Kendaraan Listrik Naik Kapal Feri, BRIN Soroti Risiko Kebakaran Baterai

Risiko kebakaran baterai saat kendaraan listrik diangkut menggunakan kapal feri.(Dok.BRIN).**

SATUMEDIA.ID – Meningkatnya penggunaan kendaraan listrik di Indonesia diikuti dengan tantangan baru dalam aspek keselamatan. Salah satunya adalah risiko kebakaran baterai saat kendaraan listrik diangkut menggunakan kapal feri.

Kepala Pusat Riset Teknologi Transportasi (PRTT) BRIN Aam Muharam mengatakan, kebakaran kendaraan listrik memiliki karakteristik berbeda dibandingkan kendaraan berbahan bakar konvensional.

Baterai kendaraan listrik menyimpan energi dalam jumlah besar dan dapat mengalami thermal runaway, yakni kondisi ketika suhu baterai meningkat secara tidak terkendali. Peristiwa tersebut dapat menghasilkan panas dan asap serta meningkatkan kemungkinan kendaraan kembali terbakar setelah api dipadamkan.

“Risiko tersebut semakin kompleks saat kendaraan listrik diangkut dengan kapal feri karena berada di ruang dek dengan akses penanganan terbatas. Dalam kondisi darurat, keselamatan penumpang dan awak kapal harus menjadi prioritas,” ujar Aam dalam webinar “Tantangan Keselamatan Kendaraan Listrik di Kapal Ferry: Risiko Kebakaran dan Evakuasi pada Transportasi Penyeberangan”, Kamis (20/8/2026).

Untuk mengantisipasi risiko tersebut, BRIN menggandeng Badan Klasifikasi Indonesia (BKI), Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT), PT Digital Inovasi Risiko, dan Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS).

Kolaborasi itu diarahkan untuk mengkaji respons darurat terhadap kebakaran kendaraan listrik berbasis baterai dalam transportasi laut.

Menurut Aam, penelitian dilakukan dengan melihat keselamatan dari berbagai sudut pandang. Kajian tersebut mencakup safety risk assessment pengangkutan kendaraan listrik di kapal feri, simulasi kebakaran dan evakuasi, serta eksperimen terhadap sel baterai.

“Melalui kajian ini, kami berharap dapat memperkuat pemahaman mengenai keselamatan kendaraan listrik di kapal feri sekaligus mendukung penyusunan rekomendasi dan pedoman keselamatan yang berbasis kajian ilmiah dan kondisi lapangan,” kata Aam.

Risiko Berbeda dengan Kendaraan Konvensional

Kepala Organisasi Riset Energi dan Manufaktur BRIN Cuk Supriyadi Ali Nandar mengatakan, elektrifikasi transportasi merupakan bagian dari perubahan besar di sektor energi dan transportasi Indonesia.

“Elektrifikasi transportasi menjadi langkah strategis untuk mewujudkan transportasi yang lebih efisien, rendah emisi, berkelanjutan, dan mendukung pencapaian net zero emission nasional,” ujarnya.

Namun, Cuk mengingatkan bahwa transisi tersebut juga harus diikuti kesiapan sistem keselamatan. Bertambahnya kendaraan listrik harus dibarengi dengan pemahaman terhadap risiko yang muncul.

Risiko itu semakin penting diperhatikan dalam transportasi penyeberangan karena kapal feri mengangkut kendaraan dalam jumlah banyak di ruang yang relatif terbatas.

“Tantangan ini semakin penting ketika kendaraan listrik digunakan dalam transportasi penyeberangan. Kapal feri memiliki peran penting dalam menghubungkan antarpulau dan mengangkut berbagai jenis kendaraan, termasuk kendaraan listrik yang penggunaannya terus meningkat,” katanya.

Cuk berharap hasil penelitian tidak hanya berakhir sebagai publikasi ilmiah. Menurut dia, hasil kajian harus dapat diterapkan untuk menyusun pedoman teknis, mendukung pengambilan kebijakan, dan memperkuat sistem keselamatan transportasi.

Wakil Ketua Umum Bidang Penelitian dan Pengembangan Perkumpulan Industri Kendaraan Listrik Indonesia (Periklindo) Prabowo Kartoleksono mengatakan, kemungkinan kendaraan listrik mengalami kebakaran relatif rendah.

Meski demikian, penanganannya tidak dapat disamakan dengan kendaraan konvensional karena baterai litium-ion memiliki karakteristik kebakaran tersendiri.

Tantangan tersebut semakin besar ketika kendaraan listrik diangkut menggunakan kapal roll-on/roll-off (ro-ro). Kepadatan kendaraan, ruang yang relatif tertutup, dan keterbatasan akses penanganan membuat kondisi darurat membutuhkan kesiapan khusus.

Sementara itu, PT ASDP Indonesia Ferry telah menerapkan sejumlah prosedur untuk mendukung keselamatan pengangkutan kendaraan listrik.

Ekawati Basir dari PT ASDP Indonesia Ferry mengatakan, prosedur tersebut antara lain berupa identifikasi kendaraan sejak berada di pelabuhan, perencanaan pemuatan, hingga penempatan kendaraan listrik pada area yang telah ditentukan di kapal.

Kajian BRIN juga menekankan pentingnya skenario tanggap darurat apabila terjadi thermal runaway di dek kapal. Penanganan tidak hanya membutuhkan kesiapan peralatan, tetapi juga regulasi yang jelas serta kompetensi awak kapal.

BRIN bersama mitra mendorong penelitian lanjutan yang meliputi simulasi kebakaran, kajian evakuasi, faktor manusia, dan penerapan hasil riset di lapangan.

Hasil penelitian tersebut diharapkan dapat menjadi bahan pembaruan pedoman teknis kapal pengangkut kendaraan listrik sekaligus mendukung pembentukan standar keselamatan nasional.

Dengan melibatkan peneliti, regulator, operator, industri, dan pemangku kepentingan lainnya, BRIN berharap sistem keselamatan transportasi penyeberangan dapat mengikuti perkembangan penggunaan kendaraan listrik di Indonesia.*

Pos terkait