TPA Sarimukti Diprediksi Penuh Akhir 2026, Bandung Raya Terancam Krisis Sampah

Sekretaris Daerah (Sekda) Provinsi Jawa Barat, Herman Suryatman saat memberikan keterangan kepada media usai peninjauan ke TPA Sarimukti, Minggu (9/3/2025).(Dicky Mawardi/Satumedia).**

SATUMEDIA.ID – Ancaman krisis sampah membayangi kawasan Bandung Raya seiring proyeksi Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) Sarimukti yang diperkirakan penuh pada akhir 2026. Padahal, volume sampah dari kawasan tersebut masih mencapai sekitar 5.000 ton per hari.

Pemerintah Provinsi Jawa Barat menyiapkan sejumlah langkah untuk mengantisipasi kondisi tersebut. Mulai dari menambah daya tampung TPA Sarimukti, mengolah sampah lama menjadi bahan bakar solar, hingga mengerahkan puluhan ribu mahasiswa untuk mengedukasi masyarakat.

Sekretaris Daerah Jawa Barat Herman Suryatman mengatakan, persoalan sampah Bandung Raya harus ditangani secara serius dan melibatkan seluruh elemen masyarakat.

Menurut dia, pemerintah tidak bisa hanya mengandalkan tempat pemrosesan akhir ketika produksi sampah terus berlangsung setiap hari.

“Semua pihak harus bergerak bersama. Kita perlu melakukan penanganan dari sumber sampah hingga tempat pemrosesan akhir agar tidak terjadi penumpukan yang berujung pada krisis,” ujar Herman dikutip dari laman Humas Pemprov Jabar, Jumat (9/10/2026).

Mewakili Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi, Herman mengungkapkan, salah satu upaya mendesak yang dilakukan adalah mengoptimalkan Zona 5 TPA Sarimukti.

Pemprov Jabar bersama sejumlah organisasi perangkat daerah (OPD) dan ahli dari Institut Teknologi Bandung (ITB) telah melakukan peninjauan lapangan untuk mengkaji kemungkinan penambahan kapasitas tampung.

Optimalisasi dilakukan melalui rekayasa teknis dan pemadatan sampah hingga Desember 2026. Pelaksanaannya tetap mempertimbangkan kondisi kawasan, termasuk potensi bahaya gas metana.

Hasil kajian ITB akan menjadi dasar untuk menentukan besaran tambahan kapasitas dan berapa lama masa operasional Sarimukti dapat diperpanjang.

Selain itu, Pemprov Jabar merencanakan pembangunan gravity wall di sisi selatan dan timur TPA untuk mendukung optimalisasi area tersebut.

Seribu Ton Sampah Lama Ditargetkan Jadi Solar

Di luar upaya memperpanjang usia TPA, Pemprov Jabar menyiapkan solusi jangka menengah melalui pengolahan sampah lama menggunakan teknologi pirolisis.

Instalasi pengolahan itu ditargetkan mulai dipasang pada akhir 2026 dan beroperasi pada 2027. Kapasitas yang direncanakan mencapai 1.000 ton sampah lama per hari untuk diolah menjadi bahan bakar solar.

Herman menjelaskan, program tersebut melibatkan kerja sama yang difasilitasi pemerintah bersama TNI Angkatan Darat dan mitra terkait.

Pemprov Jabar akan mendukung pelaksanaan proyek melalui fasilitasi perizinan, akses jalan, dan kebutuhan pendukung lainnya.

Selain pirolisis, pemerintah daerah juga menjajaki teknologi Refuse Derived Fuel (RDF), yaitu pengolahan sampah menjadi bahan bakar alternatif.

Meski demikian, penerapan RDF masih memerlukan kepastian pihak yang akan menyerap hasil produksi atau off-taker, serta kesiapan teknis dan sumber daya manusia.

Berbagai teknologi tersebut diharapkan dapat mengurangi beban TPA Sarimukti yang selama ini menjadi tumpuan penanganan sampah di kawasan Bandung Raya.

Herman menilai, penambahan kapasitas dan teknologi pengolahan tidak akan menjadi solusi jangka panjang jika masyarakat belum mengubah kebiasaan dalam mengelola sampah.

Karena itu, Pemprov Jabar menyiapkan program pendampingan masyarakat dengan melibatkan 25.000 mahasiswa selama tiga bulan mulai Oktober 2026.

Mahasiswa akan diterjunkan untuk mengedukasi warga mengenai pengurangan sampah, pemilahan, pemanfaatan kembali, hingga pengolahan sampah sejak dari sumbernya.

Sasarannya mencakup rumah tangga, rumah makan, hotel, perkantoran, dan berbagai aktivitas masyarakat lainnya di Bandung Raya.

Dalam program ini, mahasiswa akan memperoleh konversi kegiatan setara 10 SKS serta dibekali modul dan perangkat digital sebagai panduan pendampingan.

Program tersebut diharapkan mendorong keterlibatan masyarakat secara langsung, sehingga pengelolaan sampah tidak sepenuhnya bergantung pada pemerintah dan TPA.

Pemprov Jabar juga berencana melibatkan TNI, Pramuka, perguruan tinggi, dan berbagai unsur masyarakat untuk memperluas gerakan pengurangan sampah.

Melalui kombinasi penanganan dari hulu dan hilir, Pemprov Jabar menargetkan TPA Sarimukti tetap dapat beroperasi hingga akhir 2029.

Setelah itu, TPPAS Legok Nangka diharapkan beroperasi penuh pada 2030 dengan menerapkan teknologi pengolahan sampah menjadi energi listrik atau waste to energy.*

Pos terkait