SATUMEDIA.ID – Kondisi keluarga pasangan Dede Muhammad Yusuf (52) dan Tuti Awaliah (34) sangat memprihatinkan. Bukan hanya dari sisi ekonomi, tapi juga keadaan fisiknya.
Dede yang akrab dipanggil Pak Ade sejak usia 8 tahun mengalami kebutaan, sementara istrinya mengalami kelainan pada bagian jari tangan dan kaki.
Keluarga sederhana ini tinggal di Kampung Cikara RT 2/RW 11, Desa Cisomang Barat, Kecamatan Cikalongwetan, Kabupaten Bandung Barat (KBB). Jika Ade mengalami kebutaan sejak usia 8 tahun, sementara istrinya, Tuti mengalami kelainan pada jari tangan dan kakinya.
“Saya sudah merasakan ada masalah pada badan ini ketika usia 4 tahun. Ibu cerita, kalau saya akan naik tangga suka merasakan sakit di punggung,” kata Tuti saat ditemui di rumahnya, Selass (13/8/2024).
Puncaknya terjadi saat Tuti duduk di bangku kelas 3 Sekolah Dasar. Hampir sebulan mengalami gejala demam dan merasakan nyeri pada seluruh bagian ototnya.
“Dari saat itulah saya mulai mengalami masalah pada bagian jari kaki dan tangan,” ucapnya.
Jari pada kaki dan tangannya mengalami bengkok-bengkok. Ia juga tak bisa berjalan jauh dan berdiri lama.
Ternyata apa yang menimpa dirinya, juga dirasakan tiga dari empat orang anak-anaknya. Anak pertamanya, yang merupakan perempuan kini duduk di bangku kelas 7 SMPLB Cahya Putra, Kecamatan Cipeundeuy.
Begitupun dua anak kembar laki-lakinya yang berusia 4 tahun cara berjalannya berbeda dengan anak sebayanya.
“Saya enggak tahu apa penyebabnya. Saat anak-anak masih dalam kandungan memang tidak pernah memeriksakan ke posyandu. Bukan tidak mau, tapi kondisi saya tak bisa berjalan jauh. Sementara posyandu jauh dari rumah,” tuturnya.
Keluarga sederhana ini, untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari bekerja sebagai buruh pemotong basreng. Dalam sehari, Tuti dan suaminya bisa memotong basreng sebanyak 5 bal.
“Upah memotong basreng Rp 5 ribu per bal. Jika sehari 5 bal, upah yang diterima Rp 25 ribu. Saya mengerjakan bersama suami, walaupun memang penglihatannya mengalami kebutaan,” ucapnya.
Ia mengaku sebagai penerima program Bantuan Pemerintah Non Tunai (BPNT). Dirinya bersyukur mendapat bantuan sembako dari program BPNT tersebut.
“Tapi sudah tiga tahun kami sekeluarga tidak masuk dalam program keluarga harapan (PKH). Saya tidak tahu mengapa dicoret,” imbuhnya.
Camat Cikalongwetan, Dadang A. Sapardan merespon cepat laporan ada satu keluarga disabilitas di Kampung Cikara, Desa Cisomang Barat.
“Saya menerima laporan ada satu keluarga disabilitas di Cisomang Barat. Langsung saya bersama unsur TNI/Polri mengecek informasi tersebut,” kata Dadang.
Ia mengaku prihatin dengan keluarga tersebut. Sebagai tindaklanjuti dari kunjungan ke rumah keluarga difabel, pihaknya sudah berkoordinasi dengan Dinas Kesehatan dan Dinas Sosial KBB.
“Tadi saya sudah mengontak puskemas untuk memeriksa kondisi kesehatan keluarga tersebut. Untuk persoalan PKH dikoordinasikan dengan Dinas Sosial KBB,” tandasnya.
Dirinya merasa bersyukur yang sudah melaporkan adanya sekeluarga yang disabilitas. Sehingga pemerintah bisa cepat hadir untuk memberikan pelayanan terbaik.
“Informasi seperti ini sangat penting sehingga pemerintah bisa mengambil langkah-langkah penanganan. Jika tidak ada laporan dari masyarakat, jujur kami tidak akan tahu,” tandasnya.*





