Kata Tokoh Pemekaran: KBB Berusia 17 Tahun Bukan Tambah Maju Malah Mengalami Kemunduran

Ketua P4KBB Yacob Anwar Lewi.(Dicky Mawardi/Satumedia)**

SATUMEDIA.ID – Bertambahnya usia mestinya semakin matang. Dalam fase kehidupan manusia usia 17 tahun merupakan usia transisi dari remaja menuju dewasa.

Begitupun dengan Kabupaten Bandung Barat (KBB) yang pada 19 Juni 2024 genap berusia 17 tahun mestinya semakin bertambah maju dan berkembang.

Pernyataan itu disampaikan Ketua Paguyuban Pejuang Peduli Pembangunan Kabupaten Bandung Barat (P4KBB) Yacob Anwar Lewi pada acara syukuran Hari Jadi ke-3 P4KBB sekaligus Hari Jadi ke-17 Pemerintahan KBB di Sekretariat P4KBB, Jalan Cibatu Desa Cilame Kecamatan Ngamprah, Kamis (13/6/2024).

“Namun apa yang terjadi dengan KBB tepat di usia 17 dihadapkan pada berbagai persoalan. Mulai dari hutang yang mencapai ratusan miliar kepada pengusaha, pembangunan mengalami stagnan, hingga Arsan Latif yang dicopot dari jabatannya sebagai Pj Bupati Bandung Barat karena menjadi tersangka untuk kasus sebelum dirinya menjadi pemimpin di Bandung Barat,” tutur Yacob Anwar Lewi.

Menurutnya, kemunduran KBB ini menjadi keprihatinan bagi masyarakat. Dimana berbagai program pemerintahan, seperti pembangunan fisik berupa fasilitas umum seperti jalan, irigasi, dan lainnya nyaris tak ada kegiatan

“Gedung DPRD KBB saja tak kunjung dibereskan. Malah muncul beban hutang yang luar biasa. Maka dari itu, kami para tokoh pejuang pemekaran yang tergabung dalam P4KBB merasa memiliki tanggung jawab moral. Bagaimana pun juga, harapan perjuangan dulu melahirkan sebuah pemerintahan daerah yang benar-benar memiliki program yang berpihak kepada masyarakat,” tandasnya.

Ia membandingkan ketika awal KBB berdiri hanya dengan APBD sebesar Rp800 miliar kondisi keuangan pemerintah relatif sehat. Tapi sekarang dengan APBD sebesar Rp3,2 triliun malah mengalami kemunduran.

“Jadi kata apa yang tepat, selain kemunduran jika membandingkan saat awal KBB berdiri dengan saat ini. Mestinya sekarang jauh lebih maju, rakyat lebih sejahtera. Bukan sebaliknya, penduduk miskin Bandung Barat malah terus bertambah,” kata Yacob.

Ia menyebut, birokrasi dan DPRD harus bertanggungjawab atas carut marutnya yang terjadi sekarang ini. Partai politik yang mengusung calon kepala daerah juga harus lebih selektif jangan melulu bicara uang.

“Partai politik jangan memilih calon kepala daerah hanya dari isi tas semata (uang), tapi benar-benar calon kepala daerah yang bersih, jujur, pekerja keras, dan profesional. Kalau calon pemimpin yang dipilihnya hanya semata uang, itu sama juga melahirkan seorang pimpinan yang korup. Karena, ketika menjabat pasti akan dipikirkannya adalah bagaimana caranya mengembalikan uang yang habis untuk Pilkada, bukan lagi mewujudkan program kerja,” ujarnya.*

Yacob menegaskan, saat ini dan ke depan KBB tidak membutuhkan seorang pemimpin yang penuh dengan pencitraan. Tapi seseorang yang bisa membawa KBB ke arah yang lebih baik.

“Pencitraan itu hanya kamuflase. Jadi KBB tak butuh pemimpin seperti itu. Mudah-mudahan hasil Pilkada 2024 akan mampu melahirkan seorang pemimpin yang benar-benar membawa KBB yang maju dan berkeadilan,” harapnya.*

Pos terkait