150 Rumah di Kota Bandung Terancam Krisis Air, Wakil Wali Kota Siapkan Solusi

Wakil Wali Kota Bandung Erwin mengadakan dialog dengan warga Komplek Taman Sakura Indah, Kelurahan Sukahaji, Kecamatan Babakan Ciparay, Kota Bandung,

SATUMEDIA.ID – Sebanyak 150 rumah di Komplek Taman Sakura Indah, Kelurahan Sukahaji, Kecamatan Babakan Ciparay, Kota Bandung, terancam kehilangan pasokan air bersih. Ancaman itu muncul setelah pihak pengembang berencana memutus suplai air pada 15 Oktober 2025 mendatang.

Kabar pemutusan pasokan yang disampaikan lewat surat resmi tersebut sontak membuat warga resah. Pasalnya, hingga kini komplek itu belum terhubung ke jaringan PDAM Tirtawening, dan seluruh kebutuhan air masih bergantung pada sistem internal milik pengembang.

“Kami tidak punya alternatif lain. Kalau air diputus, 150 rumah akan kesulitan.Kami bersyukur laporan kami langsung direspons cepat oleh Pak Wakil Wali Kota,” ujar Irfan, salah satu perwakilan warga, Sabtu (11/10/2025).

Mengetahui hal ini, Wakil Wali Kota Bandung Erwin bergerak cepat. Ia turun langsung meninjau lokasi pada Sabtu (11/10/2025) bersama unsur kewilayahan, perwakilan PDAM Tirtawening, serta Dinas Perumahan, Kawasan Permukiman, Pertanahan dan Pertamanan (DPKP).

Erwin menegaskan, Pemkot Bandung tidak akan membiarkan warga kekurangan air bersih. “Kami sudah siapkan dua langkah konkret,” ujarnya.

Kedua langkah itu, pertama PDAM Tirtawening akan menyalurkan 20 tangki air bersih per hari jika pasokan dari pengembang benar-benar dihentikan pada 15 Oktober.

Kedua, DPKP akan menindaklanjuti rencana pengeboran sumur air tanah dengan memanfaatkan lahan fasilitas umum (fasum) dan fasilitas sosial (fasos) di kawasan tersebut.

“Penyaluran air dilakukan langsung ke blok-blok terdampak, dan kami pastikan pembagiannya tertib serta merata,” jelas Erwin.

Menurut Erwin, langkah tangki air ini bersifat tanggap darurat sambil menunggu penyelesaian administratif antara pengembang dan pemerintah. Sementara itu, solusi jangka panjang berupa pembangunan sumur bor akan memastikan warga memiliki sumber air mandiri.

“Kami akan meninjau lokasi fasum atau fasos yang memungkinkan untuk pengeboran. Ini solusi permanen agar warga tak lagi bergantung pada sistem air pengembang,” tuturnya.

Erwin menegaskan bahwa kehadiran pemerintah adalah bentuk perlindungan atas hak dasar warga terhadap air bersih.
“Kami tidak menunggu sampai air benar-benar berhenti. Pemerintah hadir lebih dulu untuk memastikan 150 rumah tetap mendapat pasokan air. Ini soal hajat hidup orang banyak,” tegasnya.

Ia juga mengimbau warga untuk tetap tenang dan menghindari aksi provokatif. “Masalah ini harus diselesaikan lewat dialog yang difasilitasi pemerintah, bukan konfrontasi. Kami ingin semua pihak tetap kondusif,” pungkas Erwin.*

 

 

Pos terkait