SATUMEDIA.ID – Aksi unik warga Desa Cikahuripan, Kecamatan Lembang, Kabupaten Bandung Barat (KBB), menjadi sorotan publik. Kesal karena jalan alternatif Manoko–Lembang tak kunjung diperbaiki, warga menancapkan belasan batang pohon pisang di lubang-lubang jalan yang rusak parah.
Pohon-pohon pisang itu berjajar dari Kampung Manoko hingga Kampung Binahurip sepanjang 2,1 kilometer, menjadikan jalan kabupaten tersebut layaknya “kebun pisang” dadakan. Aksi ini viral di media sosial dan memicu beragam komentar dari netizen.
Merespons cepat, Pemerintah Kabupaten Bandung Barat melalui Dinas Pekerjaan Umum dan Tata Ruang (PUTR) turun langsung ke lokasi bersama Komisi III DPRD KBB, Camat Lembang Bambang Eko, dan Kepala Desa Cikahuripan Oman Haryanto.
“Satu hari setelah keluhan warga muncul di media sosial, kami langsung mengecek kondisi di lapangan. Dari hitungan kami, untuk perbaikan jalan sepanjang 2,1 kilometer dibutuhkan anggaran Rp4,68 miliar. Rencananya jalan ini akan dibeton,” kata Plt Kepala Dinas PUTR KBB, Aan Sopyan, Minggu (21/9/2025).
Namun, Aan mengakui perbaikan permanen baru bisa masuk dalam APBD 2026. Hal ini lantaran APBD Perubahan 2025 sudah dalam tahap evaluasi gubernur dan terbentur dari sisi pewaktuan.
“Untuk penanganan awal, setidaknya dibutuhkan Rp400 juta. Mudah-mudahan ada peluang pergeseran anggaran, sehingga penanganan darurat bisa dilakukan tahun ini,” ujarnya penuh harap.
Langkah cepat pemerintah diharapkan dapat meredakan kekecewaan warga, yang sudah bertahun-tahun menunggu perbaikan jalan kabupaten tersebut.
Ketua Komisi III DPRD KBB, Pither Tjuandys mengatakan, upaya perbaikan jalan kabupaten yang rusak tersebut sudah diusulkan melalui Musyawarah Rencana Pembangunan (Musrenbang) pada tahun 2024 dan 2025, namun belum ada realisasi.
Ia menegaskan DPRD akan terus mendorong agar perbaikan bisa diprioritaskan di 2026.
“Perbaikan jalan memang tidak bisa instan karena terkait mekanisme anggaran. Tapi kami akan mendorong PUTR supaya tahun depan jalan ini bisa diperbaiki melalui APBD maupun Dana Alokasi Khusus (DAK),” kata Pither.(Diskominfotik KBB).*





