SATUMEDIA.ID – Kenaikan nilai tukar dolar Amerika Serikat (AS) terhadap rupiah berdampak pada pelaksanaan proyek infrastruktur di Kabupaten Bandung Barat (KBB) pada tahun anggaran 2026. Lonjakan kurs memicu kenaikan harga material konstruksi, terutama aspal dan beton, sehingga pemerintah daerah terpaksa menyesuaikan volume pekerjaan.
Sekretaris Dinas Pekerjaan Umum dan Tata Ruang (PUTR) KBB, Aan Sopian, mengatakan kenaikan harga material terjadi setelah nilai tukar dolar AS menyentuh kisaran Rp18.000.
“Berdasarkan hasil rapat koordinasi dengan Asosiasi Aspal dan Beton Indonesia (AABI) serta perusahaan batching plant, kenaikan dolar AS yang menyentuh Rp18.000 ikut mendorong kenaikan harga aspal dan beton,” kata Aan saat dikonfirmasi, Selasa (30/6/2026).
Meski biaya material meningkat, Pemkab Bandung Barat tidak menambah anggaran proyek. Penyesuaian dilakukan dengan mengurangi volume pekerjaan agar tetap sesuai pagu anggaran yang telah ditetapkan.
“Solusinya adalah mengurangi volume pekerjaan karena tidak mungkin menambah anggaran di tahun berjalan. Misalnya, anggaran yang semula cukup untuk memperbaiki jalan sepanjang 2 kilometer kini hanya mampu mengerjakan sekitar 1,2 kilometer,” ujar Aan.
Sebelumnya, Pemkab Bandung Barat telah meningkatkan anggaran perbaikan jalan pada 2026 menjadi Rp102 miliar. Nilai tersebut naik signifikan dibandingkan alokasi tahun 2025 sebesar Rp60 miliar.
Dengan anggaran tersebut, Dinas PUTR semula menargetkan perbaikan jalan sepanjang 42 kilometer melalui mekanisme e-katalog dan sekitar 7,2 kilometer melalui penunjukan langsung.
“Total panjang jalan yang akan ditangani mencapai 42 kilometer melalui e-katalog dan sekitar 7,2 kilometer melalui penunjukan langsung,” kata Aan.
Ia menjelaskan, seluruh pembiayaan perbaikan jalan pada 2025 dan 2026 bersumber dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) Kabupaten Bandung Barat. Kondisi ini berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya yang masih mendapat dukungan Dana Alokasi Khusus (DAK) dari pemerintah pusat.
“Pada 2024 kami mendapat DAK sekitar Rp60 miliar, sedangkan pada 2023 sekitar Rp28 miliar. Tahun ini dan tahun lalu seluruhnya bersumber dari APBD,” ujarnya.
Salah satu ruas yang ditargetkan tuntas pada 2026 ialah ruas Gununghalu–Datarpuspa sepanjang 1,4 kilometer. Metode perbaikan akan disesuaikan dengan kondisi di lapangan, baik menggunakan konstruksi beton (rigid pavement) maupun hotmix.
“Ada yang menggunakan konstruksi beton, ada juga hotmix. Penentuannya disesuaikan dengan kondisi di masing-masing lokasi,” kata Aan.
Secara keseluruhan, pekerjaan perbaikan jalan akan tersebar di wilayah utara, tengah, dan selatan Kabupaten Bandung Barat. Adapun proyek melalui penunjukan langsung mencakup puluhan ruas jalan dengan nilai masing-masing di bawah Rp400 juta.*




