SATUMEDIA.ID – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bandung Barat memperkirakan kebutuhan anggaran perbaikan Bendungan atau Irigasi Martasinga yang jebol di Kampung Cicadas, Desa Bunijaya, Kecamatan Gununghalu, mencapai lebih dari Rp 1 miliar.
Pelaksana tugas (Plt) Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Tata Ruang (PUTR) KBB, Aan Sopian, mengatakan estimasi tersebut masih bersifat sementara dan menunggu hasil kajian teknis dari tim konsultan yang telah diterjunkan ke lokasi.
“Perkiraan sementara di atas Rp 1 miliar. Kami masih menunggu laporan resmi dari tim konsultan untuk memastikan kebutuhan anggaran secara detail,” ujar Aan, Senin (2/2/2026).
Menurut Aan, begitu menerima laporan jebolnya bendungan, pihaknya langsung melakukan pengecekan lapangan guna menilai tingkat kerusakan. Namun, ia mengakui perbaikan permanen akan sulit dibiayai melalui APBD murni 2026 karena anggaran tahun berjalan telah disahkan.
“Untuk perbaikan permanen kemungkinan besar akan diusulkan melalui Perubahan APBD 2026 atau menggunakan skema anggaran parsial,” kata dia.
Aan menambahkan, sempat muncul wacana penanganan sementara melalui mekanisme penunjukan langsung. Namun, berdasarkan arahan Bidang Sumber Daya Air (SDA), langkah tersebut dinilai tidak efektif.
“Penanganan sementara dikhawatirkan tidak menyelesaikan masalah. Rekomendasinya adalah perbaikan total secara permanen,” ujarnya.
Sebelumnya diberitakan, Bendungan Martasinga jebol setelah wilayah tersebut diguyur hujan deras selama sepekan. Kerusakan bendungan mengancam pasokan air bagi lahan pertanian dan kolam ikan milik warga.
Kepala Desa Bunijaya, Jamil Ihsan Faruk, mengatakan bendungan jebol pada Kamis (15/1/2026) malam akibat meningkatnya debit Sungai Cidadap yang tidak mampu ditahan oleh konstruksi bendungan.
“Debit Sungai Cidadap naik signifikan karena hujan deras. Konstruksi bendungan tidak kuat menahan aliran air sehingga akhirnya jebol,” ujar Jamil, Minggu (18/1/2026).
Ia menjelaskan, Bendungan Martasinga selama ini menjadi sumber utama pengairan bagi sektor pertanian dan perikanan warga. Akibat kerusakan tersebut, aliran air ke sawah dan kolam ikan terputus.
Sekitar 80 hektare sawah di tiga dusun kini terancam kekeringan apabila perbaikan tidak segera dilakukan. Kondisi ini dikhawatirkan berdampak langsung pada pendapatan warga sekaligus ketahanan pangan desa.
“Kalau tidak segera diperbaiki, persawahan dan kolam ikan warga bisa kekeringan. Dampaknya cukup besar bagi mata pencaharian masyarakat,” kata Jamil.
Upaya perbaikan secara swadaya pun belum memungkinkan karena tingkat kerusakan bendungan tergolong berat. Selain itu, cuaca ekstrem yang masih berlangsung membuat warga khawatir akan terjadinya luapan sungai susulan.
“Kerusakannya cukup panjang dan berat. Hujan juga masih sering turun, jadi warga masih waswas,” ujarnya.*





