan.

Sementara pada aspek kualitas sensorik, sebanyak 1.702 laporan atau 99,71 persen menyebut aroma makanan layak. Adapun tampilan makanan dinilai sesuai standar dalam 1.697 laporan atau 99,41 persen.

Dari sisi rasa, sebanyak 1.688 laporan atau 98,89 persen menyatakan makanan dalam kondisi normal dan dapat diterima dengan baik oleh penerima manfaat.

Menurut Sony, keterlibatan guru dan Kaposyandu dalam sistem digital tersebut juga menjadi bentuk pengawasan berlapis sekaligus deteksi dini apabila ditemukan potensi masalah dalam distribusi maupun kualitas makanan.

BGN berharap digitalisasi pengawasan ini dapat memperkuat kualitas pelaksanaan Program MBG secara nasional sekaligus meningkatkan kepercayaan masyarakat terhadap program pemenuhan gizi pemerintah.*

Pos terkait