SATUMEDIA.ID – Insiden robohnya plafon di dua ruang kelas SMKN 1 Soreang, Kabupaten Bandung diselidiki aparat kepolisian. Bangunan yang masih tergolong baru itu ambruk saat kegiatan belajar mengajar (KBM) berlangsung, Senin (27/4/2026) sore.
Kapolresta Bandung, Kombes Pol Aldi Subartono, mengatakan pihaknya kini tengah mendalami penyebab pasti kejadian tersebut. Garis polisi telah dipasang di lokasi untuk kepentingan penyelidikan.
“Ini bangunan baru yang diserahterimakan pada Desember lalu dari KCD Wilayah VIII. Karena sudah menimbulkan korban, tentu harus didalami apakah ada faktor kelalaian atau masalah dalam konstruksi,” ujar Aldi.
Aldi menegaskan, penggunaan ruang kelas lain di bangunan tersebut untuk sementara harus dihentikan hingga pemeriksaan menyeluruh selesai dilakukan. Langkah ini dinilai penting guna mencegah risiko kejadian serupa.
“Kami sarankan kelas lain tidak dipakai dulu. Harus dicek kualitas bangunannya secara menyeluruh. Jangan sampai terjadi hal yang lebih fatal,” katanya.
Peristiwa terjadi sekitar pukul 15.00 WIB, saat hujan deras disertai angin kencang melanda kawasan Soreang. Dua ruang kelas dari total enam ruang baru dilaporkan ambruk hampir bersamaan, ketika puluhan siswa masih berada di dalam ruangan.
Kepala sekolah Hendi Hadiansah mengungkapkan, tidak ada tanda-tanda kerusakan sebelum kejadian. Kondisi bangunan disebut terlihat normal hingga cuaca ekstrem datang secara tiba-tiba.
“Kalau sebelum hujan itu normal. Memang tadi hujan dan angin cukup kencang, bahkan seperti ada puting beliung di lapangan,” ujarnya.
Ia menduga, struktur atap tidak mampu menahan tekanan angin kencang. Namun, pihak sekolah tidak memiliki kewenangan untuk memeriksa detail teknis konstruksi bangunan.
“Dari luar terlihat kokoh, tapi kami tidak bisa memeriksa sampai ke dalam struktur atapnya,” kata Hendi.
Saat kejadian, sekitar 50 siswa tengah mengikuti KBM. Kepanikan pun tak terhindarkan ketika plafon mendadak runtuh. Sejumlah siswa berlarian keluar untuk menyelamatkan diri dari material yang berjatuhan.
Lima siswa dilaporkan mengalami luka ringan. Sebagian mengalami benturan di kepala, sementara lainnya terluka saat berupaya keluar dari reruntuhan. Beberapa siswa juga mengalami syok akibat kejadian tersebut.
Para korban langsung mendapat penanganan dari unit kesehatan sekolah. Polisi memastikan kondisi mereka relatif baik dan turut membantu mengantar siswa pulang menggunakan kendaraan dinas.
Meski tidak menimbulkan korban jiwa, insiden ini memicu sorotan terhadap kualitas pembangunan fasilitas pendidikan, terutama proyek yang baru rampung dalam waktu singkat. Penyelidikan masih berlangsung untuk memastikan ada tidaknya unsur kelalaian dalam proses pembangunan.*





