Pemkab Bandung Barat Terbitkan Surat Edaran Peningkatan Kewaspadaan Bencana Alam Sektor Pariwisata

Curug Malela yang berada di Kecamatan Rongga menjadi salah satu destinasi wisata unggulan./Instagram Disparbud KBB

SATUMEDIA – Cuaca ekstrem yang menimpa sejumlah wilayah di Kabupaten Bandung Barat (KBB) akhir-akhir ini, memicu terjadinya bencana hidrometeorologi seperti angin kencang, banjir bandang hingga longsor.

Ancaman bencana hidrometeorologi tidak hanya terjadi di wilayah selatan, tapi juga di hampir di seluruh KBB. Termasuk di Kawasan Bandung Utara (KBU) yang merupakan surganya wisata alam KBB.

Mencegah jatuhnya korban jiwa dan meminimalisir kerugian materi lebih besar,
Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bandung Barat menertibkan surat edaran peningkatan kewaspadaan bencana alam di sektor pariwisata KBB.

Surat edaran bernomor : 500.13 / 880 / Disparbud tertanggal 27 Maret 2024 tersebut ditandangani oleh Penjabat Bupati Bandung Barat Arsan Latif. Ditujukan kepada pengusaha destinasi wisata serta pengusaha hotel dan restoran di Bandung Barat.

“Surat edaran ini sebagai pemberitahuan atau imbauan kepada masyarakat dan khususnya para pelaku usaha industri pariwisata di wilayah Kabupaten Bandung Barat, mengingat kondisi cuaca saat ini sedang rawan bencana alam,” kata Pj Bupati Bandung Barat Arsan Latif dalam surat edaran tersebut.

Sebagai bentuk kewaspadaan terhadap krisis rawan bencana pada musim penghujan, Arsan Latif meminta kepada wisatawan yang mengisi liburan di Bandung Barat untuk meningkatkan kewaspadaan dan berhati-hati dalam menjalani aktivitas pariwisata di musim hujan.

“Dan bagi para pelaku usaha industri pariwisata untuk dapat memantau, mengamankan dan menertibkan situasi di wilayah usahanya masing-masing,” sebut Arsan Latif.

Masih dalam surat edaran tersebut, pelaku industri pariwisata agar dapat menyiapkan fasilitas dalam menanggulangi krisis bencana alam, seperti jalur evakuasi, titik kumpul.kotak P3K, dan sebagainya.

Menurutnya, pelaku wisata juga harus  bersiap,  baik secara teknis maupun non teknis dalam menghadapi krisis terutama dalam mitigasi kebencanaan. Hal itu agar  kepariwisataan di wilayah  Bandung Barat bisa berjalan dengan baik.

“Dengan selalu memberikan pelayanan yang terbaik agar wisatawan bisa berwisata dengan jaminan kenyamanan dan rasa aman. Sehingga proses recalling di sektor pariwisata bisa terwujud,” ujarnya.

Sementara itu, dalam rangka mengantisipasi kemacetan pada Hari Raya Idul Fitri 1445 H Tahun 2024, pelaku usaha industri pariwisata diimbau ikut serta dalam penertiban dan pengaturan jalan protokol pada lokasinya masing – masing di mulai dari H-7 sampai dengan H+7 Hari Raya Idul Fitri 1445 H.

Berdasarkan data dari Disparbud KBB kondisi eksisting industri pariwisata KBB terdapat 9 hotel bintang, sementara hotel non bintang/vila/ guest house/ penginapan jumlahnya mencapai 333, restoran dan rumah makan 468, dan biro perjalanan wisata sebanyak 25.

Sektor pariwisata juga berkontribusi besar terhadap pendapatan asli daerah (PAD). Pada tahun 2023, dari pajak hotel menyumbang Rp 25 miliar lebih, pajak restoran Rp 56 miliar, dan pajak hiburan Rp 5 miliar lebih.(Diskominfotik KBB)**

 

Pos terkait