Tingkat Toleransi Terhadap Politik Uang di KBB Diangka 60%, Holid: Ini Bentuk Ancaman Demokrasi yang Bisa Merubah Peta Kemenangan

Ilustrasi politik uang.(Pixabay).**

SATUMEDIA.ID – Ketua Pusat Kajian Politik Ekonomi dan Pembangunan, Holid Nurjamil mengatakan, toleransi terhadap politik uang atau money politics di Kabupaten Bandung Barat (KBB) termasuk tinggi, di angka 60%.

“Dengan tingginya tingkat toleransi terhadap money politics, ini menjadi ancaman demokrasi yang juga bisa merubah peta kemenangan di Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) KBB,” kata Holid, Minggu (6/10/2024).

Menurutnya, perubahan kepemimpinan nasional pasca pelantikan presiden dan pembentukan kabinet juga diprediksi akan berdampak pada perubahan konstelasi politik di daerah. Berkaitan kepentingan elit di nasional dan kepentingan politik di KBB.

“Dalam analisis SWOT untuk memenangkan Pilkada di KBB yang begitu luas, memiliki 165 desa dengan jumlah DPT diatas 1,35 juta. Tidak cukup hanya mengandalkan figur atau ketokohan calon saja, perlu didukung oleh kekuatan mesin politik yang kuat (tim pemenangan dan relawan) yang memiliki infrastruktur sampai tingkat grassroot. Karena merekalah sesungguhnya yang menggerakkan dan mengimplementasikan strategi politik pasangan calon,” ujarnya.

Berikutnya adalah memiliki dukungan sumber dana kampanye yang kuat. Jika didukung anggaran yang mumpuni maka pasangan calon tersebut akan dapat melaksanakan semua program kegiatannya yang dapat meningkatkan elektabilitasnya dengan cepat.

Lebih jauh dikatakannya, dalam politik demokrasi, seseorang dengan elektabilitas serta popularitas tinggi memiliki kesempatan lebih besar untuk menang. Seseorang atau pasangan calon dengan elektabilitas tinggi artinya tingkat keterpilihannya oleh masyarakat juga tinggi.

“Kondisi demikian tidak akan berguna jika ia tidak memiliki popularitas. Karenanya, ia juga memerlukan popularitas tinggi. Singkat kata, tingkat elektabilitas dan popularitas tinggi dari seseorang atau pasangan calon akan membuatnya dengan mudah memenangkan hati masyarakat dan dengannya pula memenangkan pilkada KBB,” tutur Holid.

Dikatakannya, semenjak dimulainya masa kampanye pada 25 September 2024, semua pasangan calon sudah mulai melakukan sosialisasi baik melalui pemasangan alat peraga kampanye (APK), blusukan dan lain sebagainya. Tujuannya supaya popularitas dan elektabilitasnya menjadi naik.

“Jika kita petakan semua calon yang diusung oleh koalisi partai politik masih memiliki kesempatan untuk memenangkan pilkada pada 27 November mendatang,” ucapnya.

Jika dilihat dari hasil survey, walaupun pasangan HADE (Hengki Kurniawan – Ade Sudrajat) memiliki tingkat elektabilitas tertinggi. Tapi 40 persen masih memungkinkan untuk berubah jika ada isu atau sesuatu mempengaruhinya.

“Begitu juga dengan yang belum menentukan pilihannya masih ada sekitar 16%. Jika dikonversikan secara keseluruhan masih sekitar 44% yang akan benar-benar menentukan pilihan seminggu menjelang pencoblosan,” papar Holid

“Dengan melihat data survey terakhir tingkat popularitas calon bupati masih bervariatif, Hengki Kurniawan sebagai calon petahana memiliki tingkat popularitas yang paling tinggi di atas 90%, sedangkan pasangannya Ade Sudrajat masih di bawah 5%. Kondisi ini menjadikan pasangan HADE memiliki tingkat elektabilitas yang paling tinggi,” sambungnya.

Dengan waktu tinggal 50 hari menjelang pencoblosan, sementara calon-calon lain tingkat popularitasnya masih di bawah 60%. Artinya harus menggunakan strategi politik ofensif (memasifkan sosialisasi).

“Mari kita lihat 50 hari ke;depan, dengan waktu yang mepet, apa saja yang akan dilakukan oleh masing-masing pasangan calon. Kalo kita mengibaratkan tujuannya ke jakarta dari Padalarang, Apa akan naik kereta cepat Whoosh dengan ongkosnya lebih mahal atau kereta Argo Parahyangan dengan ongkos lebih murah, atau naik mobil lewat tol Cipularang, karena dengan begitu akan terlihat siapa yang paling cepat mencapai tujuan,” tuturnya.*

 

Pos terkait