SATUMEDIA.ID – Masyarakat Adat Gunung Tangkubanparahu dan Kasepuhan Kampung Adat Gamblok Cikole Lembang menggelar ruwatan Gunung Tangkubanparahu, Selasa (16/7/2024).
Ruwatan bertempat di Pamandian Air Karamat Cikahuripan, Karamat Pancuran Hiji yang berada di kawasan Gunung Tangkubanparahu. Diselenggarakan bertepatan dengan 10 Muharram 1446 Hijriah yang juga diikuti warga luar daerah Jawa Barat.
“Tradisi ini sebagai upaya melestarikan kearifan lokal dalam menjaga kelestarian alam. Perlu terus dijaga serta dipertahankan agar warisan leluhur tidak hilang atau punah ditelan zaman, serta terciptanya keseimbangan antara manusia dengan alam,” kata Pemangku Adat, Budi Raharja usai ruwatan.
Oleh karena itu, menurutnya, pihak yang berkepentingan di sekitar kawasan Gunung Tangkubanparahu harus berkontribusi menjaga kelestarian lingkungan. Hal itu sebagai bentuk tanggung jawab sosial dan kepedulian terhadap kelestarian alam.
Ia menyebut, menjaga kelestarian lingkungan menjadi tema ruwatan yaitu
“Ngajaga Kalestarian Tangkuban Parahu Pikeun Ngajaga Kasaimbangan Manusa Jeung Alam”.
Budi menjelaskan alasan mengambil tema tersebut karena kondisi kawasan Tangkubanparahu saat ini, baik di puncak maupun kaki gunung banyak tersebar destinasi wisata alam.
“Tema ini sebagai pengingat kepada semua pelaku usaha jasa pariwisata alam dan masyarakat agar dalam pemanfaatan kawasan gunung dan kaki gunung tetap mengedepankan kelestarian alam dengan tidak banyak merubah bentuknya,” ujarnya.
Dirinya selalu bersyukur pada pencipta alam semesta yang telah memberikan segalanya termasuk Gunung Tangkubanparahu karena menjadi sumber mata pencaharian bagi masyarakat setempat.
“Keberadaan Tangkubanparahu menjadi sumber ekonomi. Banyak yang bekerja di sektor pariwisata, kehutanan, perkebunan sampai peternakan,” ujarnya.*





