SATUMEDIA.ID – Pengentasan rumah tidak layak huni (Rutilahu) di Kabupaten Bandung Barat (KBB) masih menjadi pekerjaan rumah besar. Di tengah keterbatasan anggaran pemerintah daerah, kolaborasi berbagai pihak dinilai menjadi kunci untuk mempercepat rehabilitasi ribuan rumah warga yang belum layak huni.
Kondisi tersebut mendorong Forum Peduli Lingkungan Gerakan Muda Sarimukti (FPL-Garda Sarimukti) bergerak membantu masyarakat. Sejak Oktober 2024 hingga Mei 2026, komunitas itu telah membedah tujuh rumah tidak layak huni di sejumlah RW di Desa Sarimukti, Kecamatan Cipatat.
Ketua FPL-Garda Sarimukti, Dindin Samsudin, mengatakan gerakan tersebut lahir dari kepedulian para pemuda terhadap masih banyaknya warga yang tinggal di rumah dengan kondisi memprihatinkan.
“Kami merasa terpanggil melihat kondisi rumah warga yang sangat memprihatinkan. Bahkan ada rumah yang sudah roboh selama bertahun-tahun, seperti milik Pak Udin,” kata Dindin saat dihubungi, Jumat (26/6/2026).
Menurut Dindin, berdasarkan data pemerintah desa, masih terdapat sekitar 120 hingga 150 rumah yang masuk kategori tidak layak huni di Desa Sarimukti.
Untuk membiayai program bedah rumah, FPL-Garda Sarimukti menghimpun bantuan dari berbagai sumber. Selain menerima donasi rutin dari para dermawan, komunitas itu juga menggandeng pengusaha lokal, pelaku usaha rental angkutan sampah di kawasan TPA Sarimukti, serta memanfaatkan program tanggung jawab sosial perusahaan (CSR).
Dana yang terkumpul kemudian digunakan sebagai modal pembangunan. Setelah anggaran dinilai mencukupi, proses rehabilitasi rumah langsung dilaksanakan dengan dukungan Pemerintah Desa Sarimukti.
Hingga saat ini, tujuh rumah yang telah dan sedang direhabilitasi merupakan milik Abah Mukna di Kampung Cigalih RW 02, Maman di Kampung Cinagrog RW 12, Ading di RW 03, Neni di RW 05, Wahyu di RW 09, Enem di RW 10, serta Udin di RW 02 yang kini memasuki tahap akhir penyelesaian.
Gerakan sosial tersebut juga mendapat perhatian Kepala Dinas Perumahan dan Permukiman (Disperkim) Kabupaten Bandung Barat, Anni Roslianti. Dindin mengungkapkan, Anni secara konsisten memberikan bantuan secara pribadi untuk menutupi kekurangan biaya pembangunan rumah warga.
“Bu Kadis sering membantu material bangunan menggunakan dana pribadi. Itu yang membuat kami salut. Beliau tidak tinggal diam meski kondisi keuangan pemerintah daerah sedang terbatas,” ujar Dindin.
Menurut dia, Anni menunjukkan kepedulian yang tidak hanya sebatas menjalankan tugas sebagai kepala dinas. Ia juga dinilai aktif turun ke lapangan, terbuka menerima masukan, serta dekat dengan masyarakat.
“Hal seperti ini perlu diketahui masyarakat luas, bahwa ada aksi nyata yang dilakukan di luar tugas formalnya,” ucap Dindin.
Selain program bedah rumah, FPL-Garda Sarimukti juga menjalankan berbagai kegiatan sosial lainnya. Saat ini organisasi tersebut tengah mengurus legalitas kelembagaan agar dapat memperluas jangkauan program sekaligus memperkuat kolaborasi dengan lebih banyak pihak.
Dindin berharap gerakan yang lahir dari Desa Sarimukti dapat menginspirasi masyarakat di daerah lain untuk melakukan aksi serupa.
“Kami berharap semakin banyak komunitas yang tergerak membantu warga yang membutuhkan. Dengan begitu, semakin banyak rumah tidak layak huni yang bisa diperbaiki melalui semangat gotong royong,” katanya.





