SATUMEDIA.ID – Bupati Bandung Dadang Supriatna mengingatkan tenaga kesehatan untuk menjaga profesionalisme dan etika, termasuk ketika menggunakan media sosial.
Dadang menilai, di era digital, perilaku tenaga kesehatan tidak hanya menjadi perhatian ketika memberikan pelayanan di fasilitas kesehatan. Aktivitas di media sosial pun dapat memengaruhi kepercayaan masyarakat terhadap profesi dan institusi tempat mereka bekerja.
Pesan tersebut disampaikan Dadang saat membuka Webinar Peningkatan Kapasitas/Akademi SDM Kesehatan BEDAS Seri 1 Tahun 2026 secara virtual dari Kantor Bupati Bandung, Soreang, Senin (31/8/2026).
Webinar dengan tema “Kelola Emosi, Bangun Komunikasi Empatik” itu diikuti sekitar 1.000 SDM kesehatan di Kabupaten Bandung. Shahnaz Hague hadir sebagai narasumber.
Dadang mengatakan, tenaga kesehatan memiliki tanggung jawab untuk menunjukkan sikap profesional, baik saat berhadapan langsung dengan pasien maupun ketika beraktivitas di ruang digital.
“Setiap perkataan dan tindakan di media sosial dapat dilihat dan dinilai masyarakat. Karena itu, saya meminta seluruh tenaga kesehatan tetap menjaga etika dan menunjukkan perilaku yang mencerminkan profesionalisme,” kata Dadang yang akrab dipanggil KDS.
Menurut dia, kemampuan mengelola emosi juga menjadi aspek penting dalam memberikan pelayanan. Pasien yang datang ke fasilitas kesehatan tidak selalu berada dalam kondisi psikologis yang baik.
Ada pasien yang merasa takut, cemas, hingga tertekan karena penyakit yang dideritanya. Kondisi tersebut membutuhkan respons tenaga kesehatan yang sabar dan penuh empati.
“Ketika masyarakat datang untuk mendapatkan pelayanan, mereka membutuhkan bukan hanya penanganan medis, tetapi juga rasa aman dan nyaman. Cara kita berkomunikasi sangat menentukan pengalaman mereka selama mendapatkan pelayanan,” ujarnya.
KDS berharap peningkatan kapasitas SDM kesehatan tidak hanya meningkatkan kompetensi teknis, tetapi juga membentuk tenaga kesehatan yang memiliki kemampuan komunikasi, empati, serta integritas.
Ia menilai pelayanan kesehatan yang baik harus menempatkan masyarakat sebagai pihak yang perlu dihargai dan dilayani secara manusiawi.
“Ukuran pelayanan kesehatan yang berkualitas bukan hanya apakah pasien bisa disembuhkan. Yang tidak kalah penting adalah bagaimana mereka merasa dihargai, didengar, dan diperlakukan dengan empati,” tutur KDS.*





