SATUMEDIA.ID – Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan Republik Indonesia, Agus Harimurti Yudhoyono (AHY), memberikan pembekalan kepada para praja Institut Pemerintahan Dalam Negeri (IPDN) sebagai calon Aparatur Sipil Negara (ASN) masa depan yang akan berperan penting dalam pembangunan bangsa.
Didampingi Wakil Menteri Dalam Negeri Bima Arya Sugiarto, AHY menyampaikan kuliah umum bertema “Menyiapkan ASN Unggul Menjawab Tantangan Pembangunan Bangsa” di Gedung Balairung Rudini IPDN Kampus Jatinangor, Kabupaten Sumedang, Kamis (18/6/2026).
Dalam kesempatan tersebut, AHY juga menyerahkan penghargaan kepada IPDN yang diterima langsung oleh Rektor IPDN, Dr. Halilul Khairi, M.Si. Penghargaan tersebut diberikan sebagai bentuk apresiasi atas kontribusi IPDN dalam mendukung penanganan tanggap darurat, rehabilitasi, dan rekonstruksi pascabencana di Pulau Sumatra sepanjang 2025–2026.
“Pengabdian IPDN ini sangat luar biasa dalam mendukung upaya tanggap bencana, rehabilitasi, dan rekonstruksi pascabencana di Sumatra. Ini menjadi bukti nyata bahwa praja IPDN siap diterjunkan kapan pun, di mana pun, bahkan dalam kondisi yang paling sulit sekalipun,” ujar AHY.
Menurutnya, capaian tersebut menunjukkan keberhasilan IPDN dalam mencetak sumber daya manusia yang unggul, profesional, berintegritas, serta memiliki kapasitas kepemimpinan yang kuat.
AHY menegaskan bahwa para praja perlu memahami berbagai tantangan global yang semakin kompleks, mulai dari krisis iklim, bencana alam, disrupsi teknologi, urbanisasi, keterbatasan sumber daya alam, ketimpangan sosial, hingga dinamika geopolitik dan keamanan global.
“Ketidakpastian dunia saat ini berdampak langsung terhadap Indonesia. Fluktuasi harga minyak dunia, misalnya, sangat dipengaruhi kondisi keamanan global dan berimbas pada perekonomian nasional. Kondisi-kondisi seperti ini harus dipahami dengan baik oleh praja IPDN sebagai calon pemimpin masa depan,” katanya.
Ia menilai Indonesia saat ini berada pada titik krusial antara tantangan global yang semakin berat dan peluang besar yang dapat dimanfaatkan untuk mendorong kemajuan bangsa.
Sebagai negara kepulauan terbesar di dunia dengan lebih dari 17 ribu pulau dan wilayah laut yang mendominasi dua pertiga luas negara, Indonesia memiliki posisi strategis di kawasan Indo-Pasifik. Letak geografis tersebut menjadikan Indonesia sebagai poros maritim dunia yang dilalui sekitar 45 persen rantai logistik perdagangan global.
“Di jantung jalur perdagangan itu terdapat Selat Malaka, salah satu jalur pelayaran paling strategis di dunia. Posisi ini memberikan peluang besar sekaligus tanggung jawab yang tidak ringan bagi Indonesia,” ujarnya.
Selain kekuatan maritim, AHY menyebut Indonesia juga memiliki kekayaan sumber daya alam yang melimpah. Namun demikian, aset terbesar bangsa sesungguhnya adalah kualitas sumber daya manusianya.
Mengacu pada data Badan Pusat Statistik (BPS), jumlah penduduk Indonesia saat ini mencapai 284,43 juta jiwa. Dari angka tersebut, sebanyak 46,18 persen didominasi oleh Generasi Milenial dan Generasi Z yang akan menjadi penentu arah pembangunan nasional di masa mendatang.
“Bonus demografi adalah peluang emas, tetapi juga bisa menjadi tantangan jika tidak dikelola dengan baik. Karena itu, Indonesia membutuhkan ASN masa depan yang tidak hanya cerdas, tetapi juga memiliki integritas tinggi, kompetensi yang adaptif, dan semangat melayani masyarakat,” tutur AHY.
Ia berharap para praja IPDN mampu menjadi ASN yang unggul dan adaptif dalam mengakselerasi pembangunan di pusat maupun daerah.
“Jadilah pemimpin lapangan yang mampu membangun sinergi dan kolaborasi antarpemangku kepentingan. Kuasai teknologi dan pengelolaan data, tetapi jangan pernah kehilangan empati dan jiwa melayani. Jadilah agen perubahan yang mampu menciptakan potensi ekonomi baru, terutama di daerah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T) serta wilayah perbatasan. Yang tidak kalah penting, jaga netralitas, profesionalitas, dan integritas demi terwujudnya tata kelola pemerintahan yang baik,” pesannya.
Senada dengan AHY, Wakil Menteri Dalam Negeri Bima Arya Sugiarto juga mengingatkan para praja untuk mempersiapkan diri menghadapi berbagai tantangan kepemimpinan di masa depan.
Menurut Bima, terdapat empat aspek penting yang harus menjadi perhatian praja, yakni penguatan kurikulum yang relevan, penataan kultur akademik dan pembinaan, menjaga semangat Bhinneka Nara Eka Bhakti hingga akhir masa pengabdian, serta memperkuat peran dan aktivasi jaringan alumni.
“Empat hal tersebut menjadi bekal penting bagi praja untuk menjawab tantangan pemerintahan dan pembangunan yang semakin dinamis,” ujar Bima.
Sebelum memberikan kuliah umum, AHY menyempatkan diri makan siang bersama praja dan jajaran IPDN di Gedung Menza Nusantara. Kegiatan kemudian dilanjutkan dengan lari sore bersama para praja sebagai bentuk kedekatan dan motivasi bagi generasi calon pemimpin bangsa tersebut.*





