Pilkada KBB: Basis Suara Pasangan EDUN Jadi yang Terbesar

5 pasangan Balonbup di Pilkada KBB.(Istimewa).**

SATUMEDIA.ID – Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) Kabupaten Bandung Barat (KBB) sudah menyelesaikan tahapan pendaftarannya bakal pasangan calon (Bapaslon) Bupati dan Wakil Bupati yang berlangsung pada 27-29 Agustus 2024.

Tercatat ada 5 Bapaslon yang mendaftar ke KPU KBB. Ada 4 Bapaslon yang maju lewat partai politik yaitu Didik Agus Triwiyono – Gilang Dirga (DILAN), Jeje Richie Ismail – Asep Ismail, Edi Rusyandi – Unjang Asari (EDUN), Hengki Kurniawan – Ade Sudrajat (HADE). Satu-satunya Bapaslon perseorangan, Sundaya-Aa Maulana (Berdaya).

Ketua Pusat Kajian Politik Ekonomi dan Pembangunan (Puskapol Ekbang), Holid Nurjamil menilai Pilkada KBB menjadi kontestasi politik yang menarik. Dimana ada 5 Bapaslon, salah satunya dari jalur perseorangan, dan terjunnya tiga artis menjadi daya tarik sendiri.

“Dan tentunya yang paling menarik menakar kekuatan pasangan para calon kepala daerah di Pilkada Bandung Barat,” kata Holid, Jumat (30/8/2024).

Menurutnya, jika dikalkulasi berdasarkan dukungan partai politik hasil suara pada Pileg lalu, pasangan EDUN yang didukung oleh Partai Golkar, PKB dan PPP memiliki basis dukungan yang paling besar, yaitu di atas 300 ribu suara.

“Yang kedua pasangan Jeje – AIS yang didukung oleh Gerindra, PAN dan beberapa partai non parlemen memiliki basis dukungan suara di atas 260 ribu,” sebutnya.

Kemudian pasangan DILAN yang didukung oleh PKS dan Demokrat memiliki basis 256 ribu lebih. Sedangkan Pasangan HADE yang didukung oleh PDI Perjuangan, NasDem, dan beberapa partai non parlemen memiliki basis dukungan 200 ribu lebih.

Sementara Bapaslon Perseorangan Berdaya Sundaya-Aa Maulana mendapat 90.315 dukungan yang memenuhi syarat (MS).

Holid menyebut, pertanyaan yang menarik muncul setelah kalkulasi dukungan politik tersebut. Apakah hasil suara pada pileg akan linear dengan hasil perolehan suara nanti pada pilkada? Atau apakah suara dukungan KTP juga akan linear pada hasilnya nanti?

“Tentu jawabannya tidak, karena pada beberapa pilkada yg telah terjadi sebelumnya, bahwa faktor ketokohan dari figur calon bupati dan wakil Bupati itu yang paling menentukan. Jadi semakin tinggi popularitas, akan semakin besar peluang disukai dan menaikkan elektabilitas calon tersebut,” tuturnya.

Jadi, menurutnya, dukungan partai politik yang besar ketika tidak mampu di kapitalisasi menjadi sebuah dukungan suara, itu ibarat sewa kendaraan tanpa penumpang.

“Kalo kita baca beberapa lembaga survei, berdasarkan preferensi pemilih di KBB, alasan memilih pada calon karena kesamaan dukungan partai itu hanya 7 persen,” tandasnya.

Dengan gambaran tersebut, menunjukkan bahwa swing voter itu sangat tinggi. Apalagi kalau melihat demografi pemilih berdasarkan usia 17-40 tahun itu sekitar 53 persenm mereka adalah kelompok masyarakat yang melek teknologi, yang mayoritas dari swing voters adalah generasi milenial yang banyak mengakses internet, dan mengikuti perkembangan lebih dari satu paslon untuk menilai secara objektif.

Holid berpendapat dengan kekuatan dukungan partai politik yang hampir merata, semua pasang calon memiliki peluang yang sama untuk meraih suara terbanyak pada pencoblosan 27 November 2024 nanti.

“Walaupun berdasarkan hasil survei terakhir Hengki Kurniawan sebagai mantan Bupati Bandung Barat memiliki tingkat popularitas yang paling tinggi disusul Edi Rusyandi. Dengan waktu 3 bulan sejauh mana para calon bersama timsesnya, mengoptimalkan partai sebagai mesin politik, membangun jejaring relawan, merangkul para tokoh sebagai pendulang suara, melakukan sosialisasi atau kampanye yang efektif dan menyentuh langsung pemilih,” tuturnya.*

Pos terkait