SATUMEDIA.ID – Bencana sampah TPA Leuwigajah yang terjadi pada 21 Februari 2005 menjadi peristiwa kelam. Sekaligus menjadi pengingat bagi generasi masa depan, tentang buruknya penanganan sampah di Indonesia.
Tercatat 157 orang meninggal akibat tertimbun longsoran sampah. Dilihat dari jumlah korban tewas, menjadikan tragedi TPA Leuwigajah menjadi yang terburuk kedua di dunia.
Dimana lima tahun sebelumnya, tepatnya
10 Juli 2000, TPA Payatas, Quezon City, Filipina juga mengalami longsor. Sebanyak 200 orang tewas tertimbun longsoran sampah.
Kini, 21 Februari 2025 tepat 20 tahun tragedi TPA Leuwigajah terjadi. Longsoran sampah sepanjang 200 meter dengan tinggi 60 meter bergerak menimbun permukiman warga di Kampung Cilimus dan Kampung Pojok, Kecamatan Batujajar, Kabupaten Bandung (sekarang Kabupaten Bandung Barat).
Kejadian di tengah dinginnya malam dan hujan deras, tak bisa dilupakan Abah Widi (62). Ia harus kehilangan saudaranya yang menjadi salah satu korban bencana longsoran sampah.
Di lokasi tersebut ada dua rumah saudaranya dan salah satunya selamat lantaran sampah yang menerjang tertahan sebuah pohon kelapa yang berada tepat di depan pintu rumahnya.
“Sebelum terjadi longsor, diawali dengan ledakan keras. Diduga itu akibat gas metan dari dalam tumpukan sampah. Itu juga yang diduga menyebabkan suara ledakan,” kata Abah Widi sesepuh Kampung Adat Cireundeu saat ditemui, Jumat (21/2/2025).
Menurutnya, tragedi TPA Leuwigajah yang 20 tahun lalu itu, bukanlah bencana alam melainkan kelalaian manusia yang tidak mampu mengelola sampah secara baik.
“Ada saksi mata yang melihat api di tumpukan sampah kemudian disusul bunyi ledakan. Sampai akhirnya terjadi longsor sampah,” sebutnya.
Menurutnya, peringatan tragedi TPA Leuwigajah sudah yang ke 20 kali. Memberi pesan moral bahwa akibat buruknya penanganan sampah menyebabkan ratusan nyawa manusia melayang.
“Tragedi ini jangan sampai terulang kembali. Cukup TPA Leuwigajah saja yang mengalami peristiwa buruk ini,” lirihnya.*





