Massa FPN Demo di Kedubes AS, Kecam Agresi ke Venezuela

Massa yang tergabung dalam Free Palestine Network (FPN) menggelar aksi solidaritas untuk Venezuela di depan Kedutaan Besar Amerika Serikat (AS), Jalan Medan Merdeka Selatan, Jakarta Pusat, Selasa (6/1/2025).(Dok.FPN).**

SATUMEDIA.ID – Massa yang tergabung dalam Free Palestine Network (FPN) menggelar aksi solidaritas untuk Venezuela di depan Kedutaan Besar Amerika Serikat (AS), Jalan Medan Merdeka Selatan, Jakarta Pusat, Selasa (6/1/2025).

Dalam aksi tersebut, massa membentangkan dua spanduk besar. Spanduk pertama bertuliskan, “Solidaritas untuk Venezuela, Dunia Harus Hentikan Agresi Amerika Serikat (AS)”. Sementara spanduk lainnya berbunyi, “Agresi Militer ke Venezuela, Bukti Amerika Serikat (AS) adalah Induk Terorisme”.

Sekretaris Jenderal FPN, Furqan AMC, dalam orasinya dari atas mobil komando menyatakan bahwa apa yang terjadi di Venezuela tidak dapat dipandang sebagai peristiwa yang berdiri sendiri. Menurut dia, situasi tersebut merupakan bagian dari pola penindasan yang sama seperti yang dialami rakyat Palestina.

“Venezuela dan Palestina sama-sama menjadi korban imperialisme. Delapan puluh persen senjata yang digunakan Israel untuk menggenosida rakyat Palestina berasal dari Amerika Serikat,” ujar Furqan.

Ia menilai, kepentingan Amerika Serikat terhadap Venezuela tidak lepas dari faktor ekonomi, terutama sumber daya minyak. Furqan menyebut cadangan minyak Venezuela sebagai yang terbesar di dunia dan menjadi target kepentingan AS.

“Di saat yang sama, AS membutuhkan sumber daya minyak untuk menopang ekonominya. Karena itu, tanpa malu Donald Trump mengungkap motif menyerbu Caracas dan menculik Presiden Nicolas Maduro beserta istrinya demi menguasai minyak Venezuela,” kata dia.

Furqan juga menekankan bahwa Venezuela selama ini dikenal sebagai salah satu negara yang konsisten mendukung perjuangan rakyat Palestina.

“Maduro dan rakyat Venezuela adalah pendukung setia perjuangan Palestina,” ucapnya.

Lebih lanjut, Furqan menyebut agresi Amerika Serikat terhadap Venezuela sebagai bukti nyata brutalitas kebijakan imperialisme AS yang berupaya menundukkan negara lain dan menjarah sumber daya alamnya.

“Jejak kekerasan AS bisa ditemukan di berbagai negara seperti Chile, Guatemala, Kongo, Libya, Irak, Suriah, Yaman, dan Palestina. Pasca Perang Dunia II, AS terlibat langsung atau tidak langsung dalam lebih dari 70 upaya perubahan rezim di berbagai negara,” ujarnya.

Dalam orasinya, Furqan juga menyerukan penguatan front antiimperialisme di berbagai tingkatan, baik nasional, regional, maupun internasional.

“Solidaritas bangsa-bangsa yang pernah dijajah dan ditindas harus dibangun. Solidaritas Selatan-Selatan, solidaritas Asia, Afrika, dan Amerika Latin harus diperkuat. Indonesia punya modal sejarah karena pernah mempeloporinya pada Konferensi Asia Afrika 1955,” tegasnya.

Ia menambahkan, aksi solidaritas untuk Venezuela tidak hanya berlangsung di Jakarta. FPN menggelar aksi serentak di sejumlah daerah seperti Bandung, Makassar, Solo, Kendari, Tarakan, dan Majene, serta kota-kota lainnya di Indonesia.

“Aksi ini adalah bagian dari mata rantai perlawanan yang sama dengan perjuangan kaum buruh, petani, mahasiswa, dan pelajar yang bersolidaritas untuk Venezuela,” kata Furqan.*

Pos terkait