SATUMEDIA.ID – Panitia Program Pentahelix terus mempercepat normalisasi Sungai Cisunggalah di Kecamatan Solokanjeruk, Kabupaten Bandung, guna mengurangi risiko banjir yang selama ini kerap terjadi akibat luapan sungai tersebut.
Hingga Senin (8/6/2026), pengerukan masih berlangsung di wilayah Desa Panyadap. Sebelumnya, kegiatan serupa telah dilakukan di Desa Padamukti dan Desa Cibodas. Proses normalisasi yang telah berjalan hampir dua bulan itu difokuskan pada pengerukan endapan lumpur dan pendalaman badan sungai.
Ketua Pentahelix Asep Hana Kirana mengatakan, kondisi cuaca yang relatif cerah dimanfaatkan untuk mempercepat pekerjaan di lapangan. Saat ini, dua alat berat jenis backhoe dikerahkan untuk mengeruk sedimentasi yang selama ini menghambat kapasitas aliran Sungai Cisunggalah.
“Kami memanfaatkan kondisi tidak turun hujan sehingga aliran sungai kering dan memudahkan proses pengerukan. Pendalaman sungai rata-rata mencapai 1,5 hingga 2 meter,” ujar Asep saat meninjau lokasi pengerjaan.
Menurut dia, normalisasi dilakukan untuk meningkatkan daya tampung sungai sehingga mampu mengalirkan debit air lebih besar ketika hujan deras mengguyur kawasan hulu di Kecamatan Paseh.
Selama beberapa tahun terakhir, warga di sejumlah desa yang berada di sepanjang aliran Sungai Cisunggalah kerap dihantui banjir. Bahkan, luapan sungai pernah menyebabkan tanggul jebol yang mengakibatkan kerusakan rumah warga serta merendam ratusan bangunan.
Asep menilai percepatan pengerukan menjadi langkah strategis untuk menekan potensi banjir yang selama ini mengancam permukiman warga.
Selain normalisasi sungai, Panitia Pentahelix juga menyiapkan tahap lanjutan berupa penataan jembatan yang melintasi Sungai Cisunggalah. Dari sekitar 70 jembatan yang ada, sebagian di antaranya telah dibongkar secara mandiri oleh masyarakat karena dinilai menghambat aliran air.
“Setelah normalisasi selesai, fokus kami berikutnya adalah penataan jembatan. Beberapa warga sudah secara sukarela membongkar jembatan pribadi yang berada di atas sungai,” katanya.
Ia menjelaskan, jembatan yang masih dibutuhkan untuk kepentingan umum akan dibangun kembali dengan konstruksi yang lebih tinggi agar tidak menghambat aliran air saat debit sungai meningkat.
Menurut Asep, keberadaan jembatan yang terlalu rendah menjadi salah satu faktor yang memperbesar risiko banjir karena dapat menahan sampah maupun material yang terbawa arus.
Karena itu, ia mengajak masyarakat untuk terus mendukung program penanganan banjir melalui pembongkaran jembatan pribadi yang tidak lagi diperlukan serta menjaga kebersihan aliran sungai.
“Penanganan banjir tidak bisa dilakukan sendiri. Diperlukan kolaborasi antara panitia pentahelix, pemerintah, dan masyarakat agar ancaman banjir akibat luapan Sungai Cisunggalah dapat diminimalkan,” ujarnya.*





