Hotspot Karhutla Naik, 61 Armada Udara Disiagakan untuk Penanganan

Kebakaran hutan di kawasan Taman Nasional Baluran, Kabupaten Situbondo, Jawa Timur. (Dok.Kemenhut).**

SATUMEDIA.ID – Kementerian Kehutanan meningkatkan kewaspadaan terhadap kebakaran hutan dan lahan (karhutla) setelah jumlah titik panas atau hotspot dengan tingkat kepercayaan tinggi di Indonesia mengalami peningkatan.

Berdasarkan pemantauan Sistem Informasi Pengendalian Kebakaran Hutan dan Lahan (SiPongi) Kementerian Kehutanan, hingga Sabtu (26/9/2026) pukul 21.15 WIB terdapat 331 hotspot high confidence di Indonesia.

Jumlah tersebut meningkat 118 titik dibandingkan sehari sebelumnya yang tercatat sebanyak 213 hotspot.

Kementerian Kehutanan menyatakan kenaikan hotspot menjadi dasar untuk memperkuat verifikasi dan respons di lapangan, terutama di wilayah yang menunjukkan peningkatan signifikan.

Dari enam provinsi yang menjadi prioritas pengendalian karhutla, Kalimantan Selatan mencatat hotspot terbanyak, yakni 40 titik.

Jumlah tersebut meningkat tajam dari sehari sebelumnya yang hanya enam titik.

Sumatera Selatan berada di urutan berikutnya dengan 38 hotspot, naik dari 17 titik.

Sementara itu, Kalimantan Tengah mencatat 30 hotspot, turun dari 57 titik pada hari sebelumnya.

Penurunan juga terjadi di Kalimantan Barat, dari 14 menjadi dua titik. Jambi tercatat satu hotspot atau tidak mengalami perubahan, sedangkan Riau nihil hotspot high confidence.

Secara keseluruhan, enam provinsi prioritas tersebut mencatat 111 hotspot high confidence.

Kementerian Kehutanan memberikan perhatian lebih terhadap perkembangan hotspot di Kalimantan Selatan dan Sumatera Selatan. Adapun penurunan hotspot di Kalimantan Tengah dan Kalimantan Barat tetap perlu diikuti patroli dan pemantauan untuk mencegah kebakaran kembali meluas.

Kementerian Kehutanan menjelaskan, hotspot merupakan indikasi anomali suhu permukaan yang terdeteksi melalui satelit NASA Terra/Aqua, SNPP, dan NOAA-20.

Dengan demikian, jumlah hotspot tidak dapat secara langsung disamakan dengan jumlah kejadian kebakaran ataupun luas lahan yang terbakar.

Satu kejadian kebakaran bahkan dapat terdeteksi sebagai lebih dari satu hotspot.

Karena itu, setiap indikasi hotspot tetap membutuhkan verifikasi lapangan untuk memastikan apakah benar terjadi kebakaran.

61 Armada Udara Disiagakan

Selain memperkuat penanganan di darat, pemerintah juga mengoperasikan 61 unit armada udara untuk mendukung pengendalian karhutla.

Sebanyak 17 unit digunakan untuk patroli dan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC), sedangkan 44 unit lainnya dikerahkan untuk operasi water bombing.

Dari jumlah tersebut, 55 unit armada ditempatkan untuk mendukung penanganan karhutla di enam provinsi prioritas. Sementara enam unit water bombing lainnya diperbantukan di wilayah terdampak lainnya.

Operasi udara dilakukan bersamaan dengan penanganan di darat yang melibatkan Manggala Agni Kementerian Kehutanan, BNPB, TNI, Polri, BPBD, pemerintah daerah, masyarakat, relawan, serta dunia usaha.

Tim di lapangan melakukan berbagai upaya, mulai dari patroli, groundcheck, pemadaman langsung, penyekatan penjalaran api, pembasahan, mopping up, hingga pendinginan.

Penanganan juga difokuskan pada kawasan gambut. Sebab, api di lahan gambut dapat bertahan di bawah permukaan dan kembali muncul ketika kondisi lahan mengering serta angin menguat.

Peningkatan hotspot juga menjadi perhatian karena dampak asap masih dirasakan di sejumlah wilayah.

Berdasarkan pemantauan kualitas udara PM2,5, sebagian besar wilayah Indonesia berada dalam kategori baik hingga sedang. Namun, sejumlah daerah di Kalimantan dan Sumatera masih mengalami kualitas udara tidak sehat hingga sangat tidak sehat. Bahkan, di lokasi tertentu terpantau kategori berbahaya.

Kondisi asap juga memengaruhi jarak pandang penerbangan.

Pada pengamatan dini hari, jarak pandang di Palangka Raya tercatat sekitar 0,6 kilometer dengan kondisi berasap. Di Banjarmasin sekitar 1,7 kilometer, Pontianak dua kilometer, dan Jambi 4,8 kilometer.

Sementara itu, jarak pandang di Palembang sekitar tujuh kilometer dengan kondisi berawan. Di Pekanbaru, jarak pandang tercatat sekitar tiga kilometer disertai hujan ringan.

Kementerian Kehutanan mengingatkan bahwa perubahan jumlah hotspot tidak selalu langsung diikuti dengan membaiknya kualitas udara.

Asap dapat bertahan di suatu wilayah atau berpindah mengikuti kondisi atmosfer dan arah angin. Karena itu, pemantauan hotspot, kualitas udara, kondisi cuaca, serta jarak pandang terus dilakukan secara bersamaan.

Masyarakat di wilayah terdampak diminta mengikuti perkembangan kualitas udara dan arahan pemerintah daerah.

Jika kualitas udara memburuk, masyarakat dianjurkan mengurangi aktivitas di luar ruangan dan menggunakan masker apabila harus beraktivitas di luar rumah.

Kelompok rentan seperti anak-anak, ibu hamil, lanjut usia, serta masyarakat yang memiliki gangguan pernapasan atau penyakit kronis juga diminta mendapat perhatian lebih.

Kementerian Kehutanan turut mengingatkan bahwa karhutla tidak hanya mengancam kesehatan manusia, tetapi juga keberlangsungan satwa liar dan habitatnya.

Kebakaran dapat menghilangkan habitat dan sumber pakan satwa sekaligus mendorong satwa keluar dari kawasan hutan.

Masyarakat yang menemukan satwa liar keluar dari habitatnya akibat kebakaran diminta tidak melakukan penanganan sendiri.

Masyarakat diimbau menjaga jarak, mencatat lokasi apabila memungkinkan, dan segera melaporkannya kepada Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) atau petugas kehutanan terdekat.

Kementerian Kehutanan juga kembali mengingatkan masyarakat dan pelaku usaha agar tidak membuka ataupun membersihkan lahan dengan cara membakar.

Informasi mengenai asap, titik api, maupun aktivitas pembakaran diharapkan segera dilaporkan agar dapat ditangani sedini mungkin.*

Pos terkait