Soreang Menjelma Menjadi Kota Kuliner

Rumah Makan Selera Sunda yang dulu dikenal Warung Tengah Sawah berada di Jalan Terusan Al Fathu. Menjadi salah satu warung nasi yang melegenda di Soreang/Dicky Mawardi/Satumedia.

SATUMEDIA.ID – Soreang dulunya sepi dan kerap menjadi bahan cibiran dinilai lambat pertumbuhan pembangunannya jauh dari kesan potret sebuah Ibu Kota Kabupaten Bandung.

Diketahui, Soreang ditetapkan menjadi Ibu Kota Kabupaten Bandung berdasarkan
Peraturan Pemerintah Nomor 2 tahun 1986. Dengan terbitnya PP ini akhirnya ibukota Kabupaten Bandung secara resmi dipindahkan Ke Soreang. Pada tahun 1987 dimulai Pembangunan Komplek Perkantoran Pemerintah Kabupaten Bandung yang berlokasi di Desa Pamekaran di pinggir Jalan Raya Kopo.

Pada awal 2000-an saja, perkantoran yang ada masih sangat sedikit. Bank-bank milik pemerintah, perusahaan swasta, sampai dealer mobil dan motor pun seperti enggan membuka kantor cabang di Soreang.

Malah jumlah warung makan atau restoran jumlahnya masih dapat dihitung dengan jari. Sebut saja Rumah Makan Panyaungan, Rumah Makan Kampung Sawah, Manjabal 2, dan Warung Tengah Sawah yang orang menyingkatnya WTS.

“Dulu kalau mau kulineran, ya ketiga tempat makan itu. Kalau bosan, biasanya nyari tempat ke Kota Bandung,” kata Astuti (45) warga Desa Mekarrahayu, Kecamatan Margaasih, Kabupaten Bandung pada Senin (29/4/2024).

Tentunya yang paling fenomenal dan paling banyak dikunjungi Aparatur Sipil Negara (ASN) Pemkab Bandung Barat adalah Rumah Makan “WTS”. Lokasinya berada di Jalan Terusan Al Fathu.

Paling ramai pas jam makan siang. Menu favoritnya oseng daging kambing dan cimplung kentang. Pada jam makan siang pengunjungnya banyak yang berseragam ASN.

Astuti menyebut, dinamakan WTS karena ketika itu di samping kanan dan kiri rumah makan tersebut masih berupa sawah. Makanya, orang menyebutnya Warung Tengah Sawah alias WTS.

“Sekarang bukan lagi warung tengah sawah, namanya berganti menjadi Rumah Makan (RM) Selera Sunda. Tapi apa dulu emang namanya sudah RM Selera Sunda, tapi ketika itu lebih dikenal dengan sebutan WTS,” ucapnya.

Tapi itu cerita dulu, sejak Tol Soroja (Soreang-Pasirkoja) diresmikan pada 4 Desember 2017 oleh Presiden Jokowi, Kota Soreang perlahan tapi pasti mulai menunjukkan perubahan.

Kota Soreang semakin ramai. Terutama bermunculannya tempat kuliner baru yang tumbuh bak jamur di musim hujan.

Begitu keluar dari pintu Tol Soroja, di sisi kiri dan kanan jalan bakal disambut dengan beragam rumah makan yang menyajikan menu beragam.

Bahkan dalam kurun waktu tiga tahun terakhir rumah makan – rumah makan besar bermunculan. Sebut saja Rumah Pawon Bu Sri, Saung Soreang, Laksana, Dapuran Awi, dan sebagainya. Semuanya menyajikan masakan Sunda sebagai andalannya.

Belum lagi warung-warung nasi, warung bakso, tempat ngopi, dan lainnya akan mudah ditemui. Jaraknya sangat berdekatan jadi tak akan sulit untuk mencari tempat makan.

Malah kini, orang luar Kabupaten Bandung justru berdatangan ke Soreang untuk sekedar mengisi perut. Mereka beralasan mencari tempat makan di Kota Bandung habis waktu di jalan karena macet.

“Seperti saya dari Cimahi, mending cari tempat makan di Soreang. Selain tempatnya representatif juga akses jalannya bebas macet. Keluar Tol Soreang sudah banyak pilihan tempat makan,” kata Setiawan warga Cijerah, Kota Cimahi.

Begitupun dengan Edwan warga Jalan Jakarta, Kota Bandung. Memilih kulineran di Soreang selain lingkungannya masih bersih, akses mudah, juga jauh dari kebisingan kendaraan.

“Makan di Soreang sambil istirahat,” ucap Edwan.

Mengutip dari tulisan T. Bachtiar anggota Masyarakat Geografi Nasional Indonesia dan Kelompok Riset Cekungan Bandung, ternyata Soreang dari dulu sudah menjadi tempat untuk berhenti mengaso bagi para pengembara setelah menempuh perjalanan panjang dari berbagai arah, baik dari arah utara, selatan, atau timur, sebelum menuju tempat yang lebih tinggi ke arah bukit dan gunung, atau menuju arah sebaliknya, dari arah gunung untuk menuju tempat-tempat yang lebih datar.

Kini, di era modern Soreang kembali menjadi tempat beristirahat sambil ngaso. Tentunya pertumbuhan tempat-tempat kuliner tak bisa dilepaskan dari kebijakan Pemkab Bandung yang memberikan kemudahan berinvestasi di Kabupaten Bandung.

Hal itu menjadi bagian dari komitmen Bupati Bandung Dadang Supriatna yang memberikan kemudahan-kemudahan dalam regulasi, termasuk perizinan menjadi

Kemudahan regulasi dan perizinan diklaim Bupati Dadang Supriatna menjadi salah satu yang mendongkrak Pendapatan Asli Daerah (PAD).

Bupati mengungkapkan pada saat dirinya dilantik menjadi Bupati Bandung pada 26 April 2021 silam, pada saat itu Pendapatan Asli Daerah (PAD) Kabupaten Bandung di posisi Rp 969 miliar.

“Saat ini sudah mencapai Rp 1,3 triliun. Tentunya ini hasil kerja sama semua pihak, dengan adanya peningkatan PAD Kabupaten Bandung tersebut,” katanya.

Dikatakan Dadang, adanya peningkatan PAD itu, setelah pihaknya memberikan kemudahan-kemudahan dalam regulasi, termasuk perizinan.

“Karena tidak mungkin pendapatan bisa meningkat kalau tidak dibarengi dengan pelayanan yang maksimal. Tentunya saya menghaturkan terima kasih kepada seluruh jajaran ASN Kabupaten Bandung dan juga para investor yang sudah masuk ke Kabupaten Bandung dan disiplin untuk bisa memberikan kewajiban,” tutur Kang DS panggilan akrab Dadang Supriatna.

Kang DS mengatakan semua pajak yang diberikan kepada Pemkab Bandung, seluruhnya untuk pembangunan di Kabupaten Bandung.

“Dan tentunya Alhamdulillah bersyukur, APBD Kabupaten Bandung pun yang asalnya Rp 4,6 triliun pada 2021, saat ini sudah mencapai Rp 7,4 triliun,” tukasnya.(Advetorial)*

 

Pos terkait