SATUMEDIA.ID – Belajar memaafkan menjadi sesuatu yang menarik untuk didiskusikan. Pertanyaan awal adalah siapa yang tidak akan terluka ketika disakiti oleh orang lain.
Selanjutnya bagaimana yang tersakiti untuk memaafkan ? Istilah memaafkan dalam bahasa Arab sendiri adalah Al ‘Afwu. Artinya secara bahasa adalah melewatkan, membebaskan, meninggalkan pemberian hukuman, menghapus, dan meninggalkan kekasaran perilaku.
Sementara itu, secara istilah Al ‘Afwu juga dapat bermakna menggugurkan (tidak mengambil) hak yang ada pada orang lain. Hal ini menjadi bukti mulianya sikap pemaaf.
Agar diskusi fair lebih baik disajikan dulu dalil atau dasar al quran dan hadist tentang muslim yang memaafkan .
Surat Al A’raf ayat 199, “Jadilah pemaaf dan suruhlah orang mengerjakan yang ma’ruf, serta jangan pedulikan orang-orang yang bodoh.”
Surat Al Hijr ayat 85, “ Kami tidak menciptakan langit dan bumi serta apa yang ada di antara keduanya, melainkan dengan benar. Sesungguhnya kiamat pasti akan datang. Maka, maafkanlah (mereka) dengan cara yang baik”
Surat As Syura ayat 40, “Balasan suatu keburukan adalah keburukan yang setimpal. Akan tetapi, siapa yang memaafkan dan berbuat baik (kepada orang yang berbuat jahat), maka pahalanya dari Allah. Sesungguhnya Dia tidak menyukai orang-orang zalim”.
Surat As Syura ayat 43, “Akan tetapi, sungguh siapa yang bersabar dan memaafkan, sesungguhnya yang demikian itu termasuk urusan yang (patut) diutamakan”
Selanjutnya untuk menambah hazanah memaafkan kesalahan orang lain dilampirkan juga hadits yang menguatkan hal itu diantaranya :
1. HR Muslim , Dari Abu Hurairah RA, bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Tidaklah sedekah itu mengurangi harta, dan tidaklah Allah menambah bagi seorang hamba dengan pemberian maafnya (kepada saudaranya,) kecuali kemuliaan (di dunia dan akhirat), serta tidaklah seseorang merendahkan diri karena Allah kecuali Dia akan meninggikan (derajat)nya (di dunia dan akhirat).”
2. HR Al Anshari, “Orang yang paling penyantun di antara kalian adalah orang yang bersedia memberi maaf walaupun ia sanggup untuk membalasnya.” (HR Al Anshari).
3. HR Bukhari dan Ad Dailami, Rasulullah SAW bersabda, “Iman yang paling utama adalah sabar dan pemaaf atau lapang dada.”
4. HR At Thabrani, “Maafkanlah, niscaya kamu akan dimaafkan (oleh Allah).”
Memang memaafkan seseorang, teorinya memang lebih mudah daripada praktiknya. Memaafkan seseorang memang tak selalu mudah, tapi kita masih bisa melapangkan hati kita agar bisa menghadirkan maaf untuknya.
Daripada berlarut-larut tanpa ujung sementara kehidupan terus berjalan – ingatkan saja diri bahwa kejadian yang berlalu sudah berlalu. Biarkan tetap ada di masa lalu.
Dengan demikian, kita bisa fokus dengan masa yang akan datang. Kita memang manusia biasa. Tak luput dari salah dan dosa. Ketika ada orang yang berbuat salah pada kita, pilihan paling bijak yang bisa diambil adalah memaafkannya.
Memaafkan seseorang bisa terjadi dalam sekali kesempatan. Namun, kalau memang butuh waktu untuk memaafkan seseorang, pelan-pelan saja. Kadang butuh proses yang lebih lama untuk bisa benar-benar berdamai dengan keadaan yang penting adalah mengizinkan diri berproses memaafkan, bukan malah menyimpan dendam.
Makin lama menyimpan dendam, makin menderita diri kita sendiri. Tak perlu membuat skenario buruk untuk membalas perbuatannya atau mencelakakan dirinya. Dengan dalil atau dasar al Quran dan hadits diawal seyogyanya muslim yang beriman dan bertaqwa harus saling memaafkan minimalnya belajar memaafkan….
*Penulis Dede Supriatna mantan pegawai Bank BRI, lulusan Magister Ekonomi Pembangunan FEB UGM

