SATUMEDIA.ID – Pemerintah Kota Bandung tengah melakukan kajian penataan nama taman-taman kota dengan menekankan aspek sejarah dan budaya. Upaya ini dilakukan agar penamaan ruang publik tidak memutus jejak memori kolektif warga yang telah terbentuk selama bertahun-tahun.
Wali Kota Bandung Muhammad Farhan mengatakan, penataan toponimi taman kota dilakukan secara kolaboratif dan tidak bersifat sepihak. Sejumlah dokumen awal telah diserahkan kepada para budayawan untuk ditelusuri lebih dalam, dengan dukungan arsip dan dokumentasi dari Dinas Arsip dan Perpustakaan (Disarpus).
“Budayawan sekarang sedang mendalami, ditambah dengan dokumen-dokumen dari Disarpus. Nantinya akan kita sesuaikan berdasarkan hasil kajian tersebut,” kata Farhan dalam keterangannya dikutip Minggu (1/2/2026).
Dalam kajian tersebut, satu taman dimungkinkan memiliki lebih dari satu nama. Nama yang selama ini digunakan masyarakat tidak akan dihapus, melainkan dipertahankan sebagai alias dengan penambahan nama berdasarkan temuan historis.
“Nama lama tetap dipakai, tapi bisa ditambah. Jadi bukan mengganti secara total,” ujarnya.
Farhan menyebutkan, perbedaan penamaan taman yang hidup di masyarakat justru menjadi bagian penting dari kajian. Hal itu mencerminkan perjalanan sejarah serta kebiasaan warga Bandung dari masa ke masa.
“Perbedaan nama itu ada ceritanya. Dokumen-dokumen seperti itu sedang kita kumpulkan,” ucapnya.
Terkait anggaran, Farhan memastikan kajian penataan nama taman kota tidak memerlukan biaya besar karena masuk dalam anggaran rutin pemerintah daerah dan dilakukan lintas perangkat daerah.
“Anggarannya rutin, tidak besar,” tegasnya.
Ia menambahkan, proses kajian melibatkan Disarpus serta Dinas Kebudayaan dan Pariwisata, dan akan melalui uji akademis sebelum ditetapkan. Tahapan tersebut diharapkan dapat membuka ruang diskusi publik.
“Kajian ini harus diuji secara akademis. Dari situ biasanya muncul diskursus yang menarik,” kata Farhan.
Pemkot Bandung menargetkan kajian penataan nama taman kota tersebut rampung pada Maret mendatang. Farhan berharap hasil kajian dapat memperkuat identitas ruang publik Bandung tanpa mengabaikan sejarah yang telah hidup di tengah masyarakat.*





